“Para bhikkhu, (1) jika tidak ada kepuasan di dunia ini, maka makhluk-makhluk tidak akan menjadi terpikat padanya; tetapi karena ada kepuasan di dunia ini, maka makhluk-makhluk menjadi terpikat padanya. (2) Jika tidak ada bahaya di dunia ini, maka makhluk-makhluk tidak akan menjadi kecewa terhadapnya; tetapi karena ada bahaya di dunia ini, maka makhluk-makhluk menjadi kecewa terhadapnya. (3) Jika tidak ada jalan membebaskan diri dari dunia, maka makhluk-makhluk tidak akan dapat terbebas darinya; tetapi karena ada jalan membebaskan diri dari dunia, maka makhluk-makhluk dapat terbebas darinya.

“Selama, para bhikkhu, makhluk-makhluk tidak mengetahui secara langsung sebagaimana adanya kepuasan di dunia sebagai kepuasan, bahaya sebagai bahaya, dan jalan membebaskan diri darinya sebagai jalan membebaskan diri, maka mereka belum terbebaskan dari dunia ini dengan para deva, Māra, dan Brahmā, dari populasi ini dengan para petapa dan brahmana, para deva dan manusia; mereka belum terlepas darinya, belum terbebas darinya, juga mereka tidak berdiam dengan pikiran yang bebas dari penghalang. Tetapi ketika makhluk-makhluk telah mengetahui secara langsung sebagaimana adanya kepuasan di dunia sebagai kepuasan, bahaya sebagai bahaya, dan jalan membebaskan diri darinya sebagai jalan membebaskan diri, maka mereka telah terbebaskan dari dunia ini dengan … para deva dan manusia; mereka telah terlepas darinya, terbebas darinya, dan mereka berdiam dengan pikiran yang bebas dari penghalang.