easter-japanese

Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang melakukan perjalanan di sepanjang jalan raya antara Madhurā dan Verañjā. Sejumlah perumah tangga laki-laki dan perempuan juga sedang melakukan perjalanan di jalan yang sama. Kemudian Sang Bhagavā meninggalkan jalan raya dan duduk di bawah sebatang pohon. Para perumah tangga laki-laki dan perempuan itu melihat Sang Bhagavā duduk di sana dan mendatangi Beliau, memberi hormat kepada Beliau, dan duduk di satu sisi. Kemudian Sang Bhagavā berkata kepada mereka:

“Para perumah tangga, ada empat cara hidup bersama ini. Apakah empat ini? Seorang malang hidup bersama dengan seorang malang;1 seorang malang hidup bersama dengan deva perempuan; deva hidup bersama dengan seorang malang; deva hidup bersama dengan deva perempuan.

(1) “Dan bagaimanakah, para perumah tangga, seorang malang hidup bersama dengan seorang malang? `[58] Di sini, sang suami adalah seorang yang membunuh, mengambil apa yang tidak diberikan, melakukan hubungan seksual yang salah, berbohong, dan menikmati minuman keras, anggur, dan minuman memabukkan, yang menjadi landasan bagi kelengahan; ia tidak bermoral, berkarakter buruk; ia berdiam di rumah dengan pikiran dikuasai oleh noda kekikiran; ia menghina dan mencela para petapa dan brahmana. Dan istrinya juga adalah seorang yang membunuh … ia menghina dan mencela para petapa dan brahmana. Adalah dengan cara ini seorang malang hidup bersama dengan seorang malang.

(2) “Dan bagaimanakah, para perumah tangga, seorang malang hidup bersama dengan deva perempuan? Di sini, sang suami adalah seorang yang membunuh … ia menghina dan mencela para petapa dan brahmana. Tetapi istrinya adalah seorang yang menghindari membunuh, menghindari mengambil apa yang tidak diberikan, menghindari hubungan seksual yang salah, menghindari berbohong, dan menghindari minuman keras, anggur, dan minuman memabukkan, yang menjadi landasan bagi kelengahan; ia bermoral dan berkarakter baik; ia berdiam di rumah dengan pikiran yang bebas dari noda kekikiran; ia tidak menghina dan tidak mencela para petapa dan brahmana. Adalah dengan cara ini seorang malang hidup bersama dengan deva perempuan.

(3) “Dan bagaimanakah, para perumah tangga, deva hidup bersama dengan seorang malang? Di sini, sang suami adalah seorang yang menghindari membunuh … ia tidak menghina dan tidak mencela para petapa dan brahmana. Tetapi istrinya adalah seorang yang membunuh … ia menghina dan mencela para petapa dan brahmana. Adalah dengan cara ini deva hidup bersama dengan seorang malang.

(4) “Dan bagaimanakah, para perumah tangga, deva hidup bersama dengan deva perempuan? Di sini, sang suami adalah seorang yang menghindari membunuh … ia tidak menghina dan tidak mencela para petapa dan brahmana. Dan istrinya juga adalah seorang yang menghindari membunuh … ia tidak menghina dan tidak mencela para petapa dan brahmana. Adalah dengan cara ini deva hidup bersama dengan deva perempuan. [59]

“Ini adalah keempat cara hidup bersama itu.”

Ketika keduanya tidak bermoral, kikir dan kasar, suami dan istri hidup bersama sebagai orang-orang malang.

Sang suami tidak bermoral, kikir dan kasar, tetapi istrinya bermoral, murah hati, dermawan. Ia adalah deva perempuan yang hidup bersama dengan suami malang.

Sang suami adalah bermoral, murah hati, dermawan, tetapi istrinya tidak bermoral, kikir dan kasar. Ia adalah seorang malang yang hidup bersama dengan suami deva.

Suami dan istri keduanya memiliki keyakinan, murah hati dan terkendali oleh diri sendiri, menjalani hidup mereka dengan kebaikan, saling menyapa satu sama lain dengan kata-kata yang menyenangkan.

Maka banyak manfaat mendatangi mereka dan mereka berdiam dengan nyaman. Musuh-musuh mereka menjadi kecewa ketika keduanya setara dalam moralitas.

Setelah mempraktikkan Dhamma di sini, dalam perilaku bermoral dan pelaksanaan yang sama, bergembira [setelah kematian] di alam deva, mereka bersukacita, menikmati kenikmatan-kenikmatan indria.


Catatan Kaki
  1. Chava, lit. mayat. Mp: “Orang demikian disebut mayat karena ia mati melalui kematian kualitas-kualitas bermoralnya.” ↩︎