“Para bhikkhu, ada kekotoran kasar dari emas: tanah, pasir, dan kerikil. Sekarang sang pembersih kotoran atau muridnya pertama-tama menuangkan emas itu ke dalam sebuah wadah dan mencuci, membilas, dan membersihkannya. Ketika kekotoran kasar itu telah disingkirkan dan dilenyapkan, masih ada kekotoran berukuran menengah dalam emas itu: kerikil halus dan pasir kasar. Sang pembersih kotoran atau muridnya mencuci, membilas, dan membersihkannya lagi. Ketika kekotoran menengah itu telah disingkirkan dan dilenyapkan, masih ada kekotoran halus dalam emas itu: pasir halus dan debu kehitaman. Maka sang pembersih kotoran atau muridnya mencuci, membilas, dan membersihkannya lagi. Ketika kekotoran halus itu telah disingkirkan dan dilenyapkan, maka hanya butir-butiran emas yang tersisa.

“Sang pandai emas atau muridnya sekarang menuangkan emas itu ke dalam panci pencairan¸ dan mengipasnya, mencairkannya, [254] dan meleburnya. Tetapi bahkan ketika hal ini telah dilakukan, emas itu masih belum bersih dan kotorannya masih belum sepenuhnya disingkirkan.1 Emas itu masih belum lunak, belum dapat dibentuk, dan belum cerah, melainkan masih rapuh dan belum dapat dikerjakan dengan baik.

“Tetapi sewaktu si pandai emas melanjutkan mengipas, mencairkan, dan melebur emas itu, akan tiba waktunya ketika emas itu menjadi bersih dan kotorannya sepenuhnya disingkirkan, sehingga emas itu menjadi lunak, dapat dibentuk, dan cerah, lentur dan dapat dikerjakan dengan baik. Kemudian perhiasan apa pun yang ingin dibuat oleh si pandai emas – apakah gelang, anting-anting, kalung, atau kalung bunga dari emas – maka ia dapat mencapai tujuannya.

“Demikian pula, para bhikkhu, ketika seorang bhikkhu menekuni pikiran yang lebih tinggi, (1) ada padanya kekotoran kasar: perbuatan buruk jasmani, ucapan, dan pikiran. Seorang bhikkhu yang mampu dan bersungguh-sungguh akan menghalau, menghentikan, dan melenyapkannya. Setelah hal ini dilakukan, (2) masih ada padanya kekotoran menengah: pikiran indriawi, pikiran berniat buruk, dan pikiran-pikiran mencelakai. Seorang bhikkhu yang mampu dan bersungguh-sungguh akan menghalau, menghentikan, dan melenyapkannya. Ketika hal ini telah dilakukan, (3) masih ada padanya kekotoran halus: pikiran-pikiran tentang sanak saudaranya,2 pikiran-pikiran tentang negerinya, dan pikiran-pikiran tentang reputasinya.3 Seorang bhikkhu yang mampu dan bersungguh-sungguh akan menghalau, menghentikan, dan melenyapkannya. Ketika hal ini telah dilakukan, maka di sana hanya tersisa pikiran-pikiran yang berhubungan dengan Dhamma.4 Konsentrasi itu belum damai dan luhur, tidak diperoleh melalui ketenangan penuh,5 tidak mencapai kesatuan, melainkan dikekang dan ditahan melalui penekanan [kekotoran-kekotoran] secara paksa.6

“Tetapi, para bhikkhu, akan tiba saatnya ketika pikirannya secara internal menjadi kokoh, tenang, menyatu, dan terkonsentrasi. Konsentrasi itu damai dan luhur, diperoleh melalui ketenangan penuh, dan mencapai penyatuan; tidak dikekang dan ditahan melalui penekanan [kekotoran-kekotoran] secara paksa.7 Kemudian, jika ada landasan yang sesuai, maka ia mampu merealisasi kondisi apa pun yang dapat direalisasikan melalui pengetahuan langsung ke mana ia mengarahkan pikirannya.8 [255]

