easter-japanese

Demikianlah yang kudengar. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Istana Migāramātā di Taman Timur. Kemudian pada hari uposatha Visākhā Migāramātā mendatangi Sang Bhagavā, bersujud kepada Beliau¸dan duduk di satu sisi. Kemudian Sang Bhagavā berkata kepadanya:

“Mengapakah, Visākhā, engkau datang di siang hari ini?”

“Hari ini, Bhante, aku sedang menjalankan uposatha.”

“Ada, Visākhā, tiga jenis uposatha. Apakah tiga ini? Uposatha penggembala, uposatha Nigaṇṭha,1 dan uposatha para mulia.

(1) “Dan bagaimanakah, Visākhā, uposatha penggembala itu dijalankan? Misalkan, Visākhā, pada malam hari seorang penggembala mengembalikan sapi-sapinya kepada pemiliknya. Ia merefleksikan sebagai berikut: ‘Hari ini sapi-sapi merumput di tempat-tempat ini dan itu dan meminum air dari tempat-tempat ini dan itu. Besok sapi-sapi merumput di tempat-tempat ini dan itu dan meminum air dari tempat-tempat ini dan itu.’ Demikian pula, seseorang di sini menjalankan uposatha dengan merefleksikan sebagai berikut: ‘Hari ini aku memakan ini dan itu; hari ini aku memakan makanan jenis ini dan itu. [206] Besok aku memakan ini dan itu; besok aku memakan makanan jenis ini dan itu. Dengan demikian ia melewatkan hari itu dengan keserakahan dan kerinduan dalam pikirannya. Adalah dengan cara demikian uposatha penggembala dijalankan. Uposatha penggembala, yang dijalankan demikian, tidak berbuah dan bermanfaat besar, juga tidak luar biasa cemerlang dan menyebar.

(2) “Dan bagaimanakah, Visākhā, uposatha Nigaṇṭha dijalankan? Ada, Visākhā, para petapa yang disebut para Nigaṇṭha. Mereka menginstruksikan para siswa mereka sebagai berikut: ‘Marilah, sahabat, letakkanlah tongkat pemukul terhadap makhluk-makhluk hidup yang berdiam dalam jarak lebih dari seratus yojana di arah timur.2 Letakkanlah tongkat pemukul terhadap makhluk-makhluk hidup yang berdiam dalam jarak lebih dari seratus yojana di arah barat. Letakkanlah tongkat pemukul terhadap makhluk-makhluk hidup yang berdiam dalam jarak lebih dari seratus yojana di arah utara. Letakkanlah tongkat pemukul terhadap makhluk-makhluk hidup yang berdiam dalam jarak lebih dari seratus yojana di arah selatan.’ Demikianlah mereka menginstruksikan mereka agar bersimpati dan berbelas kasihan terhadap beberapa makhluk hidup, tetapi tidak pada yang lainnya. Pada hari uposatha, mereka menginstruksikan para siswa mereka sebagai berikut: ‘Marilah, sahabat, setelah menyingkirkan semua pakaian, ucapkan: ‘Aku sama sekali bukan milik siapa pun, juga segala sesuatu di mana pun juga sama sekali bukan milikku.’3 Akan tetapi, orangtuanya mengetahui: ‘Ini adalah putra kami.’ Dan ia mengetahui: ‘Mereka ini adalah orangtuaku.’ Istri dan anak-anaknya mengetahui: ‘Ia adalah penyokong kami.’ Dan ia mengetahui: ‘Mereka ini adalah istri dan anak-anakku.’ Para budak, pekerja, dan pelayannya mengetahui: ‘Ia adalah majikan kami.’ Dan ia mengetahui: ‘Mereka ini adalah para budak, pekerja, dan pelayanku.’ Demikianlah pada suatu kesempatan di mana mereka seharusnya diajarkan dalam kejujuran, [para Nigaṇṭha] mengajarkan mereka dalam kebohongan. Ini, Aku katakan, adalah ucapan salah. Ketika malam berlalu, ia menggunakan kepemilikan yang belum diberikan. Ini, aku katakan, adalah mengambil apa yang tidak diberikan. Adalah dengan cara ini uposatha para Nigaṇṭha dijalankan. Ketika seseorang menjalankan uposatha seperti cara para Nigaṇṭha, maka uposatha itu tidak berbuah dan bermanfaat besar, juga tidak luar biasa cemerlang dan menyebar.

