1

“Para bhikkhu, seperti halnya seseorang yang dengan pikirannya melingkupi samudra raya telah memasukkan semua aliran yang memasuki samudra, demikian pula, siapa pun yang mengembangkan dan melatih perhatian yang diarahkan pada jasmani telah memasukkan semua kualitas-kualitas bermanfaat yang berhubungan dengan pengetahuan sejati.”2

“Para bhikkhu, satu hal ini, ketika dikembangkan dan dilatih, (576) mengarah pada rasa keterdesakan kuat3(577) mengarah pada manfaat besar … (578) mengarah pada keamanan tinggi dari belenggu … (579) mengarah pada perhatian dan pemahaman jernih … (580) mengarah pada pencapaian pengetahuan dan penglihatan … (581) mengarah pada keberdiaman yang nyaman dalam kehidupan ini … (582) mengarah pada realisasi buah pengetahuan dan kebebasan. Apakah satu hal itu? Perhatian yang diarahkan pada jasmani. Ini adalah satu hal itu yang, ketika dikembangkan dan dilatih, mengarah pada realisasi buah pengetahuan dan kebebasan.”

4

“Para bhikkhu, ketika satu hal ini dikembangkan dan dilatih, maka jasmani menjadi tenang, pikiran menjadi tenang, pemikiran dan pemeriksaan mereda, dan semua kualitas-kualitas bermanfaat yang berhubungan dengan pengetahuan sejati mencapai pemenuhan melalui pengembangan. Apakah satu hal itu? Perhatian yang diarahkan pada jasmani. [44] Ketika satu hal ini dikembangkan dan dilatih, maka jasmani menjadi tenang … dan semua kualitas-kualitas bermanfaat yang berhubungan dengan pengetahuan sejati mencapai pemenuhan melalui pengembangan.”

5

“Para bhikkhu, ketika satu hal ini dikembangkan dan dilatih, maka kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang belum muncul menjadi tidak muncul dan kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang telah muncul menjadi ditinggalkan. Apakah satu hal itu? Perhatian yang diarahkan pada jasmani. Ketika satu hal ini dikembangkan dan dilatih, maka kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang belum muncul menjadi tidak muncul dan kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang telah muncul menjadi ditinggalkan.”

6

“Para bhikkhu, ketika satu hal ini dikembangkan dan dilatih, maka kualitas-kualitas bermanfaat yang belum muncul menjadi muncul dan kualitas-kualitas bermanfaat yang telah muncul menjadi bertambah dan meningkat. Apakah satu hal itu? Perhatian yang diarahkan pada jasmani. Ketika satu hal ini dikembangkan dan dilatih, maka kualitas-kualitas bermanfaat yang belum muncul menjadi muncul dan kualitas-kualitas bermanfaat yang telah muncul menjadi bertambah dan meningkat.”

7

“Para bhikkhu, ketika satu hal dikembangkan dan dilatih, maka (586) ketidak-tahuan ditinggalkan … (587) pengetahuan sejati muncul … (588) keangkuhan ‘aku’ ditinggalkan … (589) kecenderungan tersembunyi tercabut … (590) belenggu-belenggu ditinggalkan. Apakah satu hal itu? Perhatian yang diarahkan pada jasmani. Ketika satu hal ini dikembangkan dan dilatih, maka ketidak-tahuan ditinggalkan … pengetahuan sejati muncul … keangkuhan ‘aku’ ditinggalkan … kecenderungan tersembunyi tercabut … belenggu-belenggu ditinggalkan.”

“Para bhikkhu, satu hal ini, ketika dikembangkan dan dilatih, maka (591) mengarah menuju pembedaan melalui kebijaksanaan … (592) mengarah menuju nibbāna melalui ketidak-melekatan.8 Apakah satu hal itu? Perhatian yang diarahkan pada jasmani. Ini adalah satu hal itu yang, ketika dikembangkan dan dilatih, maka mengarah menuju pembedaan melalui kebijaksanaan … mengarah menuju nibbāna melalui ketidak-melekatan.”

“Para bhikkhu, ketika satu hal ini dikembangkan dan dilatih, maka (593) terjadi penembusan pada banyak elemen … (594) terjadi penembusan pada keberagaman elemen-elemen… (595) muncul pengetahuan analitis pada banyak elemen.9 Apakah satu hal itu? Perhatian yang diarahkan pada jasmani. Ketika satu hal ini dikembangkan dan dilatih, maka terjadi penembusan pada banyak elemen … terjadi penembusan pada keberagaman elemen-elemen … muncul pengetahuan analitis pada banyak elemen.”

“Para bhikkhu, satu hal ini, ketika dikembangkan dan dilatih, akan mengarah (596) pada realisasi buah memasuki-arus … (597) pada realisasi buah yang-kembali-sekali … (598) pada realisasi buah yang-tidak-kembali [45](599) pada realisasi buah Kearahattaan. Apakah satu hal itu? Perhatian yang diarahkan pada jasmani. Ini adalah satu hal itu yang, ketika dikembangkan dan dilatih, akan mengarah pada realisasi buah memasuki-arus … pada realisasi buah yang-kembali-sekali … pada realisasi buah yang-tidak-kembali … pada realisasi buah Kearahattaan.”