“Jika ia menghendaki:9 ‘Semoga aku mengerahkan berbagai jenis kekuatan batin: dari satu, semoga aku menjadi banyak; dari banyak, semoga aku menjadi satu; semoga aku muncul dan lenyap; semoga aku berjalan tanpa terhalangi menembus tembok, menembus dinding, menembus gunung seolah-olah melewati ruang kosong; semoga aku menyelam masuk dan keluar dari dalam tanah seolah-olah di dalam air; semoga aku berjalan di atas air tanpa tenggelam seolah-olah di atas tanah; dengan duduk bersila, semoga aku terbang di angkasa bagaikan seekor burung; dengan tanganku semoga aku menyentuh dan menepuk bulan dan matahari begitu kuat dan perkasa; semoga aku mengerahkan kemahiran dengan jasmani hingga sejauh alam brahmā,’ ia mampu merealisasikannya, jika ada landasan yang sesuai.

“Jika ia menghendaki: ‘Semoga aku, dengan elemen telinga dewa, yang murni dan melampaui manusia, mendengar kedua jenis suara, surgawi dan manusia, yang jauh maupun dekat,’ ia mampu merealisasikannya, jika ada landasan yang sesuai.

“Jika ia menghendaki: ‘Semoga aku memahami pikiran makhluk-makhluk dan orang-orang lain, setelah melingkupi mereka dengan pikiranku sendiri. Semoga aku memahami pikiran dengan nafsu sebagai pikiran dengan nafsu dan pikiran tanpa nafsu sebagai pikiran tanpa nafsu; pikiran dengan kebencian sebagai pikiran dengan kebencian dan pikiran tanpa kebencian sebagai pikiran tanpa kebencian; pikiran dengan delusi sebagai pikiran dengan delusi dan pikiran tanpa delusi sebagai pikiran tanpa delusi; pikiran mengerut sebagai pikiran mengerut dan pikiran kacau sebagai pikiran kacau; pikiran luhur sebagai pikiran luhur dan pikiran tidak luhur sebagai pikiran tidak luhur; pikiran yang terlampaui sebagai pikiran yang terlampaui dan pikiran yang tidak terlampaui sebagai pikiran yang tidak terlampaui; pikiran terkonsentrasi sebagai pikiran terkonsentrasi dan pikiran tidak terkonsentrasi sebagai pikiran tidak terkonsentrasi; pikiran terbebaskan sebagai pikiran terbebaskan dan pikiran tidak terbebaskan sebagai pikiran tidak terbebaskan,’10 ia mampu merealisasikannya, jika ada landasan yang sesuai.

“Jika ia menghendaki: ‘Semoga aku mengingat banyak kehidupan lampau, yaitu, satu kelahiran, dua kelahiran, tiga kelahiran, empat kelahiran, lima kelahiran, sepuluh kelahiran, dua puluh kelahiran, tiga puluh kelahiran, empat puluh kelahiran, lima puluh kelahiran, seratus kelahiran, seribu kelahiran, seratus ribu kelahiran, banyak kappa penghancuran dunia, banyak kappa pengembangan dunia, banyak kappa penghancuran dunia dan pengembangan dunia, sebagai berikut: “Di sana [256] aku bernama ini, dari suku ini, dengan penampilan begini, makananku seperti ini, pengalaman kenikmatan dan kesakitanku seperti ini, umur kehidupanku selama ini; meninggal dunia dari sana, aku terlahir kembali di tempat lain, dan di sana aku bernama itu, dari suku itu, dengan penampilan begitu, makananku seperti itu, pengalaman kenikmatan dan kesakitanku seperti itu, umur kehidupanku selama itu; meninggal dunia dari sana, aku terlahir kembali di sini” – semoga aku mengingat banyak kehidupan lampauku dengan aspek-aspek dan rinciannya,’ ia mampu merealisasikannya, jika ada landasan yang sesuai.

