easter-japanese

“Para bhikkhu, ada empat pengembangan konsentrasi ini. Apakah empat ini? (1) Ada pengembangan konsentrasi yang mengarah pada keberdiaman berbahagia dalam kehidupan ini.1 (2) Ada pengembangan konsentrasi yang mengarah pada perolehan pengetahuan dan penglihatan. (3) Ada pengembangan konsentrasi yang mengarah pada perhatian dan pemahaman jernih. (4) Ada pengembangan konsentrasi yang mengarah pada hancurnya noda-noda. [45]

(1) “Dan apakah, para bhikkhu, pengembangan konsentrasi yang mengarah pada keberdiaman berbahagia dalam kehidupan ini? Di sini, dengan terasing dari kenikmatan-kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna pertama, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan, yang disertai oleh pemikiran dan pemeriksaan. Dengan meredanya pemikiran dan pemeriksaan, ia masuk dan berdiam dalam jhāna ke dua, yang memiliki ketenangan internal dan keterpusatan pikiran, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul dari konsentrasi, tanpa pemikiran dan pemeriksaan. Dengan memudarnya sukacita, ia berdiam seimbang dan, penuh perhatian dan memahami dengan jernih, ia mengalami kenikmatan pada jasmani; ia masuk dan berdiam dalam jhāna ke tiga yang dinyatakan oleh para mulia: ‘Ia seimbang, penuh perhatian, seorang yang berdiam dengan bahagia.’ Dengan meninggalkan kenikmatan dan kesakitan, dan dengan pelenyapan sebelumnya atas kegembiraan dan kesedihan, ia masuk dan berdiam dalam jhāna ke empat, yang bukan menyakitkan juga bukan menyenangkan, dengan pemurnian perhatian melalui keseimbangan. Ini disebut pengembangan konsentrasi yang mengarah pada keberdiaman berbahagia dalam kehidupan ini.2

(2) “Dan apakah pengembangan konsentrasi yang mengarah pada perolehan pengetahuan dan penglihatan?3 Di sini, seorang bhikkhu memperhatikan persepsi cahaya; ia berfokus pada persepsi siang hari sebagai berikut: ‘Seperti pada siang hari, demikian pula malam hari; seperti pada malam hari, demikian pula siang hari.’4 Demikianlah, dengan pikiran terbuka dan tidak tertutup, ia mengembangkan pikiran yang penuh cahaya. Ini adalah pengembangan konsentrasi yang mengarah pada perolehan pengetahuan dan penglihatan.

(3) “Dan apakah pengembangan konsentrasi yang mengarah pada perhatian dan pemahaman jernih? Di sini, seorang bhikkhu mengetahui perasaan-perasaan pada saat munculnya, pada saat berlangsungnya, pada saat lenyapnya; ia mengetahui persepsi-persepsi pada saat munculnya, pada saat berlangsungnya, pada saat lenyapnya; ia mengetahui pemikiran-pemikiran pada saat munculnya, pada saat berlangsungnya, pada saat lenyapnya.5 Ini adalah pengembangan konsentrasi yang mengarah pada perhatian dan pemahaman jernih.

(4) “Dan apakah pengembangan konsentrasi yang mengarah pada hancurnya noda-noda? Di sini, seorang bhikkhu berdiam dengan merenungkan muncul dan lenyapnya dalam kelima kelompok unsur kehidupan yang tunduk pada kemelekatan: ‘Demikianlah bentuk, demikianlah asal mulanya, demikianlah lenyapnya; demikianlah perasaan … demikianlah persepsi … demikianlah aktivitas-aktivitas berkehendak … demikianlah kesadaran, demikianlah asal mulanya, demikianlah lenyapnya.’ Ini adalah pengembangan konsentrasi yang mengarah pada hancurnya noda-noda.

“Ini adalah keempat pengembangan konsentrasi. Dan adalah sehubungan dengan ini maka Aku mengatakan dalam Pārāyana, dalam ‘Pertanyaan Puṇṇaka’:

“Setelah memahami ketinggian dan kerendahan dunia, ia tidak terganggu oleh apa pun di dunia. [46] Damai, tanpa asap, tidak terganggu, tanpa keinginan, ia telah, Aku katakan, menyeberangi kelahiran dan penuaan.”6


Catatan Kaki
  1. Pāli menuliskan atthi bhikkhave samādhibhāvanā bhāvitā bahulīkatā diṭṭhadhammasukhavihārāya saṃvattati, lit., “ada, para bhikkhu, pengembangan konsentrasi yang, ketika dikembangkan dan dilatih, mengarah pada keberdiaman berbahagia dalam kehidupan ini.” Karena dalam Bahasa Inggris “ketika dikembangkan dan dilatih” akan menjadi pengulangan yang berlebihan, maka saya telah menghilangkannya agar lebih sesuai dengan gaya Bahasa Inggris yang wajar. Hal yang sama berlaku untuk masing-masing dari ketiga pengembangan konsentrasi lainnya. ↩︎

  2. Jelas bahwa ini merujuk pada pencapaian jhāna-jhāna apakah oleh seorang yang tidak menggunakannya untuk mengembangkan pandangan terang, atau oleh seorang Arahant, yang memasuki jhāna-jhāna hanya untuk berdiam dengan nyaman. Di tempat lain jhāna-jhāna dikatakan mengarah pada hancurnya noda-noda. Ce menuliskan vuccati pada bagian ini tetapi tidak dalam kalimat-kalimat paralel dari tiga bagian selanjutnya. Ee melakukan sebaliknya, menghilangkan vuccati di sini tetapi memasukkannya dalam ketiga bagian selanjutnya. Be menghilangkan vuccati dalam seluruh empat bagian. ↩︎

  3. Mp menjelaskan “pengetahuan dan penglihatan” dalam konteks ini sebagai mata dewa (dibbacakkhuñāṇadassanassa paṭilābhāya). Di tempat lain kata ini digunakan dengan makna pengetahuan pandangan terang atau bahkan pencerahan penuh. ↩︎

  4. Yathā divā tathā rattiṃ, yathā rattiṃ tathā divā. Mp: “Seperti halnya ia memperhatikan persepsi cahaya di siang hari, demikian pula ia memperhatikannya di malam hari; dan demikian pula sebaliknya.” ↩︎

  5. Mp: “Bagaimanakah perasaan-perasaan diketahui pada saat munculnya, dan seterusnya? Di sini, seorang bhikkhu memahami landasannya (vatthu, organ indria) dan objeknya (ārammaṇa). Dengan memahami landasan dan objeknya, ia mengetahui: ‘Demikianlah perasaan-perasaan itu telah muncul; demikianlah berlangsungnya; demikianlah lenyapnya.’ Metode yang sama berlaku pada persepsi-persepsi dan pikiran-pikiran.” ↩︎

  6. Sn 1048, juga dikutip pada 3:33. ↩︎