Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Vesālī di Altar Gotamaka.1 Di sana Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu …

“Para bhikkhu, (1) Aku mengajarkan Dhamma melalui pengetahuan langsung, bukan tanpa pengetahuan langsung. (2) Aku mengajarkan Dhamma dengan landasan, bukan tanpa landasan. (3) Aku mengajarkan Dhamma yang bersifat penawar, bukan yang tanpa penawar.2 Karena Aku mengajarkan Dhamma melalui pengetahuan langsung, bukan tanpa pengetahuan langsung; karena Aku mengajarkan Dhamma dengan landasan, bukan tanpa landasan; karena Aku mengajarkan Dhamma yang bersifat penawar, bukan yang tanpa penawar, maka nasihatKu harus ditindaklanjuti, instruksiKu harus ditindaklanjuti. Cukuplah bagi kalian untuk bergembira, cukuplah bagi kalian untuk berbesar hati, cukuplah bagi kalian untuk bersukacita: ‘Sang Bhagavā tercerahkan sempurna! Dhamma telah dibabarkan dengan baik oleh Sang Bhagavā! Saṅgha mempraktikkan jalan yang baik!’”

Ini adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Dengan gembira, para bhikkhu itu gembira mendengar pernyataan Sang Bhagavā. Dan sewaktu khotbah ini sedang dibabarkan, seribu sistem dunia berguncang.


Catatan Kaki
  1. Mp: “Selama dua puluh tahun setelah pencerahan, Sang Tathāgata sering berdiam di antara komunitas-komunitas para deva (devakulesuyeva): kadang-kadang di altar Cāpāla, kadang-kadang di Sārandada, kadang-kadang di Bahuputta, dan kadang-kadang di Gotamaka. Karena Beliau sedang menetap di Vesālī pada saat itu, maka Beliau menetap di alam makhluk halus Gotamaka.” Mp menjelaskan bahwa sutta ini dibabarkan sebagai lanjutan dari Mūlapariyāya Sutta (MN 1). Kisah latar belakangnya terdapat pada Ps I 56-59, dan diterjemahkan pada Bodhi 2006:82-86, menceritakan bahwa sekelompok brahmana telah menerima penahbisan dari Sang Buddha dan dengan cepat menguasai ajaranNya. Dengan dipenuhi keangkuhan karena pelajaran mereka, mereka tidak lagi mendengarkan Dhamma. Sang Buddha membabarkan Mūlapariyāya Sutta untuk memotong keangkuhan mereka. Karena tidak mampu memahaminya, mereka menjadi rendah hati dan meminta maaf pada Sang Buddha. Beberapa waktu kemudian Sang Buddha membabarkan Gotamaka Sutta ini untuk menuntun mereka menuju Kearahattaan.
  2. Mp-ṭ menjelaskan sebagai berikut: ‘Melalui pengetahuan langsung (abhiññāya): Beliau mengajarkan Dhamma setelah mengetahui secara langsung, sebagaimana adanya, Dhamma yang harus diajarkan, yang dibedakan melalui yang bermanfaat dan seterusnya dan melalui kelompok-kelompok unsur kehidupan dan seterusnya; dan setelah mengetahui secara langsung metode untuk mengajar mereka yang harus dituntun sesuai dengan kecondongan, kecenderungan, karakter, dan watak mereka. Dengan landasan (sanidānaṃ): dengan kondisi (sappaccayaṃ), dengan dasar (sakāraṇaṃ), setelah memberikan alasan (hetu), yang mungkin merupakan kecenderungan dari mereka yang akan dituntun, sebuah pertanyaan, atau sebuah insiden khusus. Penawar (sappāṭihāriyaṃ): sebuah penawar adalah obat (paṭiharaṇa) bagi nafsu dan seterusnya. Dhamma ini disertai hal-hal ini, maka ini adalah ‘penawar.’ Karena Sang Guru mengajarkan Dhamma hanya melalui dilenyapkannya (paṭisedhanavasen’eva) nafsu dan seterusnya.”

    Kata sappāṭihāriya agak problematik. Di tempat lain pātihārya digunakan dalam makna keajaiban atau kekuatan gaib, seperti pada 3:60 (pada I 170-72), yang membicarakan tentang tiga “keajaiban”: kekuatan batin, membaca pikiran, dan pengajaran. PED, sv pāṭihārya, melihat sappāṭihāriya sebagai diturunkan dari penggunaan ini dan menyarankan, dalam konteks yang berhubungan dengan Dhamma, “keajaiban, luar biasa, luhur.” Akan tetapi, saya merasa sulit menerima bahwa makna demikian yang dimaksudkan dalam konteks ini. Kata kerja paṭiharati berarti “memukul balik,” dan bentuk kausatif paṭihāreti “menghalau, menghindari.” Saya percaya bahwa makna ini sesuai baik dengan penggunaan di sini maupun dengan hubungannya dengan keajaiban. Sebuah keajaiban “melawan” dasar pemikiran konseptual dari pikiran dan membukanya pada realitas yang menakjubkan. Tetapi Dhamma menyerang dengan cara berbeda. Dhamma “melawan” pandangan-pandangan menyimpang dan kekotoran, dan dengan demikian secara langsung melawan atau menawarkan. Interpretasi ini didukung oleh 8:70 (IV 310-11), di mana Sang Buddha menyebutkan bahwa para siswaNya “dapat secara menyeluruh membantah dalam cara-cara logis doktrin-doktrin lain yang sedang beredar dan mengajarkan Dhamma *sappāṭihāriya*” (uppannaṃ parappavādaṃ sahadhammena suniggahitaṃ niggahetvā sappāṭihāriyaṃ dhammaṃ desessanti). Di sini karakter Dhamma dari sappāṭihāriya harus dihubungkan, bukan pada keajaiban, melainkan pada kemampuannya untuk melawan doktrin lawan. Dengan demikian “penawar” atau “yang secara langsung melawan” dapat menjadi terjemahan yang benar.