Pada Saṃyutta ini Sang Buddha menjelaskan jenis-jenis dari keyakinan dan pengertian yang dibutuhkan untuk pencapaian pemasuk-arus. Sutta-sutta pendek ini memiliki struktur yang identik, yang masing-masingnya fokus pada aspek pengalaman yang berbeda [termasuk pada enam indera, enam elemen (dhātu) dan lima kumpulan/penyusun]

Di Sāvatthī. “Para bhikkhu, mata adalah tidak kekal, berubah, menjadi sebaliknya. Telinga … Hidung … Lidah … Badan … Pikiran adalah tidak kekal, berubah, menjadi sebaliknya. Seorang yang meyakini ajaran-ajaran ini dan memahami demikian disebut seorang penganut-keyakinan, seorang yang telah memasuki jalan pasti kebenaran, memasuki wilayah orang-orang mulia, melampaui wilayah kaum duniawi. Ia tidak mampu melakukan perbuatan yang karenanya dapat mengakibatkannya terlahir kembali di alam neraka, di alam binatang, atau di alam setan; ia tidak dapat meninggal dunia tanpa menembus buah Memasuki-arus.1

“Seseorang yang baginya ajaran-ajaran ini diterima demikian setelah direnungkan hingga tingkat yang mencukupi dengan kebijaksanaan disebut seorang Penganut-Dhamma,2 seorang yang memasuki jalan pasti kebenaran, memasuki wilayah orang-orang mulia, melampaui wilayah kaum duniawi. Ia tidak mampu melakukan perbuatan yang karenanya dapat mengakibatkannya terlahir kembali di alam neraka, di alam binatang, atau di alam setan; ia tidak dapat meninggal dunia tanpa menembus buah Memasuki-arus.

“Seorang yang mengetahui dan melihat ajaran-ajaran ini seperti demikian disebut seorang Pemasuk-arus, tidak akan lagi terlahir di alam rendah, pasti mencapai tujuan, dengan penerangan sebagai tujuannya.”3

Di Sāvatthī. “Para bhikkhu, bentuk-bentuk adalah tidak kekal, berubah, menjadi sebaliknya. Suara-suara … Bau-bauan … Rasa kecapan … Objek-objek sentuhan … Fenomena pikiran adalah tidak kekal, berubah, menjadi sebaliknya. [226] Seorang yang meyakini dalam ajaran-ajaran ini dan memahami demikian disebut seorang penganut-keyakinan, seorang yang telah memasuki jalan pasti kebenaran…; ia tidak dapat meninggal dunia tanpa menembus buah Memasuki-arus.

“Seorang yang mengetahui dan melihat ajaran-ajaran ini seperti demikian disebut seorang Pemasuk-arus, tidak akan lagi terlahir di alam rendah, pasti mencapai tujuan, dengan Penerangan sebagai tujuannya.”

Di Sāvatthī. “Para bhikkhu, kesadaran-mata adalah tidak kekal, berubah, menjadi sebaliknya. Kesadaran-telinga …Kesadaran-hidung … Kesadaran-lidah … Kesadaran-badan … Kesadaran-pikiran adalah tidak kekal, berubah, menjadi sebaliknya. Seorang yang … dengan Penerangan sebagai tujuannya.”

Di Sāvatthī. “Para bhikkhu, kontak-mata adalah tidak kekal, berubah, menjadi sebaliknya. Kontak-telinga … Kontak-hidung … Kontak-lidah … Kontak-badan … Kontak-pikiran adalah tidak kekal, berubah, menjadi sebaliknya. Seorang yang … dengan Penerangan sebagai tujuannya.”

Di Sāvatthī. “Para bhikkhu, perasaan yang muncul dari kontak-mata adalah tidak kekal, berubah, menjadi sebaliknya. perasaan yang muncul dari kontak-telinga … perasaan yang muncul dari kontak- hidung … perasaan yang muncul dari kontak-lidah … perasaan yang muncul dari kontak-badan … perasaan yang muncul dari kontak-pikiran adalah tidak kekal, berubah, menjadi sebaliknya. Seorang yang … dengan Penerangan sebagai tujuannya.” [227]

Di Sāvatthī. “Para bhikkhu, persepsi bentuk adalah tidak kekal, berubah, menjadi sebaliknya. Persepsi suara … Persepsi bau-bauan … Persepsi rasa kecapan … Persepsi objek-objek sentuhan … Persepsi fenomena pikiran adalah tidak kekal, berubah, menjadi sebaliknya. Seorang yang … dengan Penerangan sebagai tujuannya.”

Di Sāvatthī. “Para bhikkhu, kehendak sehubungan dengan bentuk adalah tidak kekal, berubah, menjadi sebaliknya. Kehendak sehubungan dengan suara … Kehendak sehubungan dengan bau-bauan … Kehendak sehubungan dengan rasa kecapan … Kehendak sehubungan dengan objek-objek sentuhan … Kehendak sehubungan dengan fenomena pikiran adalah tidak kekal, berubah, menjadi sebaliknya. Seorang yang … dengan Penerangan sebagai tujuannya.”

Di Sāvatthī. “Para bhikkhu, ketagihan akan bentuk adalah tidak kekal, berubah, menjadi sebaliknya. Ketagihan akan suara … Ketagihan akan bau-bauan … Ketagihan akan rasa kecapan … Ketagihan akan objek-objek sentuhan … Ketagihan akan fenomena pikiran adalah tidak kekal, berubah, menjadi sebaliknya. Seorang yang … dengan Penerangan sebagai tujuannya.”

