Perumah tangga Anāthapiṇḍika mendatangi Sang Bhagavā, bersujud kepada Beliau, dan duduk di satu sisi. Kemudian Sang Bhagavā berkata kepadanya:

“Perumah tangga, ketika pikiran tidak terlindungi, maka perbuatan-perbuatan jasmani, ucapan, dan pikiran juga tidak terlindungi.

“Pada seorang yang perbuatan-perbuatan jasmani, ucapan, dan pikirannya tidak terlindungi, maka tindakan-tindakan jasmani, ucapan, dan pikirannya menjadi ternoda.1 Pada seorang yang perbuatan-perbuatan jasmani, ucapan, dan pikirannya ternoda, maka tindakan-tindakan jasmani, ucapan, dan pikirannya menjadi busuk. Seorang yang perbuatan-perbuatan jasmani, ucapan, dan pikirannya busuk tidak akan memiliki kematian yang baik.2

“Misalkan sebuah rumah beratap lancip yang atap jeraminya dipasang dengan buruk: maka puncak atap, kasau-kasau, dan dinding-dinding menjadi tidak terlindungi; puncak atap, kasau-kasau, dan dinding-dinding menjadi ternoda; puncak atap, kasau-kasau, dan dinding-dinding menjadi busuk.

“Demikian pula, perumah tangga, [262] ketika pikiran tidak terlindungi, maka tindakan-tindakan jasmani, ucapan, dan pikiran juga tidak terlindungi … Seorang yang perbuatan-perbuatan jasmani, ucapan, dan pikirannya menjadi busuk tidak akan memiliki kematian yang baik.

“Ketika, perumah tangga, pikiran terlindungi, maka perbuatan-perbuatan jasmani, ucapan, dan pikiran juga terlindungi.

“Pada seorang yang perbuatan-perbuatan jasmani, ucapan, dan pikirannya terlindungi, maka tindakan-tindakan jasmani, ucapan, dan pikirannya tidak menjadi ternoda. Pada seorang yang perbuatan-perbuatan jasmani, ucapan, dan pikirannya tidak ternoda, maka tindakan-tindakan jasmani, ucapan, dan pikirannya tidak menjadi busuk. Seorang yang perbuatan-perbuatan jasmani, ucapan, dan pikirannya tidak busuk akan memiliki kematian yang baik.

“Misalkan sebuah rumah beratap lancip yang atap jeraminya dipasang dengan baik: maka puncak atap, kasau-kasau, dan dinding-dinding menjadi terlindungi; puncak atap, kasau-kasau, dan dinding-dinding tidak menjadi ternoda; puncak atap, kasau-kasau, dan dinding-dinding tidak menjadi busuk.

“Demikian pula, perumah tangga, ketika pikiran terlindungi, maka perbuatan-perbuatan jasmani, ucapan, dan pikiran juga terlindungi … Seorang yang perbuatan-perbuatan jasmani, ucapan, dan pikirannya tidak menjadi busuk akan memiliki kematian yang baik.”


Catatan Kaki
  1. Di sini saya menggunakan “perbuatan” untuk kammanta dan “tindakan” untuk kamma. Dalam konteks ini tampaknya tidak ada perbedaan nyata antara keduanya, teks itu sendiri memperlakukannya seolah-olah bersinonim. “Ternoda” diterjemahkan dari kata avassuta, bentuk pasif dari avassavati, yang dihubungkan melalui kata kerja savati, “mengalir,” dengan kata benda āsava.
  2. Saya menggunakan satu kata di mana Pāli menggunakan dua kata yang bersinonim untuk kematian, maraṇaṃ dan kālakiriyā.