“Para bhikkhu, satu hal ini, ketika dikembangkan dan dilatih, akan mengarah (600) pada perolehan kebijaksanaan … (601) pada pertumbuhan kebijaksanaan … (602) pada pengembangan kebijaksanaan … (603) pada kebesaran kebijaksanaan … (604) pada keberagaman kebijaksanaan … (605) pada luasnya kebijaksanaan … (606) pada dalamnya kebijaksanaan … (6p07) pada kondisi kebijaksanaan yang tidak terlampaui … (608) pada ketebalan kebijaksanaan … (609) pada keberlimpahan kebijaksanaan … (610) pada kecepatan kebijaksanaan … (611) pada mengapungnya kebijaksanaan … (612) pada kegembiraan kebijaksanaan … (613) ketangkasan kebijaksanaan … (614) pada ketajaman kebijaksanaan … (615) pada kemampuan penembusan oleh kebijaksanaan.10 Apakah satu hal itu? Perhatian yang diarahkan pada jasmani. Ini adalah satu hal itu yang, ketika dikembangkan dan dilatih, maka mengarah pada kemampuan penembusan oleh kebijaksanaan.”


Catatan Kaki
  1. Penomoran ini selaras dengan Be. Ee menghitung ini sebagai vagga XXI, Ce sebagai sub bab ke tujuh dari vagga XVI, tetapi secara terpisah diberi judul Kāyagatāsativaggo, “Bab tentang Perhatian yang Diarahkan pada Jasmani.”
  2. Dalam sutta ini dan sutta-sutta berikutnya, kāyagatāsati harus dipahami dalam makna luas dari Kāyagatāsati Sutta (MN 119), sebagai terdiri dari semua latihan meditasi yang berdasarkan pada jasmani, bukan dalam makna sempit dari Vism 240, Ppn 8:44, yang membatasinya pada perenungan tiga puluh dua bagian-bagian tubuh.

    Mp: “Kualitas-kualitas bermanfaat yang berhubungan dengan pengetahuan sejati (kusalā dhammā ye keci vijjābhāgiyā): Terdapat delapan jenis pengetahuan sejati: pengetahuan pandangan terang, tubuh ciptaan-pikiran, dan enam jenis pengetahuan langsung (baca, misalnya, 3:101, 6:2). Kualitas-kualitas yang berhubungan dengan delapan ini adalah hal-hal yang berhubungan dengan pengetahuan sejati. Atau, jika salah satu dari delapan ini dianggap sebagai pengetahuan sejati, maka yang lainnya adalah ‘kualitas-kualitas yang berhubungan dengan pengetahuan sejati.’” Pada 2:31, samatha dan vipassanā dikatakan sebagai dua hal yang berhubungan dengan pengetahuan sejati.

  3. Baca di atas, catatan 187.
  4. Ce dan Ee menghitung empat sutta terpisah di sini, masing-masing berdasarkan pada satu manfaat yang muncul dari pengembangan perhatian pada jasmani, sedangkan Be menggabungkannya menjadi satu. Penggunaan kata sambung pi pada masing-masing pokok tampaknya membenarkan Be, yang saya ikuti.
  5. Ee menghitung dua sutta di sini, satu berdasarkan pada ketidak-munculan kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang belum muncul, yang lainnya berdasarkan pada ditinggalkannya kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang telah muncul. Saya mengikuti Ce dan Be dengan menganggapnya sebagai satu sutta.
  6. Sekali lagi, Ee menghitung ini sebagai dua sutta, tetapi saya mengikuti Ce dan Be dalam menganggapnya sebagai satu sutta.
  7. Di sini saya mengikuti Ce dan Ee dalam memperlakukan paragraf ini sebagai lima sutta, sedangkan Be memperlakukannya sebagai satu. Tentang tujuh kecenderungan tersembunyi (anussaya), baca 7:11, 7:12 tentang sepuluh belenggu (saṃyojana), baca 10:13.
  8. Mp mengemas paññāpabhedāya menjadi paññāya pabhedagamanatthaṃ. Pada Paṭis-a III 644, 6-7, paññāpabhedakusalo dikemas “terampil dalam keluhurannya sendiri yang tidak terbatas” (attano anantavikappecheko). Sinonim dekatnya, pabhinnañāṇo, dijelaskan sebagai “memiliki pengetahuan yang telah mencapai pembedaan-pembedaan yang tidak terbatas” (anantappabhedapattañāṇo). Mp mengemas anupādāparinibbāna dengan apaccayaparinibbānassa sacchikiriyathāya, “bertujuan untuk merealisasi nibbāna akhir yang tidak terkondisi.”
  9. Mp menjelaskan “penembusan pada banyak elemen” (anekadhātupaṭivedha) sebagai penembusan karakteristik-karakteristik (lakkhaṇa) dari delapan belas elemen; “penembusan pada keberagaman elemen” (nānādhātupaṭivedha) sebagai penembusan pada karakteristik-karakteristik dari delapan belas elemen itu melalui keberagamannya (nānābhāvena); dan “pengetahuan analitis pada banyak elemen” (anekadhātupaṭisambhidā) sebagai pengetahuan yang mengelompokkan elemen-elemen sebagai berikut: “Ketika elemen ini menonjol, maka muncul itu.” MN 115, III 62-63, menjelaskan berbagai cara yang dengannya seorang bhikkhu disebut “terampil dalam elemen-elemen” (dhātukusala), semua itu mungkin berhubungan dengan paragraf sekarang ini.
  10. Baca SN V 411-12. Mp memberikan penjelasan dari kata-kata ini berdasarkan pada Paṭis II 189-202.