“Para bhikkhu, setiap setengah bulan lebih dari seratus lima puluh aturan latihan dilafalkan; orang-orang yang menginginkan kebaikan mereka sendiri akan berlatih dalam aturan-aturan ini. Aturan-aturan ini seluruhnya membentuk tiga latihan ini. Apakah tiga ini? Latihan dalam perilaku bermoral yang lebih tinggi, latihan dalam pikiran yang lebih tinggi, dan latihan dalam kebijaksanaan yang lebih tinggi. Ini adalah ketiga latihan yang terbentuk dari semua aturan tersebut.

“Di sini, para bhikkhu, seorang bhikkhu memenuhi perilaku bermoral, tetapi melatih konsentrasi dan kebijaksanaan hanya hingga batas menengah. Ia jatuh dalam pelanggaran sehubungan dengan aturan-aturan latihan minor dan ringan dan merehabilitasi dirinya sendiri.1 Karena alasan apakah? Karena Aku tidak mengatakan bahwa ia tidak mampu dalam hal ini.2 Tetapi sehubungan dengan aturan-aturan latihan itu yang menjadi dasar bagi kehidupan spiritual, yang selaras dengan kehidupan spiritual,3 perilakunya adalah konstan dan kokoh. Setelah menerima aturan-aturan latihan, ia berlatih di dalamnya. Dengan kehancuran sepenuhnya tiga belenggu, [232] ia menjadi seorang pemasuk-arus, tidak lagi tunduk pada [kelahiran kembali] di alam rendah, pasti dalam tujuannya, dengan pencerahan sebagai tujuannya.

“Seorang bhikkhu lainnya memenuhi perilaku bermoral, tetapi melatih konsentrasi dan kebijaksanaan hanya hingga batas menengah. Ia jatuh dalam pelanggaran sehubungan dengan aturan-aturan latihan minor dan ringan dan merehabilitasi dirinya sendiri. Karena alasan apakah? Karena Aku tidak mengatakan bahwa ia tidak mampu dalam hal ini. Tetapi sehubungan dengan aturan-aturan latihan itu yang menjadi dasar bagi kehidupan spiritual, yang selaras dengan kehidupan spiritual, perilakunya adalah konstan dan kokoh. Setelah menerima aturan-aturan latihan, ia berlatih di dalamnya. Dengan kehancuran sepenuhnya tiga belenggu dan melemahnya keserakahan, kebencian, dan delusi, ia menjadi seorang yang-kembali-sekali yang, setelah kembali ke dunia ini satu kali lagi, ia akan mengakhiri penderitaan.

“Seorang bhikkhu lainnya memenuhi perilaku bermoral dan konsentrasi, tetapi melatih kebijaksanaan hanya hingga batas menengah. Ia jatuh dalam pelanggaran sehubungan dengan aturan-aturan latihan minor dan ringan dan merehabilitasi dirinya sendiri. Karena alasan apakah? Karena Aku tidak mengatakan bahwa ia tidak mampu dalam hal ini. Tetapi sehubungan dengan aturan-aturan latihan itu yang menjadi dasar bagi kehidupan spiritual, yang selaras dengan kehidupan spiritual, perilakunya adalah konstan dan kokoh. Setelah menerima aturan-aturan latihan, ia berlatih di dalamnya. Dengan kehancuran sepenuhnya lima belenggu yang lebih rendah, ia menjadi seorang yang terlahir spontan, akan mencapai nibbāna akhir di sana tanpa kembali dari alam itu.

“Seorang bhikkhu lainnya memenuhi perilaku bermoral, konsentrasi, dan kebijaksanaan. Ia jatuh dalam pelanggaran sehubungan dengan aturan-aturan latihan minor dan ringan dan merehabilitasi dirinya sendiri. Karena alasan apakah? Karena Aku tidak mengatakan bahwa ia tidak mampu dalam hal ini. Tetapi sehubungan dengan aturan-aturan latihan itu yang menjadi dasar bagi kehidupan spiritual, yang selaras dengan kehidupan spiritual, perilakunya adalah konstan dan kokoh. Setelah menerima aturan-aturan latihan, ia berlatih di dalamnya. Dengan hancurnya noda-noda, ia merealisasikan untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung, dalam kehidupan ini, kebebasan pikiran yang tanpa noda, kebebasan melalui kebijaksanaan, dan setelah memasukinya, ia berdiam di dalamnya.

“Demikianlah, para bhikkhu, seorang yang berlatih sebagian akan berhasil sebagian; seorang yang berlatih sepenuhnya akan mencapai pemenuhan. Aturan-aturan latihan ini, Aku katakan, adalah tidak mandul.”


Catatan Kaki
  1. Khuddānukhuddakāni sikkhāpadāni. Pada DN 16.6.3, II 154,16-17, tidak lama sebelum wafat, Sang Buddha memperbolehkan para bhikkhu, jika mereka menghendaki, untuk menghapuskan aturan-aturan ini. Akan tetapi, dalam kisah konsili Buddhis pertama dalam Vinaya, para bhikkhu tidak memastikan aturan-aturan mana yang minor dan oleh karena itu memutuskan untuk mempertahankan semuanya (Vin II 287,29-288,35). Mp, dalam mengomentari sutta sekarang ini, mengatakan: “Para guru yang memiliki kekhususan dalam Anguttara Nikāya, mengatakan, ‘Terlepas dari empat pārājika (pelanggaran yang mengakibatkan pengusiran), semua lainnya adalah kecil dan minor’” (ime pana aṅguttaramahānikāyavaḷañjanaka-ācariyā ‘cattāri pārājikāni ṭhapetvā sesāni sabbānipi khuddānukhuddakāni’).
  2. Na hi m’ettha, bhikkhave, abhabbatā vuttā. Mp menuliskan: “Para bhikkhu, Aku tidak mengatakan bahwa adalah tidak mungkin bagi seorang mulia untuk jatuh ke dalam pelanggaran demikian dan direhabilitasi” (bhikkhave na hi mayā ettha evarūpaṃ āpattiṃ āpajjane ca vuṭṭhāne ca ariyapuggalassa abhabbatā kathitā).
  3. Tāni ādibrahmacariyikāni brahmacariyasāruppāni. Mp: “Aturan-aturan latihan itu yang fundamental bagi kehidupan spiritual: ini adalah empat aturan latihan utama yang fundamental bagi kehidupan spiritual sang jalan. Yang selaras dengan kehidupan spiritual: [aturan-aturan] yang sama ini adalah selaras dengan, sesuai untuk, kehidupan spiritual empat jalan” (*ādibrahmacariyikānī ti maggabrahmacariyassa ādibhūtāni cattāri mahāsīlasikkhāpadāni; brahmacariyasāruppānī ti tāni yeva catumaggabrahmacariyassa sāruppāni anucchavikāni*).