easter-japanese

1

“Para bhikkhu, ketika ada jasmani, karena kehendak jasmani [158] maka kenikmatan dan kesakitan muncul secara internal; ketika ada ucapan, karena kehendak ucapan maka kenikmatan dan kesakitan muncul secara internal; ketika ada pikiran, karena kehendak pikiran maka kenikmatan dan kesakitan muncul secara internal – dengan ketidak-tahuan itu sebagai kondisi.2

“Apakah oleh diri sendiri, para bhikkhu, seseorang melakukan aktivitas berkehendak melalui jasmani yang dengan dikondisikan oleh aktivitas berkehendak itu maka kenikmatan dan kesakitan muncul dalam dirinya secara internal, atau orang lain membuatnya menghasilkan aktivitas berkehendak melalui jasmani itu yang dengan dikondisikan oleh aktivitas berkehendak itu maka kenikmatan dan kesakitan muncul dalam dirinya secara internal. Apakah dengan pemahaman jernih seseorang melakukan aktivitas berkehendak melalui jasmani itu yang dengan dikondisikan oleh aktivitas berkehendak itu maka kenikmatan dan kesakitan muncul dalam dirinya secara internal, atau tanpa pemahaman jernih seseorang melakukan aktivitas berkehendak melalui jasmani itu yang dengan dikondisikan oleh aktivitas berkehendak itu maka kenikmatan dan kesakitan muncul dalam dirinya secara internal.3

“Apakah oleh diri sendiri, para bhikkhu, seseorang melakukan aktivitas berkehendak melalui ucapan yang dengan dikondisikan oleh aktivitas berkehendak itu maka kenikmatan dan kesakitan muncul dalam dirinya secara internal, atau orang lain membuatnya menghasilkan aktivitas berkehendak melalui ucapan itu yang dengan dikondisikan oleh aktivitas berkehendak itu maka kenikmatan dan kesakitan muncul dalam dirinya secara internal. Apakah dengan pemahaman jernih seseorang melakukan aktivitas berkehendak melalui ucapan itu yang dengan dikondisikan oleh aktivitas berkehendak itu maka kenikmatan dan kesakitan muncul dalam dirinya secara internal, atau tanpa pemahaman jernih seseorang melakukan aktivitas berkehendak melalui ucapan itu yang dengan dikondisikan oleh aktivitas berkehendak itu maka kenikmatan dan kesakitan muncul dalam dirinya secara internal.

“Apakah oleh diri sendiri, para bhikkhu, seseorang melakukan aktivitas berkehendak melalui pikiran yang dengan dikondisikan oleh aktivitas berkehendak itu maka kenikmatan dan kesakitan muncul dalam dirinya secara internal, atau orang lain membuatnya menghasilkan aktivitas berkehendak melalui pikiran itu yang dengan dikondisikan oleh aktivitas berkehendak itu maka kenikmatan dan kesakitan muncul dalam dirinya secara internal. Apakah dengan pemahaman jernih seseorang melakukan aktivitas berkehendak melalui pikiran itu yang dengan dikondisikan oleh aktivitas berkehendak itu maka kenikmatan dan kesakitan muncul dalam dirinya secara internal, atau tanpa pemahaman jernih seseorang melakukan aktivitas berkehendak melalui pikiran itu yang dengan dikondisikan oleh aktivitas berkehendak itu maka kenikmatan dan kesakitan muncul dalam dirinya secara internal.