(3) “Dan bagaimanakah, Visākhā, uposatha para mulia dijalankan? [207] Pikiran yang kotor dibersihkan melalui usaha.4 Dan bagaimanakah pikiran yang kotor dibersihkan melalui usaha? Di sini, Visākhā, seorang siswa mulia mengingat Sang Tathāgata sebagai berikut: ‘Sang Bhagavā adalah seorang Arahant, tercerahkan sempurna, sempurna dalam pengetahuan sejati dan perilaku, sempurna menempuh sang jalan, pengenal dunia, pelatih terbaik bagi orang-orang yang harus dijinakkan, guru para deva dan manusia, Yang Tercerahkan, Yang Suci.’ Ketika seorang siswa mulia mengingat Sang Tathāgata, pikirannya menjadi tenang, kegembiraan muncul, dan kekotoran-kekotoran pikiran ditinggalkan dengan cara yang sama seperti kepala seseorang, ketika kotor, dibersihkan melalui usaha.

“Dan bagaimanakah, Visākhā, seseorang membersihkan kepala yang kotor melalui usaha? Dengan menggunakan pasta, lempung, air, dan usaha yang tepat oleh orang tersebut. Adalah dengan cara ini kepala seseorang, ketika kotor, dibersihkan melalui usaha. Demikian pula, pikiran yang kotor dibersihkan melalui usaha. Dan bagaimanakah pikiran yang kotor dibersihkan melalui usaha? Di sini, Visākhā, seorang siswa mulia mengingat Sang Tathāgata sebagai berikut: ‘Sang Bhagavā adalah … guru para deva dan manusia, Yang Tercerahkan, Yang Suci.’ Ketika seorang siswa mulia mengingat Sang Tathāgata, pikirannya menjadi tenang, kegembiraan muncul, dan kekotoran pikiran ditinggalkan. Ini disebut seorang siswa mulia yang menjalankan uposatha Brahmā, yang berdiam bersama dengan Brahmā, dan adalah dengan mempertimbangkan Brahmā maka pikirannya menjadi tenang, kegembiraan muncul, dan kekotoran pikiran ditinggalkan.5 Adalah dengan cara ini pikiran yang kotor itu dibersihkan melalui usaha.

“Pikiran yang kotor, Visākhā, dibersihkan melalui usaha. Dan bagaimanakah pikiran yang kotor dibersihkan melalui usaha? Di sini, Visākhā, seorang siswa mulia mengingat Dhamma sebagai berikut: ‘Dhamma telah dibabarkan dengan baik oleh Sang Bhagavā, terlihat langsung, segera, mengundang seseorang untuk datang dan melihat, dapat diterapkan, untuk dialami secara pribadi oleh para bijaksana.’ Ketika seorang siswa mulia mengingat Dhamma, pikirannya menjadi tenang, kegembiraan muncul, dan kekotoran pikiran [208] ditinggalkan dengan cara yang sama seperti badan seseorang, ketika kotor, dibersihkan melalui usaha.

“Dan bagaimanakah, Visākhā, seseorang membersihkan badan yang kotor melalui usaha? Dengan menggunakan sikat mandi, bubuk lemon, air, dan usaha tepat oleh orang tersebut. Adalah dengan cara ini badan seseorang, ketika kotor, dibersihkan melalui usaha. Demikian pula, pikiran yang kotor dibersihkan melalui usaha. Dan bagaimanakah pikiran yang kotor dibersihkan melalui usaha? Di sini, Visākhā, seorang siswa mulia mengingat Dhamma sebagai berikut: ‘Dhamma telah dibabarkan dengan baik oleh Sang Bhagavā … untuk dialami secara pribadi oleh para bijaksana.’ Ketika seorang siswa mulia mengingat Dhamma, pikirannya menjadi tenang, kegembiraan muncul, dan kekotoran pikiran ditinggalkan. Ini disebut seorang siswa mulia yang menjalankan uposatha Dhamma, yang berdiam bersama dengan Dhamma, dan adalah dengan mempertimbangkan Dhamma maka pikirannya menjadi tenang, kegembiraan muncul, dan kekotoran pikiran ditinggalkan. Adalah dengan cara ini pikiran yang kotor itu dibersihkan melalui usaha.

