easter-japanese

“Para bhikkhu, berdiamlah dengan mematuhi perilaku bermoral, mematuhi Pātimokkha. Berdiamlah dengan terkendali oleh Pātimokkha, memiliki perilaku dan tempat kunjungan yang baik, melihat bahaya dalam pelanggaran-pelanggaran kecil. Setelah menerimanya, berlatihlah dalam aturan-aturan latihan. Ketika kalian telah melakukan demikian, apakah yang harus dilakukan lebih lanjut?

(1) “Para bhikkhu, jika seorang bhikkhu telah bebas dari kerinduan dan niat buruk ketika sedang berjalan; jika ia telah meninggalkan ketumpulan dan kantuk, kegelisahan dan penyesalan, dan keragu-raguan;1 jika kegigihannya telah dibangkitkan tanpa mengendur; jika perhatiannya telah ditegakkan dan tidak kacau; jika jasmaninya menjadi tenang dan tidak terganggu; jika pikirannya terkonsentrasi dan terpusat, maka bhikkhu itu dikatakan sebagai tekun dan takut akan perbuatan salah; ia terus-menerus dan tanpa henti penuh semangat dan bersungguh-sungguh sewaktu sedang berjalan.

(2) “Jika seorang bhikkhu telah bebas dari kerinduan dan niat buruk ketika sedang berdiri … (3) Jika seorang bhikkhu telah bebas dari kerinduan dan niat buruk ketika sedang duduk … [15]… (4) Jika seorang bhikkhu telah bebas dari kerinduan dan niat buruk ketika sedang berbaring terjaga; jika ia telah meninggalkan ketumpulan dan kantuk, kegelisahan dan penyesalan, dan keragu-raguan; jika kegigihannya telah dibangkitkan tanpa mengendur; jika perhatiannya telah ditegakkan dan tidak kacau; jika jasmaninya tenang dan tidak terganggu; jika pikirannya terkonsentrasi dan terpusat, maka bhikkhu itu dikatakan sebagai tekun dan takut akan perbuatan salah; ia terus-menerus dan tanpa henti penuh semangat dan bersungguh-sungguh sewaktu sedang berbaring terjaga.”

Terkendali ketika berjalan, terkendali ketika berdiri, terkendali ketika duduk dan ketika berbaring; terkendali, seorang bhikkhu menarik anggota tubuhnya, dan terkendali, ia merentangkannya.

Ke atas, ke sekeliling, dan ke bawah, sejauh mana dunia ini merentang, ia adalah seorang yang memeriksa muncul dan lenyapnya fenomena-fenomena itu seperti kelompok-kelompok unsur kehidupan.

Berlatih dalam apa yang kondusif hingga ketenangan pikiran, selalu penuh perhatian, mereka menyebut bhikkhu demikian sebagai seorang yang terus-menerus bersungguh-sungguh.


Catatan Kaki
  1. Saya dan Ce membaca thīnamiddhaṃ uddhaccakukkuccaṃ vicikicchā pahīṇā hoti (Ee juga sama, tetapi dengan honti), tidak seperti Be thīnamiddhaṃ vigataṃ hoti uddhaccakukkuccaṃ vigataṃ hoti vicikicchā pahīṇā hoti. ↩︎