easter-japanese

“Para bhikkhu, ada empat jenis orang ini terdapat di dunia. Apakah empat ini?

(1) “Di sini, para bhikkhu, dengan terasing dari kenikmatan-kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna pertama, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan, yang disertai oleh pemikiran dan pemeriksaan. Ia menikmatinya, menyukainya, dan mendapatkan kepuasan di dalamnya. Jika ia teguh di dalamnya, fokus padanya, sering berdiam di dalamnya, dan tidak kehilangannya ketika ia meninggal dunia, maka ia akan terlahir kembali di tengah-tengah para deva kumpulan Brahmā. Umur kehidupan para deva kumpulan Brahmā adalah satu kappa.1 Kaum duniawi akan menetap di sana seumur hidupnya, dan ketika ia telah melewatkan keseluruhan umur kehidupan para deva itu, ia akan pergi ke neraka, ke alam binatang, atau ke alam para hantu menderita.2 Tetapi siswa Sang Bhagavā akan menetap di sana seumur hidupnya, dan ketika ia telah melewatkan keseluruhan umur kehidupan para deva itu, ia akan mencapai nibbāna akhir di dalam kehidupan yang sama itu.3 Ini adalah kesenjangan, disparitas, perbedaan antara siswa mulia yang terpelajar dan kaum duniawi yang tidak terpelajar, yaitu, ketika ada alam tujuan masa depan dan kelahiran kembali.4 [127]

(2) “Kemudian, seseorang, dengan meredanya pemikiran dan pemeriksaan, ia masuk dan berdiam dalam jhāna ke dua, yang memiliki ketenangan internal dan keterpusatan pikiran dan dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul dari konsentrasi, tanpa pemikiran dan pemeriksaan. Ia menikmatinya, menyukainya, dan mendapatkan kepuasan di dalamnya. Jika ia teguh di dalamnya, fokus padanya, sering berdiam di dalamnya, dan tidak kehilangannya ketika ia meninggal dunia, maka ia akan terlahir kembali di tengah-tengah para deva dengan cahaya gemerlap. Umur kehidupan para deva dengan cahaya gemerlap adalah dua kappa.5 Kaum duniawi akan menetap di sana seumur hidupnya, dan ketika ia telah melewatkan keseluruhan umur kehidupan para deva itu, ia akan pergi ke neraka, ke alam binatang, atau ke alam para hantu menderita. Tetapi siswa Sang Bhagavā akan menetap di sana seumur hidupnya, dan ketika ia telah melewatkan keseluruhan umur kehidupannya itu, ia akan mencapai nibbāna akhir di dalam kehidupan yang sama itu. Ini adalah kesenjangan, disparitas, perbedaan antara siswa mulia yang terpelajar dan kaum duniawi yang tidak terpelajar, yaitu, ketika ada alam tujuan masa depan dan kelahiran kembali.

(3) “Kemudian, seseorang, dengan memudarnya sukacita, ia berdiam seimbang dan, penuh perhatian dan memahami dengan jernih, ia mengalami kenikmatan pada jasmani; ia masuk dan berdiam dalam jhāna ke tiga yang dinyatakan oleh para mulia: ‘Ia seimbang, penuh perhatian, seorang yang berdiam dengan bahagia.’ Ia menikmatinya, menyukainya, dan mendapatkan kepuasan di dalamnya. Jika ia teguh di dalamnya, fokus padanya, sering berdiam di dalamnya, dan tidak kehilangannya ketika ia meninggal dunia, maka ia akan terlahir kembali di tengah-tengah para deva dengan keagungan gemilang. Umur kehidupan para deva dengan keagungan gemilang adalah empat kappa.6 Kaum duniawi akan menetap di sana sepanjang umur kehidupannya, dan ketika ia telah melewatkan keseluruhan umur kehidupannya itu, ia akan pergi ke neraka, ke alam binatang, atau ke alam para hantu menderita. Tetapi siswa Sang Bhagavā akan menetap di sana seumur hidupnya, dan ketika ia telah melewatkan keseluruhan umur kehidupannya itu, ia akan mencapai nibbāna akhir di dalam kehidupan yang sama itu. Ini adalah kesenjangan, disparitas, perbedaan antara siswa mulia yang terpelajar dan kaum duniawi yang tidak terpelajar, yaitu, ketika ada alam tujuan masa depan dan kelahiran kembali.