“Pikiran yang kotor, Visākhā, dibersihkan melalui usaha. Dan bagaimanakah pikiran yang kotor dibersihkan melalui usaha? Di sini, Visākhā, seorang siswa mulia mengingat Saṅgha sebagai berikut: ‘Saṅgha para siswa Sang Bhagavā mempraktikkan jalan yang baik, mempraktikkan jalan yang lurus, mempraktikkan jalan yang benar, mempraktikkan jalan yang selayaknya; yaitu, empat pasang makhluk, delapan jenis individu - Saṅgha para siswa Sang Bhagava ini layak menerima pemberian, layak menerima keramahan, layak menerima persembahan, layak menerima penghormatan, lahan jasa yang tiada taranya di dunia.’ Ketika seorang siswa mulia mengingat Saṅgha, pikirannya menjadi tenang, kegembiraan muncul, dan kekotoran pikiran ditinggalkan dengan cara yang sama seperti kain kotor yang dibersihkan melalui usaha.

“Dan bagaimanakah, Visākhā, seseorang membersihkan kain kotor melalui usaha? [209] Dengan menggunakan panas, larutan pencuci, kotoran sapi, air, dan usaha tepat oleh orang tersebut. Adalah dengan cara ini kain kotor dibersihkan melalui usaha. Demikian pula, pikiran yang kotor dibersihkan melalui usaha. Dan bagaimanakah pikiran yang kotor dibersihkan melalui usaha? Di sini, Visākhā, seorang siswa mulia mengingat Saṅgha sebagai berikut: ‘Saṅgha para siswa Sang Bhagavā mempraktikkan jalan yang baik … lahan jasa yang tiada taranya di dunia.’ Ketika seorang siswa mulia mengingat Saṅgha, pikirannya menjadi tenang, kegembiraan muncul, dan kekotoran pikiran ditinggalkan. Ini disebut seorang siswa mulia yang menjalankan uposatha Saṅgha, yang berdiam bersama dengan Saṅgha, dan adalah dengan mempertimbangkan Saṅgha maka pikirannya menjadi tenang, kegembiraan muncul, dan kekotoran pikiran ditinggalkan. Adalah dengan cara ini pikiran yang kotor itu dibersihkan melalui usaha.

“Pikiran yang kotor, Visākhā, dibersihkan melalui usaha. Dan bagaimanakah pikiran yang kotor dibersihkan melalui usaha? Di sini, Visākhā, seorang siswa mulia mengingat perilaku bermoralnya sendiri sebagai tidak rusak, tanpa cacat, tanpa noda, tanpa bercak, membebaskan, dipuji oleh para bijaksana, tidak dicengkeram, mengarah pada konsentrasi. Ketika seorang siswa mulia mengingat perilaku bermoralnya sendiri, pikirannya menjadi tenang, kegembiraan muncul, dan kekotoran-kekotoran pikiran ditinggalkan dengan cara yang sama seperti cermin kotor yang dibersihkan melalui usaha.

“Dan bagaimanakah, Visākhā, seseorang membersihkan cermin kotor melalui usaha? Dengan menggunakan minyak, abu, gulungan kain, dan usaha tepat oleh orang tersebut. Adalah dengan cara ini cermin kotor dibersihkan melalui usaha. Demikian pula, pikiran yang kotor dibersihkan melalui usaha. Dan bagaimanakah pikiran yang kotor dibersihkan melalui usaha? [210] Di sini, Visākhā, seorang siswa mulia mengingat perilaku bermoralnya sendiri sebagai tidak rusak … mengarah pada konsentrasi. Ketika seorang siswa mulia mengingat perilaku bermoralnya sendiri, pikirannya menjadi tenang, kegembiraan muncul, dan kekotoran pikiran ditinggalkan. Ini disebut seorang siswa mulia yang menjalankan uposatha perilaku bermoral, yang berdiam bersama dengan perilaku bermoral, dan adalah dengan mempertimbangkan perilaku bermoral maka pikirannya menjadi tenang, kegembiraan muncul, dan kekotoran pikiran ditinggalkan. Adalah dengan cara ini pikiran yang kotor itu dibersihkan melalui usaha.

