Pengembara Vacchagotta mendatangi Sang Bhagavā … dan berkata kepada Beliau:

“Guru Gotama, aku telah mendengar: ‘Petapa Gotama mengatakan: “Dana harus diberikan hanya kepadaKu, [161] bukan kepada orang lain; dana harus diberikan hanya kepada para siswaKu, bukan kepada para siswa orang lain. Hanya apa yang diberikan kepadaKu yang sangat berbuah, bukan apa yang diberikan kepada orang lain; hanya apa yang diberikan kepada para siswaKu yang sangat berbuah, bukan apa yang diberikan kepada para siswa orang lain.”’ Apakah mereka mengatakan apa yang telah dikatakan oleh Guru Gotama dan tidak salah menginterpretasikan Beliau dengan apa yang bertentangan dengan fakta? Apakah mereka menjelaskan sesuai Dhamma sehingga mereka tidak menimbulkan kritik yang logis atau dasar bagi celaan?1 Karena kami tidak ingin salah menginterpretasikan Guru Gotama.”

“Mereka, Vaccha, yang mengatakan: ‘Petapa Gotama mengatakan: “Dana harus diberikan hanya kepadaKu … ; hanya apa yang diberikan kepada para siswaKu yang sangat berbuah, bukan apa yang diberikan kepada para siswa orang lain,”’ tidak mengatakan apa yang telah dikatakan olehKu melainkan salah menginterpretasikan Aku dengan apa yang bertentangan dengan fakta. Seorang yang mencegah orang lain memberikan dana menciptakan rintangan dan halangan bagi tiga orang. Siapakah tiga ini? Ia menciptakan sebuah rintangan kepada si penyumbang untuk memperoleh jasa, kepada penerima untuk memperoleh pemberian, dan ia telah mencelakai dan melukai dirinya sendiri. Seorang yang mencegah orang lain memberikan dana menciptakan rintangan dan halangan bagi ketiga orang ini.

“Tetapi, Vaccha, Aku katakan bahwa seseorang akan memperoleh jasa bahkan jika ia membuang air pencuci piring ke dalam tempat sampah atau saluran pembuangan dengan pikiran: ‘Semoga makhluk-makhluk hidup di sini bertahan hidup dengan ini!’ Apalagi, [jasa yang diperolehnya] ketika ia memberikan kepada manusia! Akan tetapi, Aku katakan bahwa apa yang diberikan kepada seseorang yang berperilaku bermoral adalah lebih berbuah daripada [apa yang diberikan] kepada seorang yang tidak bermoral. Dan [penerima yang paling baik] adalah seorang yang telah meninggalkan lima faktor dan memiliki lima faktor.

“Lima faktor apakah yang telah ia tinggalkan? Keinginan indria, niat buruk, ketumpulan [162] dan kantuk, kegelisahan dan penyesalan, dan keragu-raguan. Ini adalah kelima faktor yang telah ia tinggalkan.

“Dan lima faktor apakah yang ia miliki? Perilaku bermoral, konsentrasi, kebijaksanaan, kebebasan, dan pengetahuan dan penglihatan pada kebebasan dari seorang yang melampaui latihan. Ini adalah kelima faktor yang ia miliki.

“Dengan cara demikianlah, Aku katakan, bahwa apa yang diberikan kepada seseorang yang telah meninggalkan lima faktor dan memiliki lima faktor adalah sangat berbuah.”

Di antara sapi-sapi dari berbagai jenis, apakah hitam, putih, merah, atau keemasan, bebercak, sewarna, atau berwarna-merpati, sapi jantan yang jinak dilahirkan, sapi yang dapat mengangkat beban, memiliki kekuatan, berjalan dengan kecepatan baik. Mereka mengikatkan beban hanya padanya; mereka tidak peduli pada warnanya.