“Ketidak-tahuan terdapat dalam kondisi-kondisi ini.4 Tetapi dengan peluruhan tanpa sisa dan lenyapnya ketidak-tahuan maka jasmani itu tidak ada yang dengan dikondisikan oleh aktivitas berkehendak itu maka kenikmatan dan kesakitan muncul dalam dirinya secara internal; ucapan itu tidak ada yang dengan dikondisikan oleh aktivitas berkehendak itu maka kenikmatan dan kesakitan muncul dalam dirinya secara internal; pikiran itu tidak ada yang dengan dikondisikan oleh aktivitas berkehendak itu maka kenikmatan dan kesakitan muncul dalam dirinya secara internal.5 Lahan itu tidak ada, bidang [159] itu tidak ada, landasan itu tidak ada, lokasi itu tidak ada yang dengan dikondisikan oleh lokasi itu maka kenikmatan dan kesakitan muncul dalam dirinya secara internal.6


“Para bhikkhu, ada empat perolehan diri ini.7 Apakah empat ini? (1) Ada perolehan diri yang mana kehendak diri sendiri yang bekerja, bukan kehendak orang lain. (2) Ada perolehan diri yang mana kehendak orang lain yang bekerja, bukan kehendak diri sendiri. (3) Ada perolehan diri yang mana kehendak diri sendiri dan juga kehendak orang lain yang bekerja. (4) Ada perolehan diri yang mana bukan kehendak diri sendiri dan juga bukan kehendak orang lain yang bekerja.”

Ketika hal ini dikatakan, Yang Mulia Sāriputta berkata kepada Sang Bhagavā: “Bhante, aku memahami secara terperinci makna dari pernyataan yang Sang Bhagavā babarkan secara ringkas sebagai berikut. (1) Dalam hal perolehan diri yang mana kehendak diri sendiri yang bekerja, bukan kehendak orang lain, adalah karena alasan kehendak mereka sendiri maka makhluk-makhluk meninggal dunia dari kelompok itu.8 (2) Dalam hal perolehan diri yang mana kehendak orang lain yang bekerja, bukan kehendak diri sendiri, adalah karena alasan kehendak orang lain maka makhluk-makhluk meninggal dunia dari kelompok itu.9 (3) Dalam hal perolehan diri yang mana kehendak diri sendiri dan juga kehendak orang lain yang bekerja, adalah karena alasan kehendak diri sendiri dan juga kehendak orang lain maka makhluk-makhluk meninggal dunia dari kelompok itu.10 (4) Tetapi, Bhante, jenis deva apakah yang dipahami sebagai perolehan diri yang mana bukan kehendak diri sendiri dan juga bukan kehendak orang lain yang bekerja?”11

“Mereka adalah, Sāriputta, para deva di landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi.”

“Mengapakah, Bhante, bahwa beberapa makhluk yang meninggal dunia dari kelompok itu adalah para yang-kembali, yang kembali pada kondisi makhluk ini, sedangkan [160] yang lainnya adalah para yang-tidak-kembali, yang tidak kembali pada kondisi makhluk ini?”12

“Di sini, Sāriputta, seseorang belum meninggalkan belenggu-belenggu yang lebih rendah. Dalam kehidupan ini ia masuk dan berdiam dalam landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi. Ia menikmatinya, menyukainya, dan mendapatkan kepuasan di dalamnya. Jika ia teguh di dalamnya, fokus padanya, sering berdiam di dalamnya, dan tidak kehilangannya ketika ia meninggal dunia, maka ia akan terlahir kembali di tengah-tengah para deva di landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi. Ketika ia meninggal dunia dari sana ia adalah seorang yang-kembali yang kembali pada kondisi makhluk ini.

“Tetapi seorang [lainnya] di sini telah meninggalkan belenggu-belenggu yang lebih rendah. Dalam kehidupan ini ia masuk dan berdiam dalam landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi. Ia menikmatinya, menyukainya, dan mendapatkan kepuasan di dalamnya. Jika ia teguh di dalamnya, fokus padanya, sering berdiam di dalamnya, dan tidak kehilangannya ketika ia meninggal dunia, maka ia akan terlahir kembali di tengah-tengah para deva di landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi. Ketika ia meninggal dunia dari sana ia adalah seorang yang-tidak-kembali yang tidak kembali pada kondisi makhluk ini.

“Ini, Sāriputta, adalah alasan mengapa beberapa makhluk yang meninggal dunia dari kelompok itu adalah para yang-kembali, yang kembali pada kondisi makhluk ini, sedangkan yang lainnya adalah para yang-tidak-kembali, yang tidak kembali pada kondisi makhluk ini.”