“Pikiran yang kotor, Visākhā, dibersihkan melalui usaha. Dan bagaimanakah pikiran yang kotor dibersihkan melalui usaha? Di sini, Visākhā, seorang siswa mulia mengingat para dewata sebagai berikut: ‘Ada para deva [yang diperintah] oleh empat raja dewa, para deva Tāvatiṃsa, para deva Yāma, para deva Tusita, para deva yang bersenang-senang dalam penciptaan, para deva yang mengendalikan apa yang diciptakan oleh para deva lain, para deva kelompok Brahmā, dan para deva yang bahkan lebih tinggi dari ini.6 Aku juga memiliki keyakinan demikian seperti yang dimiliki oleh para dewata itu yang karenanya, ketika mereka meninggal dunia, mereka terlahir kembali di sana; aku juga memiliki perilaku bermoral demikian … pembelajaran demikian … kedermawanan demikian … kebijaksanaan demikian seperti yang dimiliki oleh para dewata itu yang karenanya, ketika mereka meninggal dunia, mereka terlahir kembali di sana.’ Ketika seorang siswa mulia mengingat keyakinan, perilaku bermoral, pembelajaran, kedermawanan, dan kebijaksanaan dalam dirinya dan dalam diri para dewata tersebut, pikirannya menjadi tenang, kegembiraan muncul, dan kekotoran pikiran ditinggalkan dengan cara yang sama seperti emas tidak murni yang dibersihkan melalui usaha.

“Dan bagaimanakah, Visākhā, emas tidak murni dibersihkan melalui usaha? Dengan menggunakan tungku, garam, kapur merah, pipa peniup dan jepitan, dan usaha tepat oleh orang tersebut. Adalah dengan cara ini emas tidak murni dibersihkan melalui usaha. Demikian pula, pikiran yang kotor dibersihkan melalui usaha. [211] Dan bagaimanakah pikiran yang kotor dibersihkan melalui usaha? Di sini, Visākhā, seorang siswa mulia mengingat sebagai berikut: ‘Ada para deva [yang diperintah] oleh empat raja dewa … dan para deva yang bahkan lebih tinggi dari ini. Aku juga memiliki keyakinan demikian … kebijaksanaan demikian seperti yang dimiliki oleh para dewata itu yang karenanya, ketika mereka meninggal dunia, mereka terlahir kembali di sana.’ Ketika seorang siswa mulia mengingat keyakinan, perilaku bermoral, pembelajaran, kedermawanan, dan kebijaksanaan dalam dirinya dan dalam diri para dewata tersebut, pikirannya menjadi tenang, kegembiraan muncul, dan kekotoran pikiran ditinggalkan. Ini disebut seorang siswa mulia yang menjalankan uposatha para dewata, yang berdiam bersama dengan para dewata, dan adalah dengan mempertimbangkan para dewata maka pikirannya menjadi tenang, kegembiraan muncul, dan kekotoran pikiran ditinggalkan. Adalah dengan cara ini pikiran yang kotor itu dibersihkan melalui usaha.

(i) “Siswa mulia ini, Visākhā, merefleksikan sebagai berikut:7 ‘Selama mereka hidup para Arahant meninggalkan dan menghindari pembunuhan; dengan tongkat pemukul dan senjata dikesampingkan, berhati-hati dan baik hati, mereka berdiam dengan berbelas kasihan pada semua makhluk hidup. Hari ini, selama sehari dan semalam ini, aku juga akan meninggalkan dan menghindari pembunuhan; dengan tongkat pemukul dan senjata dikesampingkan, berhati-hati dan baik hati, aku juga akan berdiam dengan berbelas kasihan pada semua makhluk hidup. Aku akan meniru para Arahant dalam hal ini dan uposatha ini akan dijalankan olehku.

(ii) “‘Selama mereka hidup para Arahant meninggalkan dan menghindari mengambil apa yang tidak diberikan; mereka mengambil hanya apa yang diberikan, mengharapkan hanya apa yang diberikan, dan jujur dalam pikiran, hampa dari pencurian. Hari ini, selama sehari dan semalam ini, aku juga akan meninggalkan dan menghindari mengambil apa yang tidak diberikan; aku akan mengambil hanya apa yang diberikan, mengharapkan hanya apa yang diberikan, dan jujur dalam pikiran, hampa dari pencurian. Aku akan meniru para Arahant dalam hal ini dan uposatha ini akan dijalankan olehku.

(iii) “‘Selama mereka hidup para Arahant meninggalkan aktivitas seksual dan menjalankan kehidupan selibat, hidup terpisah, menghindari hubungan seksual, praktik orang-orang biasa. Hari ini, selama sehari dan semalam ini, aku juga akan meninggalkan aktivitas seksual dan menjalankan kehidupan selibat, hidup terpisah, menghindari hubungan seksual, praktik orang-orang biasa. Aku akan meniru para Arahant dalam hal ini dan uposatha ini akan dijalankan olehku. [212]

(iv) “‘Selama mereka hidup para Arahant meninggalkan dan menghindari berbohong; mereka mengucapkan kebenaran, menganut kebenaran; mereka terpercaya dan dapat diandalkan, bukan penipu dunia. Hari ini, selama sehari dan semalam ini, aku juga akan menjadi seorang pengucap kebenaran, seorang penganut kebenaran, terpercaya dan dapat diandalkan, bukan penipu dunia. Aku akan meniru para Arahant dalam hal ini dan uposatha ini akan dijalankan olehku.

