easter-japanese

Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang melakukan perjalanan di jalan raya antara Ukkaṭṭha dan Setavya. Brahmana Doṇa juga sedang melakukan perjalanan di jalan raya antara ukkaṭṭha dan Setavya. Kemudian Brahmana Doṇa melihat roda-roda berjari-jari seribu pada jejak kaki Sang Bhagavā, dengan lingkar dan porosnya, lengkap dalam segala hal,1 dan berpikir: “Sungguh menakjubkan dan mengagumkan! Ini tidak mungkin jejak kaki manusia!” [38]

Kemudian Sang Bhagavā meninggalkan jalan raya dan duduk di bawah sebatang pohon, duduk bersila, menegakkan tubuhNya, dan menegakkan perhatian di depanNya. Dengan mengikuti jejak kaki Sang Bhagavā, Brahmana Doṇa melihat Sang Bhagavā duduk di bawah sebatang pohon – anggun, menginspirasi keyakinan, dengan indria-indria yang damai dan pikiran yang damai, seorang yang telah mencapai penjinakan dan ketenangan tertinggi, [bagaikan] seekor gajah jantan besar yang jinak dan terjaga dengan indria-indria terkendali. Kemudian ia mendatangi Sang Bhagavā dan berkata kepada Beliau:

(1) “Mungkinkah Engkau deva, Tuan?”2 “Aku tidak akan menjadi deva, Brahmana.”

(2) “Mungkinkah Engkau gandhabba, Tuan?”3 “Aku tidak akan menjadi gandhabba, Brahmana.”

(3) “Mungkinkah Engkau yakkha, Tuan?” “Aku tidak akan menjadi yakkha, Brahmana.”

(4) “Mungkinkah Engkau manusia, Tuan?” “Aku tidak akan menjadi manusia, Brahmana.”

“Ketika Engkau ditanya: ‘Mungkinkah Engkau deva, Tuan?’ Engkau menjawab: ‘Aku tidak akan menjadi deva, Brahmana.’ Ketika Engkau ditanya: ‘Mungkinkah Engkau gandhabba, Tuan?’ Engkau menjawab: ‘Aku tidak akan menjadi gandhabba, Brahmana.’ Ketika Engkau ditanya: ‘Mungkinkah Engkau yakkha, Tuan?’ Engkau menjawab: ‘Aku tidak akan menjadi yakkha, Brahmana.’ Ketika Engkau ditanya: ‘Mungkinkah Engkau manusia, Tuan?’ Engkau menjawab: ‘Aku tidak akan menjadi manusia, Brahmana.’ Kalau begitu, apakah Engkau, Tuan?”

(1) “Brahmana, Aku telah meninggalkan noda-noda itu yang karenanya Aku dapat menjadi deva; Aku telah memotongnya di akarnya, membuatnya seperti tunggul pohon palem, melenyapkannya sehingga tidak muncul lagi di masa depan. (2) Aku telah meninggalkan noda-noda itu yang karenanya Aku dapat menjadi gandhabba … (3) … dapat menjadi yakkha … (4) … dapat menjadi manusia; Aku telah memotongnya di akarnya, membuatnya seperti tunggul pohon palem, melenyapkannya sehingga tidak muncul lagi di masa depan. Seperti halnya bunga teratai biru, merah, atau putih, yang walaupun lahir di dalam air dan tumbuh di dalam air, namun meninggi keluar dari air dan berdiri [39] tidak dikotori oleh air, demikian pula, walaupun lahir di dunia dan tumbuh di dunia, namun Aku telah mengatasi dunia dan berdiam tidak dikotori oleh dunia. Ingatlah Aku, Brahmana, sebagai seorang Buddha.

“Aku telah menghancurkan noda-noda itu yang karenanya Aku dapat terlahir kembali menjadi deva atau gandhabba yang bepergian melalui angkasa; yang karenanya Aku dapat mencapai kondisi yakkha, atau kembali pada kondisi manusia:4 Aku telah menghalau dan memotong noda-noda ini.

“Bagaikan teratai putih yang indah tidak dikotori oleh air, Aku juga tidak dikotori oleh dunia: oleh karena itu, O Brahmana, Aku adalah seorang Buddha.”5


Catatan Kaki
  1. Ini adalah salah satu dari tiga puluh dua tanda manusia luar biasa, dikatakan sebagai konsekuensi karma karena hidup demi kebahagiaan banyak orang, menghalau ketakutan dan teror, memberikan perlindungan dan naungan selayaknya, dan menyediakan segala kebutuhan. Baca DN 30.1.7, III 147-49. ↩︎

  2. Mp menginterpretasikan percakapan pada kedua pihak sebagai merujuk pada masa depan: sang brahmana bertanya tentang kelahiran kembali Sang Buddha di masa depan dan Sang Buddha menjawab sehubungan dengan kelahiran kembali di masa depan. Akan tetapi, ketika saya membaca percakapan itu, ada terlihat suatu keterlibatan permainan kata yang halus. Sang brahmana menggunakan bentuk masa depan bhavissati sebagai cara sopan untuk bertanya tentang masa kini, yang saya terjemahkan “apakah engkau adalah?” (Bhavissanti digunakan di atas dalam cara ini, secara negatif, dalam kalimat, na vat’imāni manussabhūtassa padāni bhavissanti, “Ini tidak mungkin …”) Tetapi Sang Buddha menggunakan bentuk masa depan secara literal dan dengan demikian dalam setiap kasus menjawab, “Aku tidak akan menjadi” (na bhavissāmi), merujuk pada alam tujuanNya di masa depan. Dua paralel China, SĀ 101 (pada T II 28a19-28b17) dan EĀ 38.3 (pada T II 717c18-718a12), menerjemahkan keseluruhan percakapan ini sebagai berhubungan dengan masa sekarang. Sang brahmana bertanya kepada Sang Buddha apakah Beliau adalah (為) deva, nāga, dan seterusnya, manusia, atau bukan manusia, dan Sang Buddha hanya membantah (非) bahwa Beliau bukanlah salah satu dari itu. Tidak ada referensi pada masa depan. ↩︎

  3. Gandhabba adalah makhluk surgawi yang kadang-kadang digambarkan sebagai musisi para deva. Yakkha adalah makhluk ganas yang terkenal dengan sifat jahatnya. ↩︎

  4. Kata kerja abbaje di sini adalah bentuk optatif dari abbajati (Skt āvrajati). Baca DOP sv abbajati. ↩︎

  5. Mp: “Di akhir khotbah itu, sang brahmana mencapai tiga jalan dan buah dan, dalam 12.000 frasa, mengucapkan pujian yang disebut ‘Gelegar Doṇa.’ Ketika kegemparan hebat pecah setelah wafatnya Sang Buddha, ia menenangkannya dan membagikan relik-relik” (pada DN 16.6.25, II 166). ↩︎