easter-japanese

Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Kosambī di Taman Ghosita. Kemudian Yang Mulia Ānanda mendatangi Sang Bhagavā, bersujud kepadanya, dan duduk di satu sisi. Sang Bhagavā berkata kepadanya:

“Apakah persoalan disiplin itu telah diselesaikan, Ānanda?”1

“Bagaimana mungkin persoalan disiplin itu dapat diselesaikan, Bhante? Bāhiya, murid Yang Mulia Anuruddha masih sangat berniat menciptakan perpecahan di dalam Saṅgha, tetapi Yang Mulia Anuruddha tidak berpikir untuk mengatakan bahkan satu kata pun tentang persoalan ini.”

“Tetapi, Ānanda, kapankah Anuruddha pernah peduli dengan persoalan disiplin di dalam Saṅgha? Bukankah seharusnya engkau, dan Sāriputta dan Moggallāna, yang menyelesaikan persoalan disiplin apa pun yang muncul?

“Melihat empat keuntungan ini, Ānanda, seorang bhikkhu jahat bersenang dalam perpecahan di dalam Saṅgha. Apakah empat ini?

(1) “Di sini, seorang bhikkhu jahat tidak bermoral, berkarakter buruk, tidak murni, berperilaku mencurigakan, merahasiakan perbuatannya, bukan seorang petapa walaupun mengaku sebagai petapa, tidak hidup selibat walaupun mengaku hidup selibat, [240] busuk dalam batinnya, jahat, rusak. Ia berpikir: ‘Jika para bhikkhu mengetahui bahwa aku adalah seorang yang tidak bermoral … rusak, dan mereka bersatu, maka mereka akan mengusirku, tetapi jika mereka terpecah dalam kelompok-kelompok maka mereka tidak akan mengusirku.’ Melihat keuntungan pertama ini, seorang bhikkhu jahat bersenang dalam perpecahan di dalam Saṅgha.

(2) “Kemudian, seorang bhikkhu jahat berpandangan salah; ia menganut pandangan ekstrim. Ia berpikir: ‘Jika para bhikkhu mengetahui bahwa aku menganut pandangan salah, bahwa aku menganut pandangan ekstrim, dan mereka bersatu, maka mereka akan mengusirku, tetapi jika mereka terpecah dalam kelompok-kelompok maka mereka tidak akan mengusirku.’ Melihat keuntungan ke dua ini, seorang bhikkhu jahat bersenang dalam perpecahan di dalam Saṅgha.

(3) “Kemudian, seorang bhikkhu jahat berpenghidupan salah; ia mencari penghidupannya melalui penghidupan salah. Ia berpikir: ‘Jika para bhikkhu mengetahui bahwa aku berpenghidupan salah dan mencari penghidupanku melalui penghidupan salah, dan mereka bersatu, maka mereka akan mengusirku, tetapi jika mereka terpecah dalam kelompok-kelompok maka mereka tidak akan mengusirku.’ Melihat keuntungan ke tiga ini, seorang bhikkhu jahat bersenang dalam perpecahan di dalam Saṅgha.

(4) “Kemudian, seorang bhikkhu menginginkan perolehan, kehormatan, dan penghargaan. Ia berpikir: ‘Jika para bhikkhu mengetahui bahwa aku menginginkan perolehan, kehormatan, dan penghargaan, dan mereka bersatu, maka mereka tidak akan menerima, menghormati, menghargai, dan memuliakanku; tetapi jika mereka terpecah dalam kelompok-kelompok maka mereka akan menerima, menghormati, menghargai, dan memuliakanku.’ Melihat keuntungan ke empat ini, seorang bhikkhu jahat bersenang dalam perpecahan di dalam Saṅgha.

“Melihat keempat keuntungan ini, Ānanda, seorang bhikkhu jahat bersenang dalam perpecahan di dalam Saṅgha.”


Catatan Kaki
  1. Adhikaraṇaṃ vūpasantaṃ. Baca Jilid 1 p.502, catatan 231. ↩︎