Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Kemudian, pada larut malam, deva muda Hatthaka,1 dengan menerangi seluruh hutan Jeta, mendatangi Sang Bhagavā. Setelah mendekat, [sambil berpikir:] “Aku akan berdiri di hadapan Sang Bhagavā,” ia terbenam, turun, dan tidak dapat menetap di tempatnya. Seperti halnya ghee atau minyak, ketika dituangkan ke atas pasir, akan tenggelam, turun, dan tidak dapat menetap di tempatnya, demikian pula deva muda Hatthaka, [sambil berpikir:] “Aku akan berdiri di hadapan Sang Bhagavā,” ia terbenam, turun, dan tidak dapat menetap di tempatnya. [279]

Kemudian Sang Bhagavā berkata kepada Hatthaka: “Ciptakanlah tubuh kasar, Hatthaka.”

“Baik, Bhante,” Hatthaka menjawab. Kemudian ia menciptakan tubuh kasar, bersujud kepada Sang Bhagavā, dan berdiri di satu sisi. Sang Bhagavā berkata kepadanya:

“Hatthaka, apakah ajaran-ajaran itu yang dapat engkau ingat di masa lampau, ketika engkau masih menjadi seorang manusia, kembali padamu sekarang?”2

“Bhante, ajaran-ajaran itu yang dapat kuingat di masa lampau, ketika aku masih menjadi seorang manusia, kembali padaku sekarang; dan ajaran-ajaran itu yang tidak kuingat di masa lampau, ketika aku masih menjadi seorang manusia, kembali padaku sekarang.3 Seperti halnya Sang Bhagavā sekarang dikelilingi oleh para bhikkhu, bhikkhunī, umat-umat awam laki-laki dan perempuan, raja-raja dan para menteri kerajaan, para guru sektarian dan para siswa mereka, demikian pula aku dikelilingi oleh para deva muda. Para deva muda mendatangiku bahkan dari jauh, [dengan berpikir]: ‘Kami akan mendengar Dhamma dari deva muda Hatthaka.’

“Aku mati, Bhante, dengan tidak merasa cukup dan tidak merasa puas dalam tiga hal. Apakah tiga ini? (1) Aku mati dengan tidak merasa cukup dan tidak merasa puas dalam melihat Sang Bhagavā. (2) Aku mati dengan tidak merasa cukup dan tidak merasa puas dalam mendengar Dhamma sejati. (3) Aku mati dengan tidak merasa cukup dan tidak merasa puas dalam melayani Saṅgha. Aku mati dengan tidak merasa cukup dan tidak merasa puas dalam ketiga hal ini.

“Aku tidak pernah merasa cukup dalam melihat Sang Bhagavā, mendengar Dhamma sejati, dan melayani Saṅgha.

“Dengan berlatih dalam perilaku bermoral yang lebih tinggi, Aku bergembira dalam mendengar Dhamma sejati. Hatthaka telah [terlahir kembali di] Aviha4 Dengan tidak berkecukupan dalam ketiga hal ini.”


Catatan Kaki
  1. Jelas ini adalah Hatthaka dari Āḷāvī (baca 1:251), walaupun Mp tidak mengidentifikasikannya demikian.
  2. Mp menjelaskan dhammāpavattino sebagai “kata-kata Buddha yang engkau pelajari di masa lampau” (pubbe uggahitabuddhavacanaṃ).
  3. Mp: “Ajaran-ajaran yang telah ia lupakan karena ia lalai mengulang-ulangnya.”
  4. Aviha: salah satu dari lima alam murni (suddhāvāsa) yang mana hanya para yang-tidak-kembali yang terlahir kembali di sana.