Sīla (Pāli) atau Śīla (Sanskrit) yang berarti Moralitas adalah dasar dalam praktik Buddhisme. Merupakan kelompok kedua dalam pengelompokan Jalan Mulia Berunsur Delapan yang terdiri dari Ucapan Benar, Perbuatan Benar dan Penghidupan Benar. Secara umum Sīla adalah prinsip dasar etika.

Dalam praktik Buddhisme moderen sekarang, seseorang dengan atas keinginan sendiri mengambil aturan latihan yang sesuai dengan situasi kehidupannya:

  • Umat awam menjalankan Pañcasīla.
  • Umat awam pada hari-hari tertentu (Uposatha) menjalankan Aṭṭhasīla.
  • Samanera dan Samaneri melaksanakan Dasasīla.
  • Bhikkhu menjalankan Patimokkha yang terdiri dari 227-253 aturan tergantung sektenya.
  • Bhikkhuni menjalankan 331-346 aturan Patimokkha untuk Bhikkhuni tergantung sektenya.

‘Dan bagaimanakah, Baginda, apakah seorang bhikkhu sempurna dalam moralitas? Tidak melakukan pembunuhan, ia berdiam menjauhi pembunuhan, tanpa tongkat atau pedang, cermat, berbelas kasihan, tergerak demi kesejahteraan semua makhluk hidup. Demikianlah ia sempurna dalam moralitas. Menghindari mengambil apa yang tidak diberikan, … menghindari ketidaksucian, … (dan seterusnya untuk seluruh tiga bagian moralitas seperti pada DN 1, paragraf 1.8-27). Seorang bhikkhu menghindari keterampilan dan penghidupan salah demikian. Demikianlah ia sempurna dalam moralitas.’

— DN 2: Sāmaññaphala Sutta

Karena kebijaksanaan dimurnikan oleh moralitas, dan moralitas dimurnikan oleh kebijaksanaan; jika yang satu ada, maka yang lain juga ada, orang yang bermoral adalah orang yang bijaksana, dan orang yang bijaksana adalah orang yang bermoral, dan kombinasi moralitas dan kebijaksanaan disebut yang tertinggi di dunia ini. Bagaikan satu tangan mencuci tangan lainnya, atau satu kaki mencuci kaki lainnya, demikian pula kebijaksanaan memurnikan moralitas dan kombinasi ini disebut yang tertinggi di dunia.’

— DN 4:Soṇadaṇḍa Sutta

‘Para perumah tangga, ada lima bahaya bagi seseorang yang bermoral buruk, yang gagal dalam moralitas. Apakah lima itu? Pertama-tama, ia akan menderita kehilangan harta-benda karena melalaikan tugas-tugasnya. Ke dua, ia akan mendapatkan reputasi buruk karena moralitas yang buruk dan perbuatan salah. Ke tiga, kelompok apa pun yang ia datangi, apakah Khattiya, Brāhmaṇa, perumah tangga atau petapa, ia melakukannya dengan perasaan segan dan malu. Ke empat, ia meninggal dunia dalam keadaan bingung. Ke lima, setelah meninggal dunia, saat hancurnya jasmani, ia muncul di alam yang tidak baik, bernasib buruk, di alam menderita, di neraka. Ini adalah lima bahaya bagi seseorang yang bermoral buruk.’

— DN 16: Mahāparinibbāna Sutta

‘Dan, para perumah tangga, ada lima keuntungan dari seseorang yang bermoralitas baik dan yang berhasil dalam moralitas. Apakah lima ini? Pertama, karena penuh perhatian terhadap tugas-tugasnya, ia memperoleh keuntungan dan kekayaan. Ke dua, ia memperoleh reputasi baik karena moralitasnya dan perbuatan baiknya. Ke tiga, kelompok apa pun yang ia datangi, apakah Khattiya, Brāhmaṇa, perumah tangga atau petapa, ia melakukannya dengan penuh keyakinan dan penuh percaya diri. Ke empat, ia meninggal dunia dengan tenang dan tidak bingung. Ke lima, setelah meninggal dunia, saat hancurnya jasmani, ia muncul di alam yang baik, di surga. Ini adalah lima keuntungan dari seseorang yang bermoral baik, dan yang berhasil dalam moralitas.’

— DN 16: Mahāparinibbāna Sutta

‘Ini adalah moralitas, ini adalah konsentrasi, ini adalah kebijaksanaan. Konsentrasi, ketika disertai moralitas, akan menghasilkan buah dan manfaat besar. Kebijaksanaan, ketika disertai konsentrasi, akan menghasilkan buah dan manfaat besar. Pikiran yang disertai kebijaksanaan akan secara total terbebas dari kekotoran, yaitu, kekotoran indria, penjelmaan, pandangan salah, dan kebodohan.’

— DN 16: Mahāparinibbāna Sutta