Demikian pula, di antara para manusia dalam berbagai jenis kelahiran apa pun– di antara para khattiya, brahmana, vessa, sudda, caṇḍāla, atau pemungut sampah – di antara orang-orang dalam berbagai jenis orang jinak yang berperilaku baik dilahirkan: seorang yang teguh dalam Dhamma, bermoral dalam perilaku, jujur dalam ucapan, memiliki rasa malu; seorang yang telah meninggalkan kelahiran dan kematian, sempurna dalam kehidupan spiritual, dengan beban diturunkan, terlepas, yang telah menyelesaikan tugasnya, bebas dari noda-noda; yang telah melampaui segala sesuatu [di dunia] dan melalui ketidak-melekatan telah mencapai nibbāna: suatu persembahan adalah sungguh sungguh besar ketika ditanamkan di lahan tanpa noda itu.

Orang-orang dungu yang hampa dari pemahaman, dengan kecerdasan-tumpul, tidak terpelajar, tidak melayani orang-orang suci2 tetapi memberikan pemberian-pemberian mereka kepada orang-orang di luar itu. Akan tetapi, mereka yang melayani orang-orang suci, para bijaksana yang dihargai sebagai orang bijaksana,3 dan mereka yang berkeyakinan pada Yang Sempurna Menempuh Sang Jalan tertanam dalam dan kokoh berdiri, pergi ke alam para deva atau terlahir di sini dalam keluarga yang baik. Maju dalam langkah demi langkah berturut-turut, para bijaksana itu mencapai nibbāna. [163]


Catatan Kaki
  1. Kacci te bhoto gotamassa vuttavādino ca bhavantaṃ gotamaṃ abhūtena abbhācikkhanti, dhammassa cānudhammaṃ byākaronti, na ca koci sahadhammiko vādānupāto gārayhaṃ ṭhānaṃ āgacchati. Demikianlah seluruh tiga edisi, tetapi beberapa variasi menuliskan vādānuvādo pada tempat vādānupāto. Saya membahas formula ini secara terperinci dalam CDB, p. 747, catatan 72, tetapi sekarang saya meyakini bahwa komentar Pāli keliru dalam menganggap vādānupāta (atau vādānuvāda) sebagai bermakna “akibat dari pernyataan mereka.” Sekarang saya mengartikan kata ini hanya sebagai sinonim dari gārayhaṃ ṭhānaṃ.” Untuk mendukung perubahan ini, baca 5:5, di mana sahadhammikā vādānuvādā gārayhā ṭhānā āgacchanti dan lawannya, sahadhammikā pāsaṃsā ṭhānā āgacchanti, muncul tanpa referensi pada pernyataan mana pun yang sebelumnya.

    Paralel China untuk sutta sekarang ini mendukung interpretasi ini. SĀ 95 (pada T II 256a11-14) membaca 云何?瞿曇!作是語者,為實說耶?非為謗毀瞿曇乎?為何說說,如法說耶,不為餘人 以同法來詞責耶?(“Bagaimanakah? Gotama, apakah ia yang mengatakan hal ini mengatakan yang sebenarnya? Apakah ini adalah kasus bahwa ia salah menafsirkan Gotama? Apakah ia mengatakan sesuai dengan apa yang telah dikatakan, sesuai dengan Dharma, selaras dengan Dharma, sehingga orang-orang tidak dapat mengkritiknya sehubungan dengan Dharma yang sama itu?”. Paralel lainnya pada T II 493b19-21 serupa, dengan tidak ada yang bersesuaian dengan “akibat dari suatu pernyataan.”

  2. Mp mengatakan bahwa “para suci” (sante) adalah orang-orang tertinggi (uttamapurise): para Buddha, Paccekabuddha, dan Arahant.
  3. Sappaññe dhīrasammate. Mp mengemas ini seolah-olah bermakna “dihargai, dihormati, oleh yang terpelajar” (paṇḍitehi sammate sambhāvite), tetapi saya menganggap dhīrasammate sebagai bermakna “dihargai, dihormati, sebagai orang cerdik (atau bijaksana).”