Pattidāna yang berarti transfer atau membagi jasa baik adalah sebuah upacara sekte Theravāda yang dilakukan untuk mengirim atau membagi jasa baik seseorang yang telah sebelumnya diperbuat kepada sanak saudara yang telah meninggal yang terlahir di alam hantu kelaparan (peta). Kegiatan ini dikenal juga dengan pelimpahan jasa. Dalam Buddhisme Mahāyāna juga melakukan kegiatan ini dengan nama Ulambana.

Dalam teorinya kegiatan ini hanya dapat dilakukan kepada sanak-saudara atau keluarga yang sudah meninggal dan terlahir sebagai hantu kelaparan akan tetapi banyak yang melakukannya kepada mereka yang masih hidup juga, terutama yang sedang sakit kritis. Biasanya sebelum melakukan pelimpahan jasa ini mereka melakukan Fangshen atau pelepasan mahluk hidup lalu melimpahkan jasa baiknya kepada orang yang sedang sakit kritis dengan harapan akan dapat berbuah dengan kesembuhan.

Kegiatan Pattidāna menggunakan rujukan teks-teks belakangan dari sekte Theravāda, baik dalam Petavatthu 1.5 juga Khuddakapāṭha 7 dengan judul yang sama, Tirokudda Sutta. Selain itu juga pelimpahan jasa ini dapat ditemukan dalam komentarnya yang menceritakan latar belakang sutta tersebut.

Ada juga kelompok dalam sekte Theravāda yang menentang proses transfer jasa baik ini, terutama dari kelompok yang mempelajari Abhidhamma. Mereka menjelaskan proses Pattidāna adalah proses bermudita citta atau turut bersenang atas jasa perbuatan baik. Tetapi logika ini mendapat kritik juga bahwa jika memang turut bersenang maka dapat dilakukan kepada siapa saja tidak terbatas, bukan hanya kepada sanak saudara saja, tetapi yang mengetahui, dan tidak perlu dibuat dengan label kegiatan Pattidāna itu karena memang sudah bertentangan dengan makna katanya.

Dalam Buddhisme Awal, tidak pernah disinggung tentang upacara ataupun kegiatan pelimpahan jasa ini. Pelimpahan jasa ini juga bertentangan dengan konsep bagaimana seseorang akan mendapatkan hasil dari Kamma atau perbuatannya. Dalam Abhiṇhapaccavekkhitabbaṭhāna Sutta (AN 5.57) dikatakan bahwa,

Aku memiliki kammaku sendiri, mewarisi kammaku sendiri, terlahir karena kammaku sendiri, berhubungan dengan kammaku sendiri, terlindung oleh kammaku sendiri. Apapun kamma yang ku lakukan, baik ataupun buruk, aku akan mewarisinya.

Dalam Jāṇussoṇī Sutta (AN 10.177) dijelaskan bahwa kita dapat memberikan persembahan makanan kepada mereka yang terlahir dialam hantu kelaparan, bukan dialam lainnya.

“Seorang lainnya lagi membunuh … dan menganut pandangan salah. Dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, ia terlahir kembali di alam hantu menderita. Ia memelihara dirinya dan bertahan di sana dengan makanan hantu menderita, atau jika tidak, maka ia memelihara dirinya di sana dengan apa yang teman-temannya, sahabat-sahabatnya, sanak-saudaranya, atau anggota keluarganya di dunia ini persembahkan kepadanya. Ini adalah kesempatan yang tepat, ketika pemberian itu bermanfaat bagi seseorang yang hidup di sana.

Dalam Nandamātā Sutta (AN 7.53), ada kejadian dimana seorang Deva meminta kepada manusia untuk melakukan persembahan makanan yang didedikasikan atas namanya. Dalam sutta tersebut tidak dikonfirmasi apakah terjadi proses transfer tetapi kita dapat memahaminya seperti orang yang meminta atau menyuruh seseorang melakukan perbuatan atas nama orang tersebut. Dan justru sebaliknya dalam Cūḷasaccaka Sutta (MN 35), Sang Buddha mengoreksi Saccaka ketika melimpahkan jasa dāna makanannya kepada Sang Buddha kepada rekan-rekannya para Licchavi, dan Sang Buddha mengatakan bahwa jasa itu tetap miliknya tidak terlimpahkan.