easter-japanese

“Para bhikkhu, dengan memiliki empat kualitas, orang dungu, yang tidak kompeten, dan jahat, mempertahankan dirinya dalam kondisi celaka dan terluka; ia tercela [3] dan dicela oleh para bijaksana; dan ia menghasilkan banyak keburukan. Apakah empat ini?

(1) “Tanpa menyelidiki dan tanpa memeriksa, ia memuji seorang yang layak dicela. (2) Tanpa menyelidiki dan tanpa memeriksa, ia mencela seorang yan70g layak dipuji. (3) Tanpa menyelidiki dan tanpa memeriksa, ia mempercayai sesuatu yang mencurigakan. (4) Tanpa menyelidiki dan tanpa memeriksa, ia mencurigai sesuatu yang seharusnya dipercaya. Dengan memiliki keempat kualitas ini, orang dungu, yang tidak kompeten, dan jahat, mempertahankan dirinya dalam kondisi celaka dan terluka; ia tercela dan dicela oleh para bijaksana; dan ia menghasilkan banyak keburukan.

“Para bhikkhu, dengan memiliki empat kualitas, orang bijaksana, yang kompeten, dan baik, mempertahankan dirinya dalam kondisi tidak-celaka dan tidak-terluka; ia tanpa cela dan di luar celaan oleh para bijaksana; dan ia menghasilkan banyak jasa. Apakah empat ini?

(1) “Setelah menyelidiki dan setelah memeriksa, ia mencela seorang yang layak dicela. (2) Setelah menyelidiki dan setelah memeriksa, ia memuji seorang yang layak dipuji. (3) Setelah menyelidiki dan setelah memeriksa, ia mencurigai sesuatu yang mencurigakan. (4) Setelah menyelidiki dan setelah memeriksa, ia mempercayai sesuatu yang seharusnya dipercaya. Dengan memiliki keempat kualitas ini, orang bijaksana, yang kompeten, dan baik, mempertahankan dirinya dalam kondisi tidak-celaka dan tidak-terluka; ia tanpa cela dan di luar celaan oleh para bijaksana; dan ia menghasilkan banyak jasa.”

Ia yang memuji seorang yang layak dicela, atau mencela seorang yang layak dipuji, melakukan lemparan yang tidak beruntung melalui mulutnya yang karenanya ia tidak menemukan kebahagiaan.1

Lemparan dadu yang tidak beruntung adalah kecil yang mengakibatkan hilangnya kekayaan seseorang, [kehilangan] segalanya, termasuk dirinya; lemparan yang jauh lebih tidak beruntung adalah memendam kebencian terhadap orang-orang suci.2

Selama seratus ribu tiga puluh enam nirabbuda, ditambah lima abbuda, [4] pemfitnah para mulia pergi ke neraka, setelah mencemarkan reputasi mereka dengan ucapan dan pikiran jahat.3


Catatan Kaki
  1. Ketiga syair ini juga terdapat pada 10:89 sehubungan dengan bhikkhu pemfitnah bernama Kokālika. Kisahnya, termasuk syair-syairnya, juga terdapat pada SN 6:9-10, I 149-53, dan Sn 3:10, pp.123-31.

    Vicināti mukhena so kaliṃ, kalinā tena sukhaṃ na vindati. Ini juga dapat diterjemahkan: “Si dungu mengumpulkan bencana dengan mulutnya.” Kali dapat berarti bencana dan juga dapat berarti lemparan dadu yang kalah. ↩︎

  2. Mp: “Bencana ini adalah kecil, yaitu, hilangnya kekayaan pada permainan dadu bersama dengan semua yang dimiliki seseorang, termasuk dirinya sendiri.” Mp mengemas sugatesu, “para suci,” sebagai sammaggatesu puggalesu, “orang-orang yang telah dengan benar mencapai,” dengan demikian merujuk pada semua Arahant, bukan hanya pada Sang Buddha. ↩︎

  3. Sataṃ sahassānaṃ nirabbudānaṃ / chattiṃsatī pañca ca abbudāni. Saya menerjemahkan dengan mengikuti Mp, yang mengatakan jumlah: “Seratus ribu nirabbuda, ditambah tiga puluh enam nirabbuda lagi, ditambah lima abbuda” (sataṃ sahassānan ti nirabbudagaṇanāya satasahassaṃ; chattiṃsatī ti aparāni ca chattiṃsati nirabbudāni; pañca cā ti abbudagaṇanāya ca pañca abbudāni). Akan tetapi, Vanarata berpendapat bahwa pañca tidak secara langsung mensyaratkan abbudānaṃ dan oleh karena itu ia menggabungkan sahassānaṃ dengan chattiṃsatī serta pañca, menjadikannya tiga puluh enam ribu nirabbuda tambahan dan lima ribu abbuda. Mp, dalam mengomentari 10:89, menjelaskan skema penomoran Buddhis sebagai berikut: satu koṭi = sepuluh juta; satu koṭi koṭi = satu pakoṭi; satu koṭi pakoṭi = satu koṭipakoṭi; satu koti koṭipakoṭi = satu nahuta; satu koṭi nahuta = satu ninnahuta; satu koṭi ninnahuta = satu abbuda; dua puluh abbuda = satu nirabbuda. ↩︎