“Para bhikkhu, ketika masih baru, kain yang terbuat dari kulit kayu1 adalah buruk, tidak nyaman, dan bernilai rendah. Ketika telah dipakai,2 kain yang terbuat dari kulit kayu masih buruk, tidak nyaman, dan bernilai rendah. Ketika sudah lama, kain yang terbuat dari kulit kayu masih tetap buruk, tidak nyaman, dan bernilai rendah. Mereka menggunakan kain lama yang terbuat dari kulit kayu untuk membersihkan kendi-kendi atau mereka membuangnya di tumpukan sampah.

(1) (i)3 “Demikianlah pula, para bhikkhu, jika seorang bhikkhu junior tidak bermoral, berkarakter buruk, ini, Aku katakan, adalah keburukannya. [247] Seperti halnya kain yang terbuat dari kulit kayu yang buruk, demikian pula, Aku katakan, orang ini adalah serupa.

(ii) “Bagi mereka yang bergaul dengannya, mengunjunginya, melayaninya, dan mengikuti teladannya, maka hal ini akan mengarah pada bahaya dan penderitaannya untuk waktu yang lama. Ini, Aku katakan, adalah ketidak-nyamanannya. Seperti halnya kain yang terbuat dari kulit kayu yang tidak nyaman, demikian pula, Aku katakan, orang ini adalah serupa.

(iii) “Ketika ia menerima jubah, makanan, tempat tinggal, dan obat-obatan dan perlengkapan bagi yang sakit, [penerimaan] ini adalah tidak berbuah dan tidak bermanfaat besar bagi mereka [yang mempersembahkan benda-benda itu]. Ini, Aku katakan, adalah nilainya yang rendah. Seperti halnya kain yang terbuat dari kulit kayu yang bernilai rendah, demikian pula, Aku katakan, orang ini adalah serupa.

(2) “Jika seorang bhikkhu menengah …

(3) “Jika seorang bhikkhu senior tidak bermoral, berkarakter buruk, ini, Aku katakan, adalah keburukannya … [semuanya seperti di atas] … Seperti halnya kain yang terbuat dari kulit kayu yang bernilai rendah, demikian pula, Aku katakan, orang ini adalah serupa.

“Jika seorang bhikkhu senior demikian berbicara di tengah-tengah Saṅgha, para bhikkhu akan berkata kepadanya: ‘Apa yang memberimu, seorang dungu yang tidak kompeten, hak untuk berbicara? Apakah engkau berpikir bahwa engkau juga berhak untuk berbicara?’ Kemudian ia menjadi marah dan tidak senang dan mengucapkan kata-kata yang karenanya Saṅgha akan mengusirnya, seolah-olah [membuang] kain yang terbuat dari kulit kayu ke tumpukan sampah.4

“Ketika masih baru, para bhikkhu, kain yang berasal dari Kāsi adalah indah, nyaman, dan bernilai tinggi. Ketika telah dipakai, [248] kain yang berasal dari Kāsi adalah indah, nyaman, dan bernilai tinggi. Ketika sudah lama, kain yang berasal dari Kāsi adalah indah, nyaman, dan bernilai tinggi. Mereka menggunakan kain lama yang berasal dari Kāsi untuk membungkus permata atau mereka menyimpannya di dalam peti harum.

(1) (i) “Demikian pula, jika seorang bhikkhu junior bermoral, berkarakter baik, ini, Aku katakan, adalah keindahannya. Seperti halnya kain yang berasal dari Kāsi adalah indah, demikian pula, Aku katakan, orang ini adalah serupa.

(ii) “Bagi mereka yang bergaul dengannya, mengunjunginya, melayaninya, dan mengikuti teladannya, maka hal ini akan mengarah pada kesejahteraan dan kebahagiaannya untuk waktu yang lama. Ini, Aku katakan, adalah kenyamanannya. Seperti halnya kain yang berasal dari Kāsi yang nyaman, demikian pula, Aku katakan, orang ini adalah serupa.

(iii) “Ketika ia menerima jubah, makanan, tempat tinggal, dan obat-obatan dan perlengkapan bagi yang sakit, [penerimaan] ini adalah berbuah dan bermanfaat besar bagi mereka [yang mempersembahkan benda-benda itu]. Ini, Aku katakan, adalah nilainya yang tinggi. Seperti halnya kain yang berasal dari Kāsi yang bernilai tinggi, demikian pula, Aku katakan, orang ini adalah serupa.

(2) “Jika seorang bhikkhu menengah …

(3) “Jika seorang bhikkhu senior bermoral, berkarakter baik, ini, Aku katakan, adalah keindahannya … [semuanya seperti di atas] … Seperti halnya kain yang berasal dari Kāsi adalah bernilai tinggi, demikian pula, Aku katakan, orang ini adalah serupa.

“Jika seorang bhikkhu senior demikian berbicara di tengah-tengah Saṅgha, [249] para bhikkhu akan berkata: ‘Mohon para mulia tenang. Seorang bhikkhu senior sedang membicarakan Dhamma dan disiplin.’ Kata-katanya itu harus dilestarikan, seperti halnya mereka menyimpan kain yang berasal dari Kāsi di dalam sebuah peti harum.5

“Oleh karena itu, para bhikkhu, kalian harus berlatih sebagai berikut: ‘Kami akan seperti kain yang berasal dari Kāsi, bukan seperti kain yang terbuat dari kulit kayu.’ Demikianlah kalian harus berlatih.”


Catatan Kaki
  1. Saya menerjemahkan potthako berdasarkan pada kemasan Mp vākamayavatthaṃ.
  2. Teks menggunakan majjhimo, lit. “berumur pertengahan.”
  3. Ada dua triad dalam sutta ini. Yaitu bhikkhu tidak bermoral dan bermoral yang dibedakan dalam junior, menengah, dan senior, dan pembedaan ini membentuk sebuah triad. Selanjutnya, dalam tiap-tiap jenis, diberikan tiga pernyataan – tentang bhikkhu itu sendiri, dampaknya bagi mereka yang bergaul dengannya, dan jasa yang diperoleh dari pemberian yang diberikan kepadanya – yang juga membentuk sebuah triad. Saya menunjukkan triad utama dengan penomoran Arab dan bagian minor dengan penomoran Romawi kecil.
  4. Dalam Ee, kalimat ini menandai akhir sutta dan paragraf berikutnya menandai sutta baru. Saya mengikuti Ce dan Be, yang memperlakukan paragraf tentang kain dari Kāsi sebagai kelanjutan dari sutta yang sama. Penomoran saya sekarang lebih satu dari Ee.
  5. Tassa taṃ vacanaṃ ādheyyaṃ gacchati gandhakaraṇḍake va naṃ kāsikavatthaṃ nikkhipanti. Kalimat terakhir ini termasuk dalam Ee, dalam tanda kurung, tetapi tidak dalam Ce atau Be. Akan tetapi, Pp 34,37-35,1, tentang tayo kāsikavatthūpamā puggalā, memasukkan kalimat ini (tetapi tanpa nikkhipanti). Saya memasukkannya karena perumpamaan ini adalah padanan yang sesuai dengan yang persis di atas tentang mengusir seorang bhikkhu senior yang tidak bermoral.