easter-japanese

Brahmana Udāyī mendatangi Sang Bhagavā … dan berkata kepada Beliau:

[Bagian prosa identik dengan 4:39.]

Ketika sebuah pengorbanan tepat waktu dan diperbolehkan, dipersiapkan dengan baik dan tanpa kekejaman, [44] para pengikut kehidupan spiritual yang terkendali oleh diri sendiri melakukan pengorbanan seperti ini.

Mereka di dunia ini yang telah menyingkap selubung,1 yang telah melampaui waktu dan alam tujuan,2 Para Buddha yang mahir dalam pengorbanan,3 memuji jenis pengorbanan ini.

Setelah mempersiapkan pemberian yang layak, apakah jenis biasa atau untuk peringatan bagi yang telah meninggal dunia, seseorang melakukan pengorbanan dengan pikiran yakin pada lahan yang subur, kepada para pengikut kehidupan spiritual.

Ketika apa yang telah diperoleh dengan benar dipersembahkan dengan benar, dikorbankan dengan benar, kepada mereka yang layak menerima persembahan, maka pengorbanan itu luas dan para dewata bergembira.

Orang bijaksana yang memiliki keyakinan, setelah memberi pengorbanan demikian dengan pikiran dermawan, akan terlahir kembali di alam bahagia, di [alam] tanpa kesengsaraan.


Catatan Kaki
  1. Tulisan dari kata yang rumit ini bervariasi di sana-sini dalam Nikāya-nikāya. Di sini, Ce menuliskan vivattacchaddā, Be vivaṭacchadā, Ee vivattacchadā. Ungkapan ini sering muncul dalam kalimat umum tentang dua perjalanan yang tersedia bagi seseorang yang memiliki tiga puluh dua tanda manusia luar biasa: jika ia menetap di rumah, maka ia akan menjadi raja pemutar-roda, tetapi jika ia meninggalkan keduniawian menuju kehidupan tanpa rumah, maka ia akan menjadi seorang Buddha yang tercerahkan sempurna, yang digambarkan sebagai “seorang di dunia yang vivaṭacchado” (variasi: vivaṭṭacchado, vivaṭṭacchaddo, vivattacchaddo). Baca misalnya DN 3.1.5, I 89,8-9; DN 14.1.31, II 16,8-9; DN 30.1.1, III 142,4; MN 91.5, II 134,28; Sn 106. Walaupun asal-usul kata ini dan makna pastinya agak problematik, namun komentar-komentar secara konsisten menganalisis dan menjelaskannya dengan cara yang sama. Karena Mp (pada sutta sekarang ini) tidak memberikan penjelasan, maka saya mengutip komentar Dīgha Nikāya, Sv I 250,34-251,3: “Vivaṭṭacchado: Di sini, setelah terlahir ke dunia ini, setelah menyingkap selubung di dunia ini (loke taṃ chadanaṃ vivaṭṭetvā), dalam kegelapan kekotoran yang tertutup oleh tujuh selubung (chadanehi): nafsu, kebencian, delusi, keangkuhan, pandangan, ketidak-tahuan, dan perbuatan buruk.”

    Komentar kanonis kuno, Cūlaniddesa, dengan mengomentari Sn 1147, mengatakan: “Vivaṭacchado: Ada lima selubung (chadanāni): ketagihan, pandangan, kekotoran, perbuatan buruk, ketidak-tahuan. Selubung-selubung itu telah disingkirkan (vivaṭāni) oleh Sang Buddha Yang Suci; selubung-selubung itu telah dihalau, dicabut, ditinggalkan, dilenyapkan, diusir, ditenangkan, dibakar oleh api pengetahuan sehingga tidak dapat muncul. Oleh karena itu Sang Buddha adalah seorang yang telah menyingkap selubung-selubung” (Nidd II 251,18-22; edisi VRI 204).

    Norman (1991: 71-76) mengusulkan bahwa ungkapan Pāli itu harus diturunkan dari bentuk BHS vighuṣṭaśabda dan dengan demikian bermakna “seorang yang namanya (atau kemasyhurannya) telah menyebar ke berbagai penjuru” atau “seorang dengan kemasyhuran luas.” Dalam karya belakangan (2006b: 228-29) ia mengubah posisinya, dengan menyebutkan: “walaupun saya benar dalam melihat hubungan antara kata-kata Pāli dan Skt, namun arah pengembangannya terbalik, dan harus merepresentasikan Sanskritisasi berlebihan dari vivattacchadda.” Pada Sn 372 dan di tempat lain ia menerjemahkan ini “dengan dusta dilenyapkan.”

    Para penerjemah Āgama dari China pasti telah bekerja dengan teks yang bertuliskan vighuṣṭaśabda atau beberapa variasi dengan makna yang sama. Dengan demikian sebuah paralel dari 4:40, SĀ^2^ 90 (pada T II 404c6) menuliskan 名聞極遠者, “yang namanya terdengar hingga sangat jauh.” Paralel dari DN 30, MĀ 59 (pada T I 493b7-8), menuliskan: 必得如來無所著等正覺名稱流布問聞十方 “Beliau pasti menjadi seorang Tathāgata, tidak melekat (=Arahant), tercerahkan sempurna, yang namanya menyebar dan terdengar di sepuluh penjuru.” MĀ 161, paralel dari MN 91, menuliskan yang sama pada T I 685b2-4. Walaupun berbagai dugaan dapat diusulkan sehubungan dengan ungkapan asli dan maknanya, karena sulitnya memecahkan pertanyaan ini melalui tradisi-tradisi tekstual Buddhis, maka jalan yang paling bijaksana yang memungkinkan bagi saya adalah menerjemahkan kata itu sesuai apa yang telah dilestarikan dan diinterpretasikan dalam tradisi Pāli. ↩︎

  2. Tulisan di sini agak bervariasi. Ce dan Be menuliskan vītivattā kulaṃ gatiṃ, “yang telah melampaui keluarga dan alam tujuan.” Ee menuliskan kata majemuk bahubbīhi, vītivattakālaṃgatī, dengan lebih banyak lagi variasi dalam catatan. Mp (Be) menuliskan kulaṃ gatiṃ dalam lema, tetapi Mp (Ce) menuliskan kālaṃ gatiṃ. Terjemahan saya mengikuti Ee. Perhatikan bahwa dalam 5:55, pada III 69,10, kālaṃ dan gatiṃ berdekatan persis, yang mendukung dugaan bahwa di sini juga kita seharusnya membaca kāla- / kālaṃ. ↩︎

  3. Saya bersama dengan Be membaca yaññassa kovidā, tidak seperti Ce dan Ee puññassa kovidā, “terampil dalam jasa.” Mp (Be) dan Mp (Ce) menunjukkan perbedaan yang sama dalam lema dan kemasan. Dua paralel China bersesuaian dengan Be. SĀ 90 (pada T II 23a11) menuliskan 佛於邪盛善, “Sang Buddha yang terampil dalam pengorbanan,” dan SĀ^2^ 90 (pada T II 404c8) 諸佛所稱善祀及祀之道, “ini adalah pengorbanan yang baik dan jalan pengorbanan yang dipuji oleh para Buddha.” ↩︎