easter-japanese

Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Rājagaha di Gunung Puncak Hering. Pada saat itu sejumlah para pengembara terkenal sedang menetap di taman para pengembara di tepi sungai Sappinī, yaitu, Annabhāra, Varadhara, Sakuludāyī si pengembara, dan para pengembara terkenal lainnya.

Kemudian, pada suatu malam, Sang Bhagavā keluar dari keterasingan dan pergi ke taman para pengembara di tepi sungai Sappinī. Beliau duduk di tempat yang telah dipersiapkan dan berkata kepada para pengembara itu: “Para Pengembara, ada empat faktor Dhamma ini, yang primitif, [30] telah ada sejak lama, tradisional, kuno, tidak palsu dan belum pernah dipalsukan, yang tidak sedang dipalsukan dan tidak akan dipalsukan, yang tidak disangkal oleh para petapa dan brahmana bijaksana. Apakah empat ini?

(1) “Tanpa-kerinduan adalah satu faktor Dhamma yang primitif, telah ada sejak lama, tradisional, kuno, tidak palsu dan belum pernah dipalsukan, yang tidak sedang dipalsukan dan tidak akan dipalsukan, yang tidak disangkal oleh para petapa dan brahmana bijaksana. (2) Niat baik adalah satu faktor Dhamma yang primitif, telah ada sejak lama … (3) Perhatian benar adalah satu faktor Dhamma yang primitif, telah ada sejak lama … (4) Konsentrasi Benar adalah satu faktor Dhamma yang primitif, telah ada sejak lama … yang tidak disangkal oleh para petapa dan brahmana bijaksana.

“Ini adalah keempat faktor Dhamma yang primitif itu, telah ada sejak lama, tradisional, kuno, tidak palsu dan belum pernah dipalsukan, yang tidak sedang dipalsukan dan tidak akan dipalsukan, yang tidak disangkal oleh para petapa dan brahmana bijaksana.

(1) “Jika, Para Pengembara, seseorang mengatakan: ‘Aku akan menolak faktor Dhamma tanpa-kerinduan ini dan menunjukkan seorang petapa atau brahmana [sejati] yang penuh kerinduan, secara mendalam berhasrat pada kenikmatan indria,’ Aku akan menjawabnya sebagai berikut: ‘Biarlah ia datang, berbicara, dan berbincang-bincang. Biarlah Aku melihat seberapa perkasanya ia!’ Sesungguhnya, adalah tidak mungkin baginya untuk menolak tanpa-kerinduan sebagai satu faktor Dhamma dan menunjukkan seorang petapa atau brahmana [sejati] yang penuh kerinduan, secara mendalam berhasrat pada kenikmatan indria.

(2) “Jika seseorang mengatakan: ‘Aku akan menolak faktor Dhamma niat baik ini dan menunjukkan seorang petapa atau brahmana [sejati] yang memiliki pikiran berniat buruk dan kehendak membenci,’ Aku akan menjawabnya sebagai berikut: ‘Biarlah ia datang, berbicara, dan berbincang-bincang. Biarlah Aku melihat seberapa perkasanya ia!’ Sesungguhnya, adalah tidak mungkin baginya untuk menolak niat baik sebagai satu faktor Dhamma dan menunjukkan seorang petapa atau brahmana [sejati] yang memiliki pikiran berniat buruk dan kehendak membenci.

(3) “Jika seseorang mengatakan: ‘Aku akan menolak faktor Dhamma perhatian benar ini dan menunjukkan seorang petapa atau brahmana [sejati] yang pikirannya kacau dan tanpa pemahaman jernih,’ Aku akan menjawabnya sebagai berikut: ‘Biarlah ia datang, berbicara, dan berbincang-bincang. Biarlah Aku melihat seberapa perkasanya ia!’ Sesungguhnya, adalah tidak mungkin baginya untuk menolak perhatian benar sebagai satu faktor Dhamma dan menunjukkan seorang petapa atau brahmana [sejati] yang pikirannya kacau dan tanpa pemahaman jernih.

(4) “Jika seseorang mengatakan: ‘Aku akan menolak faktor Dhamma konsentrasi benar ini dan menunjukkan seorang petapa atau brahmana [sejati] yang tidak terkonsentrasi, dengan pikiran mengembara,’ Aku akan menjawabnya sebagai berikut: ‘Biarlah ia datang, berbicara, [31] dan berbincang-bincang. Biarlah Aku melihat seberapa perkasanya ia!’ Sesungguhnya, adalah tidak mungkin baginya untuk menolak konsentrasi benar sebagai satu faktor Dhamma dan menunjukkan seorang petapa atau brahmana [sejati] yang tidak terkonsentrasi, dengan pikiran mengembara.

“Jika, Para Pengembara, seseorang menganggap bahwa keempat faktor Dhamma ini harus dicela dan disangkal, maka, dalam kehidupan ini, ia mengundang empat kritikan dan dasar bagi celaan.1 Apakah empat ini?

“‘Jika kalian mencela dan menyangkal faktor Dhamma tanpa-kerinduan ini, maka kalian pasti menganggap para petapa atau brahmana yang penuh kerinduan dan secara mendalam berhasrat pada kenikmatan indria sebagai layak disembah dan dipuji. Jika kalian mencela dan menyangkal faktor Dhamma niat baik ini, maka kalian pasti menganggap para petapa atau brahmana yang memiliki pikiran berniat buruk dan kehendak membenci sebagai layak disembah dan dipuji. Jika kalian mencela dan menyangkal faktor Dhamma perhatian benar ini, maka kalian pasti menganggap para petapa atau brahmana yang pikirannya kacau dan tanpa pemahaman jernih sebagai layak disembah dan dipuji. Jika kalian mencela dan menyangkal faktor Dhamma konsentrasi benar ini, maka kalian pasti menganggap para petapa atau brahmana yang tidak terkonsentrasi, dengan pikiran mengembara sebagai layak disembah dan dipuji.’

“Jika, Para Pengembara, seseorang menganggap bahwa keempat faktor Dhamma ini harus dicela dan disangkal, maka, dalam kehidupan ini, ia mengundang keempat kritikan dan dasar bagi celaan ini. Bahkan para pengembara itu seperti Vassa dan Bhañña dari Ukkalā, yang mengajarkan doktrin tanpa-penyebab, tanpa aktivitas, dan nihilisme, tidak menganggap bahwa keempat faktor Dhamma ini harus dicela dan disangkal. Karena alasan apakah? Karena takut disalahkan, diserang, dan dibantah.”2

Seorang yang berniat baik, senantiasa penuh perhatian, terkonsentrasi baik dalam pikiran, berlatih untuk melenyapkan kerinduan, dikatakan sebagai waspada. [32]


Catatan Kaki
  1. Baca Jilid 1 p.531, catatan 416. ↩︎

  2. Kedua pengembara ini juga disebutkan dalam MN 117.37, III 78,13, dan SN 22:62, III 73,3. Kami tidak memiliki informasi lain tentang mereka selain dari apa yang dikatakan di sini. ↩︎