easter-japanese

“Para bhikkhu, kehidupan spiritual ini dijalani dengan latihan sebagai manfaatnya, dengan kebijaksanaan sebagai pengawasnya, dengan kebebasan sebagai intinya, dan dengan perhatian sebagai otoritasnya.1

(1) “Dan bagaimanakah, para bhikkhu, latihan menjadi manfaatnya? Di sini, latihan yang berhubungan dengan perilaku yang selayaknya2 telah diajarkan olehKu kepada para siswaKu sehingga mereka yang tidak berkeyakinan memperoleh keyakinan dan mereka yang berkeyakinan meningkat [dalam keyakinan mereka]. Seseorang menjalani latihan yang berhubungan dengan perilaku selayaknya persis seperti yang telah Kuajarkan kepada para siswaKu, menjaganya agar tidak rusak, tanpa cacat, tanpa noda, dan tanpa bercak, sehingga mereka yang tidak berkeyakinan memperoleh keyakinan dan mereka yang berkeyakinan meningkat [dalam keyakinan mereka]. Setelah menerimanya, ia berlatih dalam aturan-aturan latihan itu.

“Kemudian, latihan yang menjadi dasar bagi kehidupan spiritual3 telah diajarkan olehKu kepada para siswaKu demi kehancuran sepenuhnya penderitaan. Seseorang menjalani latihan yang menjadi dasar bagi kehidupan spiritual persis seperti yang telah Kuajarkan kepada para siswaKu demi kehancuran sepenuhnya penderitaan, menjaganya agar tidak rusak, tanpa cacat, tanpa noda, dan tanpa bercak. Setelah menerimanya, ia berlatih dalam aturan-aturan latihan itu. Dengan cara inilah latihan itu menjadi manfaatnya.

(2) “Dan bagaimanakah kebijaksanaan menjadi pengawasnya? Di sini, ajaran-ajaran itu telah diajarkan olehKu kepada para siswaKu demi kehancuran sepenuhnya penderitaan. Seseorang menyelidiki ajaran-ajaran itu dengan kebijaksanaan persis seperti yang telah Kuajarkan kepada para siswaKu demi kehancuran sepenuhnya penderitaan. Dengan cara inilah kebijaksanaan menjadi pengawasnya.4 [244]

(3) “Dan bagaimanakah kebebasan adalah intinya? Di sini, ajaran-ajaran itu telah diajarkan olehKu kepada para siswaKu demi kehancuran sepenuhnya penderitaan. Melalui kebebasan seseorang mengalami ajaran-ajaran itu persis seperti yang telah Kuajarkan kepada para siswaKu demi kehancuran sepenuhnya penderitaan. Dengan cara inilah kebebasan menjadi intinya.5

(4) “Dan bagaimanakah perhatian menjadi otoritasnya? Perhatian seseorang ditegakkan secara internal sebagai berikut: ‘Dengan cara ini aku akan memenuhi latihan yang berhubungan dengan perilaku baik yang belum kupenuhi atau membantu dengan kebijaksanaan dalam berbagai aspek latihan yang berhubungan dengan perilaku baik yang telah kupenuhi.’6 Dan perhatiannya ditegakkan secara internal sebagai berikut: ‘Dengan cara ini aku akan memenuhi latihan yang menjadi dasar bagi kehidupan spiritual yang belum kupenuhi atau membantu dengan kebijaksanaan dalam berbagai aspek latihan yang menjadi dasar bagi kehidupan spiritual yang telah kupenuhi.’ Dan perhatiannya ditegakkan secara internal sebagai berikut: ‘Dengan cara ini aku akan menyelidiki dengan kebijaksanaan ajaran-ajaran yang belum kuselidiki atau membantu dengan kebijaksanaan dalam berbagai aspek ajaran yang telah kuselidiki.’ Dan perhatiannya ditegakkan secara internal sebagai berikut: ‘Dengan cara ini aku akan mengalami melalui kebebasan Dhamma yang belum kualami atau membantu dengan kebijaksanaan dalam berbagai aspek Dhamma yang telah kualami.’ Dengan cara inilah perhatian menjadi otoritasnya.

“Demikianlah ketika dikatakan: ‘Para bhikkhu, kehidupan spiritual ini dijalani dengan latihan sebagai manfaatnya, dengan kebijaksanaan sebagai pengawasnya, dengan kebebasan sebagai intinya, dan dengan perhatian sebagai otoritasnya,’ adalah karena ini maka hal itu dikatakan.”


Catatan Kaki
  1. Sikkhānisaṃsam idaṃ bhikkhave brahmacariyaṃ vussati paññuttaraṃ vimuttisāraṃ satādhipateyyaṃ. Dalam sutta-sutta di belakang yang menggunakan metafora-metafora ini (8:83, 9:14, 10:58), perhatian mendahului kebijaksanaan dan kebebasan, tetapi sutta sekarang ini menjelaskan alasan pembalikan urutan normal ini. ↩︎

  2. Ābhisamācārikā sikkhā. Mp: “Ini adalah sebutan untuk jenis perilaku bermoral yang diajarkan melalui tugas-tugas” (vattavasena paññattisīlass’etaṃ adhivacanaṃ). Komentar menarik perbedaan antara perilaku bermoral alami (pakatisīla), modus perilaku bermoral dengan penekanan pada etika, dan perilaku bermoral yang berdasarkan pada aturan (paññattisīla) yang diturunkan dari aturan-aturan monastik yang menentukan perilaku dan sikap yang tidak secara intrinsik memandang etika, seperti, tidak makan setelah tengah hari, tidak menerima uang, tidak menggelitik bhikkhu lain, dan sebagainya. Yang dimaksudkan oleh yang terakhir ini adalah ābhisamācārikā sikkhā. ↩︎

  3. Mp: “Ini adalah sebutan untuk empat jenis utama perilaku bermoral, yang menjadi dasar bagi kehidupan spiritual sang jalan” (maggabrahmacariyassa ādibhūtānaṃ catunnaṃ mahāsīlānam etaṃ adhivacanaṃ). Walaupun Mp tampaknya membatasi jenis moralitas ini pada keempat pelanggaran pārājika, namun ini jelas termasuk banyak aturan latihan lainnya lagi yang termasuk dalam kelompok-kelompok pelanggaran lainnya. ↩︎

  4. Mp tidak menjelaskan dalam makna apa paññā disebut uttarā, tetapi hanya mengatakan: “Ini terlihat dengan baik oleh kebijaksanaan sang jalan bersama dengan pandangan terang” (sahavipassanāya maggapaññāya sudiṭṭhā honti). ↩︎

  5. Mp: “Ini dialami melalui pengetahuan pengalaman kebebasan buah Kearahattaan” (arahattaphalavimuttiyā ñāṇaphassena phuṭṭhā honti). ↩︎

  6. Seperti pada 4:194. Mp mengatakan bahwa yang dimaksudkan di sini adalah kebijaksanaan pandangan terang (vipassanāpaññā). ↩︎