easter-japanese

“Para bhikkhu, ada empat ikatan ini. Apakah empat ini? Ikatan indriawi, ikatan penjelmaan, ikatan pandangan, dan ikatan ketidak-tahuan.

(1) “Dan apakah, para bhikkhu, ikatan indriawi? Di sini, seseorang tidak memahami sebagaimana adanya asal-mula dan lenyapnya, kepuasan, bahaya, dan jalan membebaskan diri sehubungan dengan kenikmatan indria. Ketika seseorang tidak memahami hal-hal ini sebagaimana adanya, maka nafsu indriawi, kesenangan indriawi, kasih sayang indriawi, ketergila-gilaan indriawi, kehausan indriawi, kegemaran indriawi, keterikatan indriawi, dan ketagihan indriawi berdiam dalam dirinya sehubungan dengan kenikmatan indria. Ini disebut ikatan indriawi.

(2) “Demikianlah ikatan indriawi. Dan bagaimanakah terjadinya ikatan penjelmaan? Di sini, seseorang tidak memahami sebagaimana adanya asal-mula dan lenyapnya, kepuasan, bahaya, dan jalan membebaskan diri sehubungan dengan kondisi-kondisi penjelmaan.1 Ketika seseorang tidak memahami hal-hal ini sebagaimana adanya, maka nafsu pada penjelmaan, kesenangan pada penjelmaan, kasih sayang pada penjelmaan, ketergila-gilaan pada penjelmaan, kehausan pada penjelmaan, kegemaran pada penjelmaan, keterikatan pada penjelmaan, dan ketagihan pada penjelmaan berdiam dalam dirinya sehubungan dengan penjelmaan. Ini disebut ikatan penjelmaan.

(3) “Demikianlah ikatan indriawi dan ikatan penjelmaan. Dan bagaimanakah terjadinya ikatan pandangan? Di sini, seseorang tidak memahami sebagaimana adanya asal-mula dan lenyapnya, kepuasan, bahaya, dan jalan membebaskan diri sehubungan dengan pandangan. Ketika seseorang tidak memahami hal-hal ini sebagaimana adanya, [11] maka nafsu pada pandangan, kesenangan pada pandangan, kasih sayang pada pandangan, ketergila-gilaan pada pandangan, kehausan pada pandangan, kegemaran pada pandangan, keterikatan pada pandangan, dan ketagihan pada pandangan berdiam dalam dirinya sehubungan dengan pandangan. Ini disebut ikatan pandangan.

(4) “Demikianlah ikatan indriawi, ikatan penjelmaan, dan ikatan pandangan. Dan bagaimanakah terjadinya ikatan ketidak-tahuan? Di sini, seseorang tidak memahami sebagaimana adanya asal-mula dan lenyapnya, kepuasan, bahaya, dan jalan membebaskan diri sehubungan dengan enam landasan kontak. Ketika seseorang tidak memahami hal-hal ini sebagaimana adanya, maka, kebodohan dan ketidak-tahuan berdiam dalam dirinya sehubungan dengan enam landasan kontak. Ini disebut ikatan ketidak-tahuan. Demikianlah ikatan indriawi, ikatan penjelmaan, ikatan pandangan, dan ikatan ketidak-tahuan.

“Seseorang terbelenggu oleh kondisi-kondisi buruk yang tidak bermanfaat yang mengotori, menghasilkan penjelmaan baru, menyusahkan, matang dalam penderitaan, mengarah pada kelahiran, penuaan, dan kematian di masa depan; oleh karena itu ia dikatakan ‘tidak aman dari ikatan.’ Ini adalah keempat ikatan itu.

“Ada, para bhikkhu, empat pemutusan ikatan ini. Apakah empat itu? Pemutusan ikatan indriawi, pemutusan ikatan penjelmaan, pemutusan ikatan pandangan, dan pemutusan ikatan ketidak-tahuan.

(1) “Dan apakah, para bhikkhu, pemutusan ikatan indriawi? Di sini, seseorang memahami sebagaimana adanya asal-mula dan lenyapnya, kepuasan, bahaya, dan jalan membebaskan diri sehubungan dengan kenikmatan indria. Ketika seseorang memahami hal-hal ini sebagaimana adanya, maka nafsu indriawi, kesenangan indriawi, kasih sayang indriawi, ketergila-gilaan indriawi, kehausan indriawi, kegemaran indriawi, keterikatan indriawi, dan ketagihan indriawi tidak berdiam dalam dirinya sehubungan dengan kenikmatan indria. Ini disebut pemutusan ikatan indriawi.