(v) “‘Selama mereka hidup para Arahant meninggalkan dan menghindari minuman keras, anggur, dan minuman memabukkan, yang menjadi landasan bagi kelengahan. Hari ini, selama sehari dan semalam ini, aku juga akan meninggalkan dan menghindari minuman keras, anggur, dan minuman memabukkan, yang menjadi landasan bagi kelengahan. Aku akan meniru para Arahant dalam hal ini dan uposatha ini akan dijalankan olehku.

(vi) “‘Selama mereka hidup para Arahant makan satu kali sehari,8 menghindari makan di malam hari dan di luar waktu yang benar. Hari ini, selama sehari dan semalam ini, aku juga akan makan satu kali sehari, menghindari makan di malam hari dan di luar waktu yang benar. Aku akan meniru para Arahant dalam hal ini dan uposatha ini akan dijalankan olehku.

(vii) “‘Selama mereka hidup para Arahant menghindari menari, menyanyi, musik instrumental, dan pertunjukan yang tidak selayaknya, dan menghindari menghias dan mempercantik diri mereka dengan mengenakan kalung bunga dan mengoleskan wangi-wangian dan salep. Hari ini, selama sehari dan semalam ini, aku juga akan menghindari menari, menyanyi, musik instrumental, dan pertunjukan yang tidak selayaknya, dan menghindari menghias dan mempercantik diriku dengan mengenakan kalung bunga dan mengoleskan wangi-wangian dan salep. Aku akan meniru para Arahant dalam hal ini dan uposatha ini akan dijalankan olehku.

(viii) “‘Selama mereka hidup para Arahant meninggalkan dan menghindari menggunakan tempat tidur yang tinggi dan mewah; mereka berbaring di tempat tidur yang rendah, apakah tempat tidur kecil atau alas tidur jerami. Hari ini, selama sehari dan semalam ini, aku juga akan meninggalkan dan menghindari menggunakan tempat tidur yang tinggi dan mewah; aku akan berbaring di tempat tidur yang rendah, apakah tempat tidur kecil atau alas tidur jerami. Aku akan meniru para Arahant dalam hal ini dan uposatha ini akan dijalankan olehku.’

“Dengan cara inilah, Visākhā, uposatha para mulia itu dijalankan. Ketika seseorang menjalankan uposatha dengan cara yang dilakukan oleh para mulia maka hal ini berbuah dan bermanfaat besar, luar biasa cemerlang dan menyebar.

“Sejauh apakah hal ini berbuah dan bermanfaat besar? Sejauh apakah hal ini luar biasa cemerlang dan menyebar? Misalkan, Visākhā, seseorang menguasai dan memerintah enam belas negeri besar ini yang berlimpah dalam hal tujuh benda berharga,9 [213] yaitu, [negeri-negeri] Aṅga, Magadha, Kāsi, Kosala, Vajji, Malla, Ceti, Vaṅga, Kuru, Pañcāla, Maccha, Sūrasena, Assaka, Avanti, Gandhāra, dan Kamboja:10 hal ini tidak sebanding dengan seper enam belas bagian dari pelaksanaan uposatha yang lengkap dengan delapan faktor itu. Karena alasan apakah? Karena kekuasaan manusia adalah buruk dibandingkan dengan kebahagiaan surgawi.

“Bagi para deva [yang diperintah oleh] empat raja dewa,11 sehari semalam adalah setara dengan lima puluh tahun manusia; tiga puluh hari demikian menjadi satu bulan, dan dua belas bulan menjadi satu tahun. Umur kehidupan para deva [yang diperintah oleh] empat raja dewa adalah lima ratus tahun surgawi. Adalah mungkin, Visākhā, bahwa seorang perempuan atau laki-laki di sini yang menjalankan uposatha yang lengkap dengan delapan faktor ini akan, dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, terlahir kembali dalam kumpulan para deva [yang diperintah oleh] empat raja dewa. Adalah sehubungan dengan hal ini maka Aku katakan bahwa kekuasaan manusia adalah buruk dibandingkan dengan kebahagiaan surgawi.

