“Para bhikkhu, di mana pun para bhikkhu berargumen dan bertengkar dan jatuh dalam perselisihan, saling menusuk satu sama lain dengan kata-kata tajam, maka Aku merasa tidak nyaman untuk mengarahkan perhatianKu ke sana, apalagi pergi ke sana. Aku menyimpulkan tentang mereka: ‘Tentu saja, para mulia itu telah meninggalkan tiga hal dan telah melatih tiga hal [lainnya].’

“Apakah tiga hal yang telah ditinggalkan? Pikiran meninggalkan keduniawian, pikiran berniat baik, dan pikiran tidak mencelakai. Ini adalah ketiga hal yang telah ditinggalkan.

“Apakah tiga hal yang telah mereka latih? Pikiran indriawi, pikiran berniat buruk, dan pikiran mencelakai. Ini adalah ketiga hal yang telah mereka latih.

“Di mana pun para bhikkhu berargumen dan bertengkar dan jatuh dalam perselisihan … Aku menyimpulkan: ‘Tentu saja, para mulia itu telah meninggalkan ketiga hal ini dan telah melatih ketiga hal [lainnya].’

“Para bhikkhu, di mana pun para bhikkhu berdiam dalam kerukunan, dengan harmonis, tanpa perselisihan, bercampur bagaikan susu dan air, saling melihat satu sama lain dengan tatapan kasih sayang, maka Aku merasa nyaman untuk pergi ke sana, apalagi untuk mengarahkan pikiranKu ke sana. Aku menyimpulkan: ‘Tentu saja, para mulia itu telah meninggalkan tiga hal dan telah melatih tiga hal [lainnya].’

“Apakah tiga hal yang telah mereka tinggalkan? [276] Pikiran indriawi, pikiran berniat buruk, dan pikiran mencelakai. Ini adalah ketiga hal yang telah mereka tinggalkan.

“Apakah tiga hal yang telah mereka latih? Pikiran meninggalkan keduniawian, pikiran berniat baik, dan pikiran tidak mencelakai. Ini adalah ketiga hal yang telah mereka latih.

“Di mana pun para bhikkhu berdiam dalam kerukunan … Aku menyimpulkan: ‘Tentu saja, para mulia itu telah meninggalkan ketiga hal ini dan telah melatih ketiga hal [lainnya].’”