“Jika ia menghendaki: ‘Semoga aku, dengan mata dewa, yang murni dan melampaui manusia, melihat makhluk-makhluk meninggal dunia dan terlahir kembali, hina dan mulia, berpenampilan baik dan berpenampilan buruk, kaya dan miskin, dan memahami bagaimana makhluk-makhluk mengembara sesuai kamma mereka sebagai berikut: “Makhluk-makhluk ini yang terlibat dalam perbuatan buruk melalui jasmani, ucapan, dan pikiran, yang mencela para mulia, menganut pandangan salah, dan melakukan kamma yang berdasarkan pada pandangan salah, dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, telah terlahir kembali di alam sengsara, di alam tujuan yang buruk, di alam rendah, di neraka; tetapi makhluk-makhluk ini yang terlibat dalam perbuatan baik melalui jasmani, ucapan, dan pikiran, yang tidak mencela para mulia, yang menganut pandangan benar, dan melakukan kamma yang berdasarkan pada pandangan benar, dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, telah terlahir kembali di alam tujuan yang baik, di alam surga” - demikianlah dengan mata dewa, yang murni dan melampaui manusia, semoga aku melihat makhluk-makhluk meninggal dunia dan terlahir kembali, hina dan mulia, berpenampilan baik dan berpenampilan buruk, kaya dan miskin, dan memahami bagaimana makhluk-makhluk mengembara sesuai kamma mereka,’ ia mampu merealisasikannya, jika ada landasan yang sesuai.

“Jika ia menghendaki: ‘Semoga aku, dengan hancurnya noda-noda, dalam kehidupan ini merealisasikan untuk diriku sendiri dengan pengetahuan langsung kebebasan pikiran yang tanpa noda, kebebasan melalui kebijaksanaan, dan setelah memasukinya, aku berdiam di dalamnya,’ ia mampu merealisasikannya, jika ada landasan yang sesuai.”


Catatan Kaki
  1. Saya mengikuti Ce di sini: dhamati sandhamati niddhamati. Taṃ hoti jātarūpaṃ dhantaṃ sandhataṃ niddhantaṃ, anihitaṃ anikkhittakasāvaṃ. Be menuliskan yang sama hingga niddhantaṃ, tetapi kemudian menghilangkan anihitaṃ dan menuliskan aniddhantakasāvaṃ di mana Ce menuliskan anikkhitakasāvaṃ. Ee memperbolehkan alternatif dalam tanda kurung: dhantaṃ sandhantaṃ aniddhantaṃ, anihitaṃ aninnītakasāvaṃ. Sebuah edisi tua Sri Lanka yang disebutkan dalam sebuah catatan untuk Ce juga menuliskan aninnītakāsavaṃ.
  2. Bersama dengan Ce dan Be saya membaca ñātivitakko, bukan seperti Ee jātivitakko, “pikiran-pikiran tentang kelompok [sosial].”
  3. Anavaññattipaṭisaṃyutto vitakko. Lit. “pikiran berhubungan yang tidak diremehkan.” Paralel China, SĀ 1246 (pada T II 341c12-13) menuliskan “pikiran tentang kelahiran kembali di alam surga” (生天覺).
  4. Dhammavitakkā. Mp mengemas ini sebagai pikiran yang berhubungan dengan sepuluh kekotoran pandangan terang (dasa vipassan’upakkilesavitakkā), tetapi tampaknya hal ini juga dapat berarti refleksi atas ajaran atau atas subjek meditasi.
  5. Tulisan-tulisan berbeda antara nappaṭipassaddhaladdho dan nappaṭipassaddhiladdho. Perbedaan dapat ditemukan bahkan dalam teks yang sama. Ee konsisten dengan menuliskan nappaṭippassaddhaladdho dalam kalimat negatif dan paṭippassaddhaladdho dalam padanan positifnya. Akan tetapi, Be menuliskan nappaṭippassaddhaladdho dan paṭippassaddhiladdho dalam kalimat-kalimat itu berturut-turut. Yang menjadi semakin membingungkan, Mp (Be) membalik bentuk tersebut, menuliskan nappaṭippassaddhiladdho dalam lema dari komentar pada kata negatif, tetapi paṭippassaddhaladdho dalam lema dari komentar pada kata positif. Mp (Be), dalam mengomentari sutta ini, menjelaskan nappaṭippassaddhiladdho sebagai “tidak diperoleh melalui penenangan kekotoran sepenuhnya” (na kilesapaṭippassaddhiyā laddho) dan paṭippassaddhaladdho sebagai “diperoleh melalui penenangan kekotoran sepenuhnya” (kilesapaṭippassaddhiyā laddho).