“Bagi para deva Tāvatiṃsa sehari semalam adalah setara dengan seratus tahun manusia; tiga puluh hari demikian menjadi satu bulan, dan dua belas bulan menjadi satu tahun. Umur kehidupan para deva Tāvatiṃsa adalah seribu tahun surgawi. Adalah mungkin, Visākhā, bahwa seorang perempuan atau laki-laki di sini yang menjalankan uposatha yang lengkap dengan delapan faktor ini akan, dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, terlahir kembali dalam kumpulan para deva Tāvatiṃsa. Adalah sehubungan dengan hal ini maka Aku katakan bahwa kekuasaan manusia adalah buruk dibandingkan dengan kebahagiaan surgawi.

“Bagi para deva Yāma sehari semalam adalah setara dengan dua ratus tahun manusia; tiga puluh hari demikian menjadi satu bulan, dan dua belas bulan menjadi satu tahun. Umur kehidupan para deva Yāma adalah dua ribu tahun surgawi. Adalah mungkin, Visākhā, bahwa seorang perempuan atau laki-laki di sini yang menjalankan uposatha yang lengkap dengan delapan faktor ini akan, dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, terlahir kembali dalam kumpulan para deva Yāma. Adalah sehubungan dengan hal ini [214] maka Aku katakan bahwa kekuasaan manusia adalah buruk dibandingkan dengan kebahagiaan surgawi.

“Bagi para deva Tusita sehari semalam adalah setara dengan empat ratus tahun manusia; tiga puluh hari demikian menjadi satu bulan, dan dua belas bulan menjadi satu tahun. Umur kehidupan para deva Tusita adalah empat ribu tahun surgawi. Adalah mungkin, Visākhā, bahwa seorang perempuan atau laki-laki di sini yang menjalankan uposatha yang lengkap dengan delapan faktor ini akan, dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, terlahir kembali dalam kumpulan para deva Tusita. Adalah sehubungan dengan hal ini maka Aku katakan bahwa kekuasaan manusia adalah buruk dibandingkan dengan kebahagiaan surgawi.

“Bagi para deva yang bersenang-senang dalam penciptaan, sehari semalam adalah setara dengan delapan ratus tahun manusia; tiga puluh hari demikian menjadi satu bulan, dan dua belas bulan menjadi satu tahun. Umur kehidupan para deva yang bersenang-senang dalam penciptaan adalah delapan ribu tahun surgawi. Adalah mungkin, Visākhā, bahwa seorang perempuan atau laki-laki di sini yang menjalankan uposatha yang lengkap dengan delapan faktor ini akan, dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, terlahir kembali dalam kumpulan para deva yang bersenang-senang dalam penciptaan. Adalah sehubungan dengan hal ini maka Aku katakan bahwa kekuasaan manusia adalah buruk dibandingkan dengan kebahagiaan surgawi.

“Bagi para deva yang mengendalikan apa yang diciptakan oleh para deva lain, sehari semalam adalah setara dengan seribu enam ratus tahun manusia; tiga puluh hari demikian menjadi satu bulan, dan dua belas bulan menjadi satu tahun. Umur kehidupan para deva yang mengendalikan apa yang diciptakan oleh para deva lain adalah enam belas ribu tahun surgawi itu. Adalah mungkin, Visākhā, bahwa seorang perempuan atau laki-laki di sini yang menjalankan uposatha yang lengkap dengan delapan faktor ini akan, dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, terlahir kembali dalam kumpulan para deva yang mengendalikan apa yang diciptakan oleh para deva lain. Adalah sehubungan dengan hal ini maka Aku katakan bahwa kekuasaan manusia adalah buruk dibandingkan dengan kebahagiaan surgawi.”

Seseorang tidak boleh membunuh makhluk-makhluk hidup atau mengambil apa yang tidak diberikan; ia seharusnya tidak berkata bohong atau meminum minuman memabukkan; [215] ia harus menahan diri dari aktivitas seksual, dari ketidak-sucian; ia tidak boleh makan di malam hari atau pada waktu yang tidak tepat.

ia tidak boleh mengenakan kalung bunga atau mengoleskan wangi-wangian; ia harus tidur di tempat tidur [yang rendah] atau alas tidur di lantai; ini, mereka katakan, adalah uposatha berfaktor delapan yang dinyatakan oleh Sang Buddha, yang telah mencapai akhir penderitaan.

