“Para bhikkhu, ada tiga jenis kumpulan ini.1 Apakah tiga ini? Kumpulan yang terunggul, kumpulan yang terpecah, dan kumpulan yang harmonis. [243]

(1) “Dan apakah, para bhikkhu, kumpulan yang terunggul? Di sini, dalam jenis kumpulan ini para bhikkhu senior tidak hidup mewah dan tidak menjadi mengendur, melainkan membuang kebiasaan-kebiasaan lama dan menjadi pelopor dalam keterasingan; mereka membangkitkan kegigihan untuk mencapai apa-yang-belum-dicapai, untuk memperoleh apa-yang-belum-diperoleh, untuk merealisasikan apa-yang-belum-direalisasikan. [Mereka dalam] generasi berikutnya mengikuti teladan mereka. Mereka juga tidak hidup mewah dan tidak menjadi mengendur, melainkan membuang kebiasaan-kebiasaan lama dan menjadi pelopor dalam keterasingan; mereka juga membangkitkan kegigihan untuk mencapai apa-yang-belum-dicapai, untuk memperoleh apa-yang-belum-diperoleh, untuk merealisasikan apa-yang-belum-direalisasikan. Ini disebut kumpulan yang terunggul.

(2) “Dan apakah kumpulan yang terpecah? Di sini, kumpulan di mana para bhikkhu terlibat dalam perdebatan dan pertengkaran dan jatuh ke dalam perselisihan, saling menusuk satu sama lain dengan kata-kata tajam, disebut kumpulan yang terpecah.

(3) “Dan apakah kumpulan yang harmonis? Di sini, kumpulan di mana para bhikkhu berdiam dalam kerukunan, dengan harmonis, tanpa perselisihan, bercampur bagaikan susu dan air, saling melihat satu sama lain dengan tatapan kasih sayang, disebut kumpulan yang harmonis.

“Ketika para bhikkhu berdiam dalam kerukunan, dengan harmonis, tanpa perselisihan, bercampur bagaikan susu dan air, saling melihat satu sama lain dengan tatapan kasih sayang, pada saat itu mereka menghasilkan banyak jasa. Pada saat itu para bhikkhu berdiam di alam brahma, yaitu, dalam kebebasan pikiran melalui kegembiraan altruistik. Ketika seseorang bergembira, maka sukacita muncul. Pada seorang dengan pikiran bersukacita, maka jasmaninya menjadi tenang. Seorang yang tenang dalam jasmani merasakan kenikmatan. Pada seorang yang merasakan kenikmatan, maka pikirannya menjadi terkonsentrasi.

“Seperti halnya, ketika hari hujan dan hujan menjatuhkan butiran-butiran tetes air hujan di puncak gunung, air mengalir turun di sepanjang lereng dan mengisi celah, parit, dan anak sungai; ini, setelah menjadi penuh, akan memenuhi kolam-kolam; ini, setelah penuh, akan memenuhi danau-danau; ini, setelah penuh, akan memenuhi sungai-sungai kecil; ini, setelah penuh, akan memenuhi sungai-sungai besar; dan ini, setelah penuh, akan memenuhi samudra; demikian pula, ketika para bhikkhu berdiam dalam kerukunan, dengan harmonis, tanpa perselisihan, bercampur bagaikan susu dan air, saling melihat satu sama lain [244] dengan tatapan kasih sayang, pada saat itu mereka menghasilkan banyak jasa. Pada saat itu para bhikkhu berdiam di alam brahma, yaitu, dalam kebebasan pikiran melalui kegembiraan altruistik. Ketika seseorang bergembira, maka sukacita muncul. Pada seorang dengan pikiran bersukacita, maka jasmaninya menjadi tenang. Seorang yang tenang dalam jasmani merasakan kenikmatan. Pada seorang yang merasakan kenikmatan, maka pikirannya menjadi terkonsentrasi.

“Ini, para bhikkhu, adalah ketiga jenis kumpulan itu.”


Catatan Kaki
  1. Sintesa sebagian dari 2:43 dan 2:44.