    Ce membaca na paṭippassaddhiladdho dan paṭippassaddhiladdho dalam sutta, tetapi Mp (Ce) menuliskan na paṭippassaddhaladdho dan paṭippassaddhaladdho dalam lema-lema itu berturut-turut. Terlebih lagi, dalam 5:27 (di mana hanya kata positif yang muncul), Ce dan Be menuliskan paṭippassaddhaladdho, bukan seperti Ee paṭippassaddhiladdho. Mp (Ce) di sini menuliskan paṭippassadhiladdho dalam lema, bukan seperti Mp (Be) paṭippassaddhaladdho. Mp mengatakan bahwa paṭippassaddhaṃ dan paṭippassaddhi adalah satu dalam makna (idaṃ atthato ekaṃ), mengusulkan dua solusi: “Diperoleh melalui penenangan kekotoran sepenuhnya atau telah mencapai penenangan kekotoran sepenuhnya (kilesapaṭippassaddhiyā laddhattā kilesapaṭippassaddhibhāvaṃ vā laddhattā), dengan demikian maka ini adalah *paṭippassaddhiladdho.*”

  6. Ce dan Ee sasaṅkhāraniggayhavāritavato; pada tempat –vato Be membaca akhiran itu sebagai –gato. Saya menginterpretasikan sasaṅkhāra sebagai “pemaksaan” (lit. “dengan usaha”); niggayha sebagai “setelah menekan”; vārita sebagai “dikekang”; dan (mengikuti Ce) –vato sebagai “ditahan.” Suatu terjemahan berdasarkan pada variasi Be adalah: “tetapi dicapai ketika [kekotoran] dikekang dengan menekan[nya] secara paksa.”
  7. Ce dan Ee na sasaṅkhāraniggayhavāritavato; pada tempat –vato Be –gato. SĀ 1246 (pada T II 341c21-22) menuliskan: “Bhikkhu itu mencapai konsentrasi yang tidak dipertahankan oleh usaha; ia mencapai keadaan damai dan luhur, keadaan diam yang bahagia, pikiran yang menyatu, di mana semua noda dihancurkan” (比丘得諸三昧。不為有行所持。得寂靜勝妙。得息樂道。一心一意。盡諸有漏。).
  8. Yassa yassa ca abhiññā sacchikaraṇīyassa dhammassa cittaṃ abhininnāmeti abhiññā sacchikiriyāya tatra tatreva sakkhibhabbataṃ pāpuṇāti sati sati āyatane. Mp menjelaskan “landasan yang sesuai” sebagai “penyebab masa lalu dan jhāna yang dicapai pada masa sekarang, dan hal-hal lainnya, yang menjadi landasan bagi pengetahuan langsung” (pubbahetusaṅkhāte ceva īdāni ca paṭiladdhabbe abhiññāpādakajjhānādibhede ca sati sati kāraṇe). Ungkapan ini muncul pada Vism 371,26-33, Ppn 11.122, dan dikomentari pada Vism-mhṭ (edisi VRI, I 429). Vism 376,28-378,2, Ppn 12.14-19, menjelaskan landasan bagi pengetahuan langsung sebagai pikiran terkonsentrasi yang telah mencapai delapan kualitas: yaitu, (1) murni, (2) bersih, (3) tanpa noda, (4) bebas dari kekotoran, (5) lunak, (6) dapat diarahkan, (7) kokoh, dan (8) mencapai ketanpa-gangguan. Dengan kata lain, ini mengatakan, “terkonsentrasi” dapat dianggap sebagai kualitas pertama dan “kokoh dan mencapai ketanpa-gangguan” secara bersama-sama merupakan yang ke delapan.
  9. Ini memulai paragraf kanonis standar tentang enam jenis pengetahuan langsung (abhiññā). Lima yang pertama dikomentari secara terperinci dalam Vism bab 12 dan 13.
  10. Di sini saya mengikuti Ce dan Be, yang menempatkan pikiran yang terbebaskan sebelum pikiran yang tidak terbebaskan, bukan seperti Ee, yang kebalikannya.