Sejauh matahari dan rembulan berputar, memancarkan cahaya, begitu indah dipandang, penghalau kegelapan, bergerak di sepanjang cakrawala, bersinar di angkasa,12 menerangi segala penjuru.

Kekayaan apa pun yang ada di sini – mutiara, permata, dan beryl yang baik,13 emas tanduk dan emas gunung, dan emas alami yang disebut haṭaka14

Semua itu tidak sebanding dengan seper enam belas bagian dari uposatha yang lengkap dengan delapan faktor, seperti halnya sekumpulan bintang [tidak dapat menandingi] cahaya rembulan.15

Oleh karena itu seorang perempuan atau laki-laki yang bermoral setelah menjalankan uposatha yang lengkap dengan delapan faktor, dan setelah melakukan jasa yang menghasilkan kebahagiaan, pergi tanpa cela menuju alam surga.


Catatan Kaki
  1. Para Nigaṇṭha adalah para petapa Jain, para pengikut Mahāvīra, guru besar paling terkenal dari Jainisme, dikenal dalam Nikāya-nikāya sebagai Nigaṇṭha Nātaputta (Nāthaputta, Ñātaputta). Ia sezaman dengan Sang Buddha dan termasuk dalam enam guru saingan (baca DN 2.16-33, I 52-59). Terlihat bahwa, ketika Nikāya-nikāya membahas Jainisme, nuansanya menjadi sindiran kalau bukan ejekan. Pujiannya, tentu saja, diberikan oleh kaum Jain. Hal ini dapat dipahami dari fakta bahwa Buddhis dan Jain awalnya berkembang di wilayah yang sama dan, sebagai kelompok peminta-minta, keduanya pasti bersaing untuk mendapatkan penyokong dari komunitas yang sama. ↩︎

  2. Ye puratthimāya disāya pāṇā paraṃ yojanasataṃ tesu daṇḍaṃ nikkhipāhi. Mp mengemas: “Letakkanlah tongkat pemukul dan tidak kejam terhadap makhluk-makhluk hidup yang berada di wilayah yang lebih jauh dari seratus yojana” (tesu yojanasatato parabhāgesu ṭhitesu sattesu daṇḍaṃ nikkhipa, nikkhittadaṇḍo hohi). Satu yojana berkisar tujuh hingga sembilan mil. Demikianlah kaum Jain digambarkan seperti pada pernyataan, “Hanya kepada makhluk-makhluk yang berada jauh maka kalian harus tidak kejam,” seolah-olah mereka diperbolehkan untuk menjadi kejam terhadap makhluk-makhluk yang berada dekat. Hal ini, tampaknya, bertolak belakang dengan ajaran Jainisme, yang mengajarkan ketidak-kejaman keras (ahiṃsā) terhadap semua makhluk dalam segala kondisi. Baca http://www.jainworld.com/philosophy/ahimsa.asp ↩︎

  3. Nāhaṃ kvacana, kassaci kiñcanatasmiṃ, na va mama kvacana, katthaci kiñcanatātthi. Ce, Be, dan Ee berbeda-beda satu sama lain dalam membaca formula ini. Saya mengikuti Ce di sini dan pada 4:185. Tujuan dari formula ini, menurut teks, adalah untuk menanamkan sikap tidak-memiliki, salah satu moralitas dasar Jain. Sang Buddha juga mengajarkan formula ini – yang kemungkinan telah beredar di antara berbagai komunitas pertapaan – dengan menggunakannya sebagai alat untuk melenyapkan “pembentukan-aku” dan “pembentukan-milikku.” Untuk pembahasan lebih lanjut atas formula ini, baca Jilid 2 pp.355-356, catatan 279. ↩︎

  4. Upakkiliṭṭhassa visākhe cittassa upakkamena pariyodapanā hoti. Mp: “Mengapakah Beliau mengatakan ini? Karena uposatha tidak sangat berbuah jika seseorang menjalankannya dengan pikiran kotor, melainkan menjadi sangat berbuah jika dijalankan dengan pikiran yang murni. Demikianlah Beliau membuat pernyataan ini untuk memperkenalkan subjek meditasi yang digunakan untuk memurnikan pikiran.” Apa yang dijelaskan selanjutnya adalah lima pengingatan standar (cha anussatiyo; baca 6:10, dan seterusnya). Untuk suatu alasan, pengingatan ke enam, yaitu pengingatan pada kedermawanan (cāgānussati), dihilangkan. Penghilangan ini tampaknya, pada kesan pertama, diakibatkan dari kegagalan dalam transmisi. Akan tetapi, Paralel China, MĀ 202 (pada T I 770a16-773a1), juga tidak mencantumkan pengingatan ini, yang menyiratkan bahwa penghilangan ini – apakah disengaja atau tidak – terjadi sebelum perpecahan aliran Vibhajjavāda (cikal bakal Theravāda) dan Sarvāstivāda. Yang menarik, dalam MĀ 202 delapan aturan mendahului lima pengingatan, sedangkan Pāli menyusunnya secara kebalikannya. Urutan versi China adalah lebih konsisten dengan ajaran Buddhis lainnya, yang memperlakukan perilaku bermoral sebagai landasan bagi meditasi. ↩︎