(4) “Kemudian, seseorang, dengan meninggalkan kenikmatan dan kesakitan, dan dengan pelenyapan sebelumnya atas kegembiraan dan kesedihan, ia masuk dan berdiam dalam jhāna ke empat, yang bukan menyakitkan juga bukan menyenangkan, dengan pemurnian perhatian melalui keseimbangan. Ia menikmatinya, menyukainya, dan mendapatkan kepuasan di dalamnya. [128] Jika ia teguh di dalamnya, fokus padanya, sering berdiam di dalamnya, dan tidak kehilangannya ketika ia meninggal dunia, maka ia akan terlahir kembali di tengah-tengah para deva berbuah besar. Umur kehidupan para deva berbuah besar adalah lima ratus kappa.7 Kaum duniawi akan menetap di sana seumur hidupnya, dan ketika ia telah melewatkan keseluruhan umur kehidupan para deva itu, ia akan pergi ke neraka, ke alam binatang, atau ke alam para hantu menderita. Tetapi siswa Sang Bhagavā akan menetap di sana seumur hidupnya, dan ketika ia telah melewatkan keseluruhan umur kehidupannya itu, ia akan mencapai nibbāna akhir di dalam kehidupan yang sama itu. Ini adalah kesenjangan, disparitas, perbedaan antara siswa mulia yang terpelajar dan kaum duniawi yang tidak terpelajar, yaitu, ketika ada alam tujuan masa depan dan kelahiran kembali.

“Ini, para bhikkhu, adalah keempat jenis orang itu yang terdapat di dunia.”


Catatan Kaki
  1. Mp: “Jhāna pertama dapat berupa tingkat rendah, tingkat menengah, dan tingkat tinggi. Bagi makhluk-makhluk yang terlahir kembali melalui tingkat rendah, umur kehidupannya adalah sepertiga kappa; bagi mereka yang terlahir kembali melalui tingkat menengah, umur kehidupannya adalah setengah kappa; dan bagi mereka yang terlahir kembali melalui tingkat tinggi, umur kehidupannya adalah satu kappa. Ini dikatakan sehubungan dengan yang terakhir.” Untuk penjelasan tentang umur kehidupan di berbagai alam menurut model Theravāda yang berkembang, baca Vibh 422-26 (Be §§1022-28); CMA 196-99. ↩︎

  2. Mp: “Ia ‘pergi ke neraka’ dalam beberapa kehidupan setelahnya, selama ia belum meninggalkan kamma yang mengarahkannya menuju neraka; bukan dalam makna bahwa ia pergi ke sana segera dalam kehidupan berikutnya.” Menurut Abhidhamma, seseorang yang meninggal dunia dari alam berbentuk, tidak seketika terlahir kembali dalam salah satu alam rendah; baca CMA 226-27. ↩︎

  3. Tasmiṃyeva bhave parinibbāyati. Mp: “Ia mencapai nibbāna akhir selagi masih berada dalam kehidupan di alam berbentuk yang sama itu; ia tidak turun ke alam rendah.” ↩︎

  4. Baca Jilid 1 pp.563-564, catatan 581. ↩︎

  5. Para deva dengan cahaya gemerlap (devā ābhassarā) adalah kelompok deva tertinggi yang berhubungan dengan jhāna ke dua. Mp: “Jhāna ke dua terdiri dari tiga tingkat, seperti disebutkan di atas [untuk jhāna pertama]. Bagi mereka yang terlahir kembali melalui tingkat tinggi, umur kehidupannya adalah delapan kappa; tingkat menengah, empat kappa; dan tingkat rendah, dua kappa. Teks ini merujuk pada yang terakhir.” ↩︎

  6. Para deva dengan keagungan gemilang (devā subhakiṇhā) adalah kelompok deva tertinggi yang berhubungan dengan jhāna ke tiga. Menurut sistem Abhidhamma, umur kehidupan di tiga alam yang berhubungan dengan jhāna ke tiga berturut-turut adalah enam belas, tiga puluh dua, dan enam puluh empat kappa. Karena ini bertentangan dengan sutta, maka Mp menjelaskan bahwa apa yang dimaksudkan di sini adalah alam terendah di antara alam-alam itu yang dicapai dengan kelahiran kembali melalui pencapaian jhāna ke tiga. Akan tetapi, menurut Mp, para deva dengan keagungan gemilang sebenarnya adalah yang tertinggi di antara alam-alam ini, dengan umur kehidupan enam puluh empat kappa. Dengan demikian tampaknya ada perbedaan antara sutta dan penentuan sistematis Theravāda sehubungan dengan umur kehidupan. ↩︎

  7. Ini adalah devā vehapphalā, satu-satunya alam kelahiran kembali yang bersesuaian dengan jhāna ke empat duniawi. Angka ini sesuai dengan ketentuan Abhidhamma. ↩︎