easter-japanese

Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Kusinārā, di hutan belantara pengorbanan. Di sana Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Para bhikkhu!”

“Yang Mulia!” para bhikkhu itu menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

“Para bhikkhu, seorang bhikkhu yang ingin menegur orang lain harus memeriksa dirinya sendiri sehubungan dengan lima hal dan menegakkan lima hal dalam dirinya sebelum ia menegur orang lain.1 Sehubungan dengan lima hal apakah ia harus memeriksa dirinya sendiri?

(1) “Para bhikkhu, seorang bhikkhu yang ingin menegur orang lain harus memeriksa dirinya sendiri sebagai berikut: ‘Apakah perilaku jasmaniku murni? Apakah aku memiliki perilaku jasmani yang murni, tanpa cacat, dan tidak dapat ditegur? Apakah kualitas ini ada padaku atau tidak?’ Jika perilaku jasmani bhikkhu tersebut tidak murni, dan ia tidak memiliki perilaku jasmani yang murni, tanpa cacat, dan tidak dapat ditegur, maka akan ada yang berkata kepadanya: ‘Latihlah perilaku jasmanimu terlebih dulu.’ Akan ada yang berkata demikian kepadanya.

(2) “Kemudian, seorang bhikkhu yang ingin menegur orang lain harus memeriksa dirinya sendiri sebagai berikut: ‘Apakah perilaku ucapanku murni? Apakah aku memiliki perilaku ucapan yang murni, tanpa cacat, dan tidak dapat ditegur? Apakah kualitas ini ada padaku atau tidak?’ Jika perilaku ucapan bhikkhu tersebut tidak murni, dan ia tidak memiliki perilaku ucapan yang murni, tanpa cacat, dan tidak dapat ditegur, maka akan ada yang berkata kepadanya: ‘Latihlah perilaku ucapanmu terlebih dulu.’ Akan ada yang berkata demikian kepadanya. [80]

(3) “Kemudian, seorang bhikkhu yang ingin menegur orang lain harus memeriksa dirinya sendiri sebagai berikut: ‘Sudahkah aku menegakkan pikiran cinta-kasih tanpa kekesalan pada teman-temanku para bhikkhu? Apakah kualitas ini ada padaku atau tidak?’ Jika bhikkhu tersebut belum menegakkan pikiran cinta-kasih tanpa kekesalan pada teman-temannya para bhikkhu, maka akan ada yang berkata kepadanya: ‘Tegakkanlah pikiran cinta-kasih terhadap teman-temanmu para bhikkhu terlebih dulu.’ Akan ada yang berkata demikian kepadanya.

(4) “Kemudian, seorang bhikkhu yang ingin menegur orang lain harus memeriksa dirinya sendiri sebagai berikut: ‘Apakah aku terpelajar, dan apakah aku mengingat dan melestarikan apa yang telah kupelajari? Sudahkah aku banyak mempelajari ajaran-ajaran itu yang baik di awal, baik di pertengahan, dan baik di akhir, dengan makna dan frasa yang benar, yang mengungkapkan kehidupan spiritual yang murni dan lengkap sempurna? Sudahkah aku mengingatnya, melafalkannya secara lisan, menyelidikinya dalam pikiran, dan menembusnya dengan baik melalui pandangan? Apakah kualitas ini ada padaku atau tidak?’ Jika bhikkhu tersebut tidak terpelajar … dan belum menembusnya dengan baik melalui pandangan, maka akan ada yang berkata kepadanya: ‘Pelajarilah warisan itu terlebih dulu.’ Akan ada yang berkata demikian kepadanya.

(5) “Kemudian, seorang bhikkhu yang ingin menegur orang lain harus memeriksa dirinya sendiri sebagai berikut: ‘Sudahkah kedua Pātimokkha disampaikan dengan baik kepadaku secara terperinci, dianalisis dengan baik, dikuasai dengan baik, dipastikan dengan baik dalam hal aturan-aturan dan penjelasan terperincinya? Apakah kualitas ini ada padaku atau tidak?’ Jika kedua Pātimokkha [81] belum disampaikan dengan baik kepadanya secara terperinci … dalam hal aturan-aturan dan penjelasan terperincinya, dan jika, ketika ditanya: ‘Di manakah Sang Bhagavā menyatakan hal ini?’ ia tidak mampu menjawab, maka akan ada yang berkata kepadanya: ‘Pelajarilah disiplin terlebih dulu.’ Akan ada yang berkata demikian kepadanya.

“Adalah sehubungan dengan kelima hal ini maka ia harus memeriksa dirinya sendiri.

“Dan apakah lima hal yang harus ditegakkan dalam dirinya sendiri? [Ia harus mempertimbangkan:] ‘(6) Aku akan berbicara pada waktu yang tepat, bukan pada waktu yang tidak tepat; (7) aku akan berbicara secara jujur, bukan dengan berbohong; (8) aku akan berbicara dengan lembut, bukan dengan kasar; (9) aku akan berbicara dengan cara yang bermanfaat, bukan dengan cara yang berbahaya; (10) aku akan berbicara dengan pikiran cinta-kasih, bukan ketika sedang memendam kebencian.’ Ini adalah lima hal yang harus ia tegakkan dalam dirinya.

“Para bhikkhu, seorang bhikkhu yang ingin menegur orang lain harus memeriksa dirinya sendiri sehubungan dengan kelima hal itu dan menegakkan kelima hal ini dalam dirinya sebelum ia menegur orang lain.”


Catatan Kaki
  1. Sutta ini menggabungkan dua kelompok lima dan dengan demikian dapat dianggap sebagai sepuluh campuran. ↩︎