(2) “Demikianlah pemutusan ikatan indriawi. Dan bagaimanakah terjadinya pemutusan ikatan penjelmaan? Di sini, seseorang memahami sebagaimana adanya asal-mula dan lenyapnya, kepuasan, bahaya, dan jalan membebaskan diri sehubungan dengan kondisi-kondisi penjelmaan. Ketika seseorang memahami hal-hal ini sebagaimana adanya, maka nafsu pada penjelmaan, kesenangan pada penjelmaan, kasih sayang pada penjelmaan, ketergila-gilaan pada penjelmaan, kehausan pada penjelmaan, kegemaran pada penjelmaan, keterikatan pada penjelmaan, dan ketagihan pada penjelmaan tidak berdiam dalam dirinya sehubungan dengan penjelmaan. Ini disebut pemutusan ikatan penjelmaan.

(3) “Demikianlah pemutusan ikatan indriawi dan pemutusan ikatan penjelmaan. Dan bagaimanakah terjadinya pemutusan ikatan pandangan? Di sini, seseorang memahami sebagaimana adanya asal-mula dan lenyapnya, kepuasan, bahaya, dan [12] jalan membebaskan diri sehubungan dengan pandangan. Ketika seseorang memahami hal-hal ini sebagaimana adanya, maka nafsu pada pandangan, kesenangan pada pandangan, kasih sayang pada pandangan, ketergila-gilaan pada pandangan, kehausan pada pandangan, kegemaran pada pandangan, keterikatan pada pandangan, dan ketagihan pada pandangan tidak berdiam dalam dirinya sehubungan dengan pandangan. Ini disebut pemutusan ikatan pandangan.

(4) “Demikianlah pemutusan ikatan indriawi, pemutusan ikatan penjelmaan, dan pemutusan ikatan pandangan. Dan bagaimanakah terjadinya pemutusan ikatan ketidak-tahuan? Di sini, seseorang memahami sebagaimana adanya asal-mula dan lenyapnya, kepuasan, bahaya, dan jalan membebaskan diri sehubungan dengan enam landasan kontak. Ketika seseorang memahami hal-hal ini sebagaimana adanya, maka, kebodohan dan ketidak-tahuan tidak berdiam dalam dirinya sehubungan dengan enam landasan kontak. Ini disebut pemutusan ikatan ketidak-tahuan. Demikianlah pemutusan ikatan indriawi, pemutusan ikatan penjelmaan, pemutusan ikatan pandangan, dan pemutusan ikatan ketidak-tahuan.

“Seorang terlepas dari kondisi-kondisi buruk yang tidak bermanfaat yang mengotori, yang menghasilkan penjelmaan baru, yang menyusahkan, yang matang dalam penderitaan, yang mengarah pada kelahiran, penuaan, dan kematian di masa depan; oleh karena itu ia dikatakan ‘aman dari ikatan.’ Ini adalah keempat pemutusan ikatan itu.”

Terbelenggu oleh ikatan indriawi dan ikatan penjelmaan, terbelenggu oleh ikatan pandangan, yang didahului oleh ketidak-tahuan, makhluk-makhluk berlanjut dalam saṃsāra, yang mengarah pada kelahiran dan kematian.

Tetapi setelah sepenuhnya memahami kenikmatan-kenikmatan indria dan ikatan penjelmaan, setelah mencabut ikatan pandangan dan meleburkan ketidak-tahuan, para bijaksana telah memutuskan segala ikatan; mereka telah melampaui ikatan.2 [13]


Catatan Kaki
  1. Bhavānaṃ. Mp membedakan kāmayoga sebagai nafsu yang terhubung dengan kelima objek kenikmatan indria dan bhavayoga sebagai keinginan dan nafsu pada penjelmaan di alam berbentuk dan alam tanpa bentuk. ↩︎

  2. Bersama dengan Ce dan Be membaca yogātigā munī, bukan seperti Ee yogātigāmino. ↩︎