Catatan Kaki
  1. Bagian pertama sutta ini, hingga bagian tentang empat perolehan diri, juga terdapat pada SN 12:25, II 39-41, tetapi ditujukan kepada Ānanda. ↩︎

  2. Mp menjelaskan ini dengan menghubungkan dengan skema Abhidhamma atas citta, jenis-jenis kesadaran; baca CMA 32-40, 46-64. Saya merangkum penjelasan Mp: Kehendak melalui jasmani ada dua puluh jenis melalui delapan jenis citta bermanfaat bidang indria dan dua belas jenis citta tidak bermanfaat. Demikian pula kehendak melalui ucapan. Tetapi kehendak melalui pikiran termasuk hal-hal ini serta sembilan jenis kehendak luhur (mahaggata), yaitu, kehendak yang berhubungan dengan lima jhāna dari sistem Abhidhamma dan empat pencapaian tanpa bentuk. Karena kehendak melalui jasmani, maka muncul kenikmatan yang dikondisikan oleh delapan jenis kamma bermanfaat, dan kesakitan yang dikondisikan oleh dua belas jenis kamma tidak bermanfaat, yaitu, kamma yang dihasilkan dalam jenis-jenis kesadaran aktif yang bersesuaian. Demikian pula dengan kedua pintu lainnya. Ketidak-tahuan adalah kondisi (avijjāpaccayā va) karena, dengan adanya ketidak-tahuan, maka kehendak muncul dalam ketiga pintu sebagai suatu kondisi bagi kenikmatan dan kesakitan. Demikianlah pernyataan dalam sutta ini yang merujuk pada ketidak-tahuan sebagai akar penyebab. Kenikmatan dan kesakitan muncul “secara internal” (ajjhattaṃ) ketika muncul dalam diri seseorang. Kata ini tampaknya menggarisbawahi aspek pembalasan dari kamma. ↩︎

  3. Mp: “Seseorang bertindak atas kehendaknya sendiri (sāmaṃ) ketika ia memulai suatu tindakan tanpa dorongan dari orang lain. Seseorang memulai aktivitas karena orang lain ketika orang lain mendorong atau memerintahkannya untuk bertindak. Seseorang bertindak dengan pemahaman jernih (sampajāno) ketika ia mengetahui apa yang bermanfaat dan apa yang tidak bermanfaat seperti demikian, dan akibatnya masing-masing seperti demikian. Jika ia tidak mengetahui hal ini, maka ia bertindak tanpa pemahaman jernih.” ↩︎

  4. Imesu bhikkhave dhammesu avijjā anupatitā. Mp: “Ketidak-tahuan terdapat dalam kondisi-kondisi kehendak yang dianalisis di atas, yang berfungsi baik sebagai kondisi yang hadir bersamaan dan sebagai kondisi pendukung-keputusan (sahajātavasena ca upanissayavasena ca). dengan demikian lingkaran kehidupan dan akarnya, yaitu ketidak-tahuan, ditunjukkan.” ↩︎

  5. Mp: “Para Arahant terlihat bertindak melalui jasmani. Mereka menyapu halaman altar dan pohon bodhi, pergi dan kembali, melakukan berbagai tugas, dan sebagainya, tetapi dalam kasus mereka kedua puluh kehendak yang muncul di pintu jasmani tidak lagi menghasilkan akibat kamma (avipākadhammataṃ āpajjanti). Di sini, adalah kehendak yang muncul di pintu jasmani yang dimaksudkan oleh kata ‘jasmani.’ Metode yang sama berlaku untuk kedua lainnya.” Mp-ṭ: “Ketika para Arahant melakukan perbuatan, bagaimanakah mereka tidak membuat kamma jasmani atau jenis lainnya? Dalam makna bahwa perbuatan-perbuatan ini tidak membawa akibat, karena suatu perbuatan yang dilakukan oleh seorang Arahant adalah bukan bermanfaat juga bukan tidak bermanfaat melainkan sekedar aktivitas (kiriyamatta) yang tidak menghasilkan akibat.” ↩︎

