(1) “Para bhikkhu, apakah para Tathāgata muncul atau tidak, hukum ini tetap berlaku, kestabilan Dhamma ini, jalan pasti Dhamma ini:1 ‘Segala fenomena terkondisi adalah tidak kekal.’ Seorang Tathāgata tercerahkan pada hal ini dan menerobosnya, dan kemudian Beliau menjelaskannya, mengajarkannya, menyatakannya, menetapkannya, mengungkapkannya, menganalisisnya, dan menguraikannya sebagai berikut: ‘Segala fenomena yang terkondisi adalah tidak kekal.’2

(2) “Para bhikkhu, apakah para Tathāgata muncul atau tidak, hukum ini tetap berlaku, kestabilan Dhamma ini, jalan pasti Dhamma ini: ‘Segala fenomena terkondisi adalah penderitaan.’ Seorang Tathāgata tercerahkan pada hal ini dan menerobosnya, dan kemudian Beliau menjelaskannya, mengajarkannya, menyatakannya, menetapkannya, mengungkapkannya, menganalisisnya, dan menguraikannya sebagai berikut: ‘Segala fenomena yang terkondisi adalah penderitaan.’

(3) “Para bhikkhu, apakah para Tathāgata muncul atau tidak, hukum ini tetap berlaku, kestabilan Dhamma ini, jalan pasti Dhamma ini: ‘Segala fenomena adalah tanpa-diri.’ Seorang Tathāgata tercerahkan pada hal ini dan menerobosnya, dan kemudian Beliau menjelaskannya, mengajarkannya, menyatakannya, menetapkannya, mengungkapkannya, menganalisisnya, dan menguraikannya sebagai berikut: ‘Segala fenomena adalah tanpa-diri.’”


Catatan Kaki
  1. Ṭhitā sā dhātu dhammaṭṭhitatā dhammaniyāmatā. Mp hanya memberikan kemasan kata yang tidak membantu yang berdasarkan pada identifikasi dhamma sebagai sesuatu yang membawa sifat sejati (sabhāva): *Dhammaṭṭhitatā ti sabhāvaṭṭhitatā. Dhammaniyāmatā ti sabhāvaniyāmatā.*
  2. Mp menjelaskan ketidak-kekalan (anicca) di sini sebagai ketiadaan setelah kemunculan (hutvā abhāvaṭṭhena); penderitaan (dukkha) sebagai kesengsaraan (sampīḷanaṭṭhena dukkhā); dan tanpa-diri (anattā) sebagai tidak dapat dikuasai (avasavattanaṭṭhena). Dalam SN 12:20, II 25-27, kerangka yang sama ini diterapkan pada formula dua belas dari kemunculan bergantungan.