  5. Mp: “Adalah Sang Buddha yang tercerahkan sempurna yang disebut Brahmā (brahmā vuccati sammā sambuddho). ↩︎

  6. Ini adalah enam tingkat alam surga indriawi. Para deva yang lebih tinggi dari ini berada di alam berbentuk dan tanpa bentuk. ↩︎

  7. Pada titik ini, Sang Buddha menjelaskan delapan aturan yang dijalankan oleh para umat awam pada hari-hari uposatha. Ini muncul kembali dalam AN pada 8:41-45. Aturan-aturan ini bersesuaian erat dengan sepuluh aturan sāmaṇera, dengan yang ke tujuh dan ke delapan digabungkan dan ke sepuluh (menghindari menerima emas dan perak, yaitu, uang) dihilangkan. ↩︎

  8. Ekabhattika: Ini juga dapat diterjemahkan “makan pada satu bagian siang hari.” Mp: “Ada dua [periode] makan, [periode] makan pagi dan [periode] makan malam. [Periode] makan pagi berakhir di tengah hari; [periode] makan malam dimulai dari tengah hari hingga fajar keesokan harinya. Oleh karena itu bahkan mereka yang makan sepuluh kali sebelum tengah hari dikatakan makan sekali sehari.” ↩︎

  9. Ce pahūtasattaratanānaṃ; Be pahūtarattaratanānaṃ; Ee pahūtamahāsattaratanānaṃ. Mp (Ce dan Be) membaca pahūtarattaratanānaṃ, tetapi Mp (Ee) membaca –satta- di sini. Mp menjelaskan: “Memiliki bahan berharga yang berlimpah yang terdapat dalam ratta; makna ini adalah bahwa negeri itu dipenuhi dengan tujuh benda berharga sehingga, jika permukaan Jambudīpa (Sub benua India) berukuran seluas permukaan genderang bheri, maka jumlah ketujuh benda tersebut adalah berukuran pinggang seseorang.” Dengan demikian terdapat ambiguitas tentang apakah tulisan aslinya adalah –satta- atau –ratta-. Mp-ṭ menyebutkan bahwa kata ratta adalah bersinonim dengan benda berharga (ratta-saddo ratanapariyāyo), tetapi juga mengatakan bahwa tulisan pahūtasattaratanānaṃ terdapat dalam teks. Saya menerjemahkan dengan berdasarkan pada tulisan terakhir. ↩︎

  10. Sebagian besar negeri ini berlokasi di sub benua India, tetapi Gandhāra dan Kamboja terletak di barat laut, di sekitar Pakistan dan Afghanistan modern. ↩︎

  11. Di sini dimulai gambaran kosmologi dari enam alam surga indria. ↩︎

  12. Bersama dengan Be dan Ee membaca nabhe pabhāsanti, bukan seperti Ce nabhe pabhāsenti, “menerangi langit.” ↩︎

  13. Mengikuti Mp, saya memahami bhaddakaṃ di sini hanya sebagai sebuah kualifikasi dari veḷuriyaṃ, bukan sebagai jenis tersendiri dari batu mulia. ↩︎

  14. Mp: “Emas tanduk (siṅgīsuvaṇṇa) adalah emas yang menyerupai [dalam hal warna] tanduk sapi (gosiṅgasadisa). Emas gunung (kañcana) adalah emas yang ditemukan di gunung. Emas alami (jātarūpa) adalah emas yang berwarna Buddha. Haṭaka adalah emas yang dipindahkan oleh semut-semut. ↩︎

  15. Candappabhā. Mp: “Bentuk nominatif yang digunakan dalam bentuk genitif, bermakna ‘cahaya rembulan’ (candappabhāya).” ↩︎