Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di antara orang-orang Sakya di Kapilavatthu di Taman Pohon Banyan. Pada saat itu Sang Bhagavā baru saja sembuh dari sakitNya. Kemudian orang Sakya Mahānāma mendatangi Sang Bhagavā, bersujud kepada Beliau, duduk di satu sisi, dan berkata kepadaNya:

“Sejak lama, Bhante, aku telah memahami Dhamma yang diajarkan oleh Sang Bhagavā sebagai berikut: ‘Pengetahuan muncul pada seseorang yang terkonsentrasi, bukan pada seseorang yang tanpa konsentrasi.’ Apakah konsentrasi mendahului pengetahuan, Bhante, atau apakah pengetahuan mendahului konsentrasi?”

Kemudian Yang Mulia Ānanda berpikir: “Sang Bhagavā baru saja sembuh dari sakitNya, namun orang Sakya Mahānāma ini menanyainya dengan pertanyaan yang sangat mendalam. Biarlah aku mengajak Mahānāma orang Sakya ini menjauh ke satu sisi dan mengajarkan Dhamma kepadanya.”

Kemudian Yang Mulia Ānanda memegang tangan Mahānāma si orang Sakya, dan menuntunnya menjauh ke satu sisi, dan berkata kepadanya: “Sang Bhagavā telah membabarkan tentang perilaku bermoral dari seorang yang masih berlatih dan perilaku bermoral dari seorang yang melampaui latihan, konsentrasi dari seorang yang masih berlatih [220] dan konsentrasi dari seorang yang melampaui latihan, kebijaksanaan dari seorang yang masih berlatih dan kebijaksanaan dari seorang yang melampaui latihan.

(1) “Dan apakah, Mahānāma, perilaku bermoral dari seorang yang masih berlatih? Di sini, seorang bhikkhu adalah bermoral; ia berdiam dengan terkendali oleh Pātimokkha, memiliki perilaku dan tempat kunjungan yang baik, melihat bahaya dalam kesalahan-kesalahan kecil. Setelah menerima aturan-aturan latihan, ia berlatih di dalamnya. Ini disebut perilaku bermoral dari seorang yang masih berlatih.

(2) “Dan apakah, konsentrasi dari seorang yang masih berlatih?1 Di sini, dengan terasing dari kenikmatan-kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna pertama … [seperti pada 3:58] … jhāna ke empat … Ini disebut konsentrasi dari seorang yang masih berlatih.

(3) “Dan apakah, kebijaksanaan dari seorang yang masih berlatih? Di sini, seorang bhikkhu memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah penderitaan’ … [seperti pada 3:12] … ‘Ini adalah jalan menuju lenyapnya penderitaan.’ Ini disebut kebijaksanaan dari seorang yang masih berlatih.

“Ketika siswa mulia tersebut telah sempurna dalam perilaku bermoral, konsentrasi, dan kebijaksanaan, maka dengan hancurnya noda-noda, ia merealisasikan untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung, dalam kehidupan ini, kebebasan pikiran yang tanpa noda, kebebasan pikiran melalui kebijaksanaan, dan setelah memasukinya, ia berdiam di dalamnya.2

“Adalah dengan cara ini, Mahānāma, Sang Bhagavā membabarkan tentang perilaku bermoral dari seorang yang masih berlatih dan perilaku bermoral dari seorang yang melampaui latihan; tentang konsentrasi dari seorang yang masih berlatih dan konsentrasi dari seorang yang melampaui latihan; tentang kebijaksanaan dari seorang yang masih berlatih dan kebijaksanaan dari seorang yang melampaui latihan.”


Catatan Kaki
  1. Ee menghilangkan pertanyaannya di sini.
  2. Mp: “Setelah menjelaskan perilaku bermoral, konsentrasi, dan kebijaksanaan dari seorang yang masih berlatih (sekha), ia menjelaskan perilaku bermoral, konsentrasi, dan kebijaksanaan dari seorang yang melampaui latihan (asekha) melalui buah Kearahattaan: ‘Pengetahuan buah dari seorang yang melampaui latihan muncul lebih belakangan daripada konsentrasi dan pengetahuan pandangan terang dari seorang yang masih berlatih. Konsentrasi buah pada seorang yang melampaui latihan muncul lebih belakangan daripada pengetahuan pandangan terang dari seorang yang masih berlatih.’”