easter-japanese

“Para bhikkhu, ketika seseorang melihat tiga keuntungan, maka adalah cukup untuk mengajarkan Dhamma kepada orang lain. Apakah tiga ini? (1) Orang yang mengajarkan Dhamma mengalami makna dan Dhamma.1 (2) Orang yang mendengarkan Dhamma mengalami makna dan Dhamma. (3) Baik orang yang mengajarkan Dhamma maupun orang yang mendengarkan Dhamma mengalami makna dan Dhamma. Dengan melihat ketiga keuntungan ini, maka adalah cukup untuk mengajarkan Dhamma kepada orang lain.”


Catatan Kaki
  1. Mp menjelaskan “mengalami makna” (atthapaṭisaṃvedī) sebagai “mengalami dengan pengetahuan penjelasan makna (atau komentar)” (aṭṭhakathaṃ ñāṇena paṭisaṃvedī) dan “mengalami Dhamma” (dhammapaṭisaṃvedī) sebagai “mengalami Dhamma dari teks kanonis” (pāḷidhammaṃ paṭisaṃvedī). Hal ini jelas belakangan menimbulkan perbedaan pada kata-kata yang lebih tua. Akan tetapi, walaupun kedua kata sering kali berpasangan, namun perbedaan yang tepat antara attha dan dhamma tidak dapat dengan jelas ditarik dari Nikāya-nikāya. Sebenarnya, masing-masing kata ini ambivalen dan dengan demikian nuansanya yang berbeda mempersulit hubungannya lebih jauh lagi. Attha dapat menyiratkan makna, manfaat, kebaikan, dan tujuan; dhamma dapat menyiratkan ajaran, sistem praktik, sifat segala sesuatu, dan kebenaran yang ditunjukkan oleh ajaran. Dengan demikian pertentangan antara dhamma dan attha dapat dilihat dari perbedaan antara ajaran yang diformulasikan dan maknanya, antara praktik dan tujuannya, dan antara ajaran dan manfaat yang dihasilkan. ↩︎