“Para bhikkhu, ada tiga penyebab bagi asal-mula kamma. Apakah tiga ini? Keserakahan adalah sebuah penyebab bagi asal-mula kamma; kebencian adalah sebuah penyebab bagi asal-mula kamma; delusi adalah sebuah penyebab bagi asal-mula kamma.

(1) “Kamma apa pun yang dirancang oleh keserakahan, muncul dari keserakahan, disebabkan oleh keserakahan, berasal-mula dari keserakahan, adalah tidak bermanfaat dan tercela dan berakibat dalam penderitaan. Kamma itu mengarah menuju asal-mula kamma, bukan menuju lenyapnya kamma.1

(2) “Kamma apa pun yang dirancang oleh kebencian …

(3) “Kamma apa pun yang dirancang oleh delusi, muncul dari delusi, disebabkan oleh delusi, berasal-mula dari delusi, adalah tidak bermanfaat dan tercela dan berakibat dalam penderitaan. Kamma itu mengarah menuju asal-mula kamma, bukan menuju lenyapnya kamma.

“Ini adalah tiga penyebab bagi asal-mula kamma.2

“Para bhikkhu, ada tiga penyebab [lainnya] bagi asal-mula kamma.3 Apakah tiga ini? Ketidak-serakahan adalah sebuah penyebab bagi asal-mula kamma; ketidak-bencian adalah sebuah penyebab bagi asal-mula kamma; ketidak-delusian adalah sebuah penyebab bagi asal-mula kamma.

(1) “Kamma apa pun yang dirancang oleh ketidak-serakahan, muncul dari ketidak-serakahan, disebabkan oleh ketidak-serakahan, berasal-mula dari ketidak-serakahan, adalah bermanfaat dan tidak tercela dan berakibat dalam kebahagiaan. Kamma itu mengarah menuju lenyapnya kamma, bukan menuju asal-mula kamma.

(2) “Kamma apa pun yang dirancang oleh ketidak-bencian …

(3) “Kamma apa pun yang dirancang oleh ketidak-delusian, muncul dari ketidak-delusian, disebabkan oleh ketidak-delusian, berasal-mula dari ketidak-delusian, adalah bermanfaat dan tidak tercela dan berakibat dalam kebahagiaan. Kamma itu mengarah menuju lenyapnya kamma, bukan menuju asal-mula kamma.

“Ini adalah tiga penyebab [lainnya] bagi asal-mula kamma.” [264]


Catatan Kaki
  1. Mp: “Kamma ini membawa asal-mula – yaitu, akumulasi – kamma lain yang mengarah menuju lingkaran [kelahiran kembali].”
  2. Ee memperlakukan kalimat ini sebagai akhir dari sutta dan kalimat berikutnya sebagai awal dari sutta baru. Ce dan Be, yang bersesuaian dengan syair uddāna, menganggapnya sebagai satu sutta dengan membaginya menjadi dua bagian, yaitu akar tidak bermanfaat dan akar bermanfaat.
  3. Mp: “Kamma ini mengarah pada asal-mula kamma menuju akhir lingkaran [kelahiran kembali].”