1

“Para bhikkhu, seperti halnya, di musim gugur, ketika langit bersih dan tanpa awan, matahari naik di langit, menghalau segala kegelapan dari angkasa ketika bercahaya, memancar dan bersinar, demikian pula, ketika mata Dhamma yang bebas dari debu dan tanpa noda muncul pada siswa mulia, kemudian, bersama dengan munculnya penglihatan, siswa mulia itu meninggalkan tiga belenggu: pandangan adanya diri, keragu-raguan, dan genggaman keliru pada perilaku dan upacara.2

“Setelah itu, ketika ia meninggalkan dua kondisi, kerinduan dan niat buruk, kemudian dengan terasing dari kenikmatan-kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat, ia masuk dan berdiam dalam jhāna pertama, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan, yang disertai oleh pemikiran dan pemeriksaan. Jika, para bhikkhu, siswa mulia itu meninggal dunia pada saat itu, maka tidak ada belenggu yang mengikatnya yang dengannya ia dapat kembali ke dunia ini.”3


Catatan Kaki
  1. Ee secara keliru mencetak sutta ini sebagai bagian dari sutta sebelumnya. Ce dan Be, yang saya ikuti, memperlakukannya secara terpisah.
  2. Mp menjelaskan dhammacakkhu sehubungan dengan pengalaman-pengalaman dari konsep jalan sesaat dari komentar sebagai “mata dari jalan memasuki-arus yang memahami Dhamma empat kebenaran mulia.”
  3. Frasa ini biasanya menunjukkan pencapaian yang-tidak-kembali. Akan tetapi, Mp mengidentifikasikan siswa ini sebagai seorang “yang-tidak-kembali jhāna” (jhānānāgāmī), yaitu, seorang pemasuk-arus atau yang-kembali-sekali yang juga mencapai jhāna. Walaupun praktisi demikian masih belum melenyapkan kedua belenggu keinginan indria dan permusuhan, namun dengan mencapai jhāna maka ia pasti terlahir kembali di alam berbentuk dan mencapai nibbāna di sana, tanpa terlahir kembali di alam indria.