  6. Mp: “‘Lahan,’ dan seterusnya, adalah sebutan bagi kamma bermanfaat dan tidak bermanfaat. Karena itu adalah lahan (khetta) dalam makna suatu tempat di mana akibat-akibat tumbuh; suatu bidang (vatthu) dalam makna fondasinya; landasan (āyatana) dalam makna suatu penyebab; lokasi (adhikaraṇa) dalam makna suatu tempat.” ↩︎

  7. Dalam Ee kalimat ini menandai awal dari sutta baru, dan dengan demikian pada titik ini penomoran Ee lebih satu dari penomoran saya. Baik Ce maupun Be, yang selaras dengan Mp, memperlakukan paragraf sebelumnya dan paragraf ini sebagai satu sutta. Sedangkan paragraf ini jelas tampak sebagai awal dari sutta tersendiri, dan mungkin awalnya memang demikian, Mp menganggapnya sebagai kelanjutan dari analisis kehendak yang dijelaskan di atas. Mp mengatakan bahwa hingga titik ini Sang Buddha telah menunjukkan kamma yang terakumulasi dalam tiga pintu; sekarang Beliau menunjukkan tempat di mana kamma itu matang. “Perolehan diri” (attabhāvappaṭilābha) adalah suatu penjelmaan individu, kombinasi dari jasmani dan batin yang membentuk kehidupan tertentu. ↩︎

  8. Mp mengidentifikasikan makhluk-makhluk ini sebagai para deva yang menjadi rusak karena bermain (khiḍḍāpadosikā devā). Sewaktu mereka sedang menikmati kegembiraan surgawi di alam surga, kadang-kadang mereka lupa makan dan minum, dan karena mereka tidak makan maka mereka menjadi layu bagaikan kalung bunga yang diletakkan di bawah terik matahari. Baca Bodhi 2007: 159-60. ↩︎

  9. Mp mengatakan ini adalah para deva yang rusak melalui pikiran (manopadosika devā), yang berdiam di alam Empat Raja Dewa. Ketika mereka marah satu sama lain, kemarahan bersama itu menyebabkan keduanya meninggal dunia. Baca Bodhi 2007: 160-61. ↩︎

  10. Mp mengatakan bahwa ini adalah manusia. Karena orang-orang bunuh diri dan orang lain membunuh mereka. Demikianlah mereka binasa karena kehendak diri sendiri dan karena kehendak orang lain. ↩︎

  11. Mp: “[Pertanyaan:] Mengapakah Sāriputta mengajukan pertanyaan ini? Bukankah ia mampu menjawabnya sendiri? [Jawab:] Ia mampu, tetapi ia tidak mengatakannya karena ia berpikir, ‘pertanyaan ini adalah wilayah seorang Buddha.’” ↩︎

  12. Mp: “Yang pertama, yang kembali pada kondisi makhluk ini (āgantāro itthattaṃ), adalah mereka yang kembali pada kelima kelompok unsur kehidupan di alam indria; mereka tidak terlahir kembali di sana [di alam di mana mereka meninggal dunia] atau di alam yang lebih tinggi. Mereka yang tidak kembali pada kondisi makhluk ini (anāgantāro itthattaṃ) tidak kembali pada kelima kelompok unsur kehidupan atau kelahiran kembali yang lebih rendah. Mereka terlahir kembali di sana [di alam di mana mereka meninggal dunia] atau di alam yang lebih tinggi, atau mereka mencapai nibbāna akhir di sana. Ketika dikatakan bahwa mereka terlahir kembali di alam yang lebih tinggi, ini dikatakan dalam kasus mereka yang telah dilahirkan di alam yang lebih rendah. Tetapi dari alam bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi, tidak ada kelahiran kembali di alam yang lebih tinggi.” ↩︎