Di Sāvatthī. “Para bhikkhu, unsur tanah adalah tidak kekal, berubah, menjadi sebaliknya. Unsur air … Unsur panas … Unsur angin … Unsur ruang … Unsur kesadaran adalah tidak kekal, berubah, menjadi sebaliknya.271 Seorang yang … dengan Penerangan sebagai tujuannya.”

Di Sāvatthī. “Para bhikkhu, bentuk adalah tidak kekal, berubah, menjadi sebaliknya. Perasaan … Persepsi … Bentukan-betukan kehendak … Kesadaran adalah tidak kekal, berubah, menjadi sebaliknya. Seorang yang meyakini dalam ajaran-ajaran ini dan memahami demikian disebut seorang penganut-keyakinan, seorang yang memasuki jalan pasti kebenaran, [228] memasuki wilayah orang-orang mulia, melampaui wilayah kaum duniawi. Ia tidak mampu melakukan perbuatan yang karenanya dapat mengakibatkannya terlahir kembali di alam neraka, di alam binatang, atau di alam setan; ia tidak dapat meninggal dunia tanpa menembus buah Memasuki-arus.

“Seseorang yang baginya ajaran-ajaran ini diterima demikian setelah direnungkan hingga tingkat yang mencukupi dengan kebijaksanaan disebut seorang Penganut-Dhamma, seorang yang memasuki jalan pasti kebenaran, memasuki wilayah orang- orang mulia, melampaui wilayah kaum duniawi. Ia tidak mampu melakukan perbuatan yang karenanya dapat mengakibatkannya terlahir kembali di alam neraka, di alam binatang, atau di alam setan; ia tidak dapat meninggal dunia tanpa menembus buah Memasuki-arus.

“Seorang yang mengetahui dan melihat ajaran-ajaran ini seperti demikian disebut seorang Pemasuk-arus, tidak akan lagi terlahir di alam rendah, pasti mencapai tujuan, dengan Penerangan sebagai tujuannya.”


Catatan Kaki
  1. Penganut-keyakinan (saddhānusārī̃) dan Penganut-Dhamma (dhammānusārī̃), yang dijelaskan persis di bawah, adalah dua kelompok siswa yang berlatih demi penembusan buah Memasuki-arus. Keduanya adalah urutan terendah dalam keanggotaan dari tujuh pengelompokan siswa mulia, dengan definisi formal, pada MN I 477-79. Ketujuh jenis juga didefinisikan, secara agak berbeda, pada Pp 14-15 (§§30-36) dan pada Vism 659-60 (Ppn 21:74-78). Panganut-keyakinan dan Penganut-Dhamma juga dibedakan pada 55:24 (V 377, 8-24) dan 55:25 (V 379, 10-21), walaupun istilah itu sendiri tidak digunakan di sana. Pada 48:12-17 istilah itu muncul di akhir dari daftar yang lazim dari urutan orang-orang mulia, menggantikan tempat seorang yang berlatih untuk menembus buah Memasuki-arus, dan di sini Penganut-keyakinan ditempatkan di bawah Penganut-Dhamma dengan alasan bahwa indrianya lebih lemah.

    Secara singkat, Penganut-keyakinan dan Penganut-Dhamma berbeda dalam hal indria mereka yang dominan: Penganut-keyakinan mengandalkan keyakinan sebagai kendaraan untuk maju, Pengikut-Dhamma mengandalkan kebijaksanaan. Ketika mereka mencapai buah Memasuki-arus, Penganut-keyakinan menjadi “seorang yang terbebaskan melalui keyakinan” (saddhāvimutta; baca MN I 478, 29-34), dan Pengikut-Dhamma menjadi “yang tercapai melalui pandangan” (diṭṭhippata; baca MN I 478, 18-32)

    Menurut sistem Abhidhamma, dengan konsep lokuttara hanya bertahan pada kondisi-pikiran tunggal, keduanya, Penganut-keyakinan dan Penganut-Dhamma harus bertahan hanya pada jalur kondisi-pikiran tunggal. Akan tetapi, penerjemahan ini, walaupun didukung oleh komentar, sulit untuk disesuaikan dengan Nikāya. Untuk diskusi menarik mengenai kedua model, baca Gethin, The Buddhist Path to Awakening, pp. 129-33

    Spk menjelaskan “jalan pasti kebenaran” (sammattaniyāma) sebagai jalan mulia (ariyamagga). Mengenai klausa “ia tidak dapat meninggal dunia tanpa menembus buah Memasuki-arus,” Spk mengatakan bahwa begitu sang jalan telah muncul maka tidak akan ada rintangan menuju buah. Mengutip Pp 13 (§20): “jika orang ini adalah seorang yang berlatih untuk mencapai buah Memasuki-arus, dan jika saat itu adalah waktunya kappa terbakar, maka kappa tidak akan terbakar hingga orang itu mencapai buah Memasuki-arus.”

  2. Mengenai Pengikut-Dhamma, baca n. 268. Komentar tidak mengklarifikasi sintaksis ungkapan ime dhammā evaṃ paññāya mattaso nijjhānaṃ khamanti. Walaupun nijjhānaṃ adalah akusatif, dalam ungkapan Bahasa Inggris atau ini lebih umum diterjemahkan dengan makna ablatif.

    Spk: Mattaso nijjhānaṃ khamantī ti pamāṇato olokanaṃ khamanti; “Diterima setelah direnungkan hingga tingkat yang mencukupi”: diterima dalam ukuran (melalui) pemeriksaan. Spk-pṭ: Olokanan ti saccābhisamayasaṅkhātaṃ dassanaṃ; khamanti sahanti, ñayantī ti attho; “Pemeriksaan”: penglihatan yang terdapat dalam penembusan pada buah. “Diterima”: disetujui, artinya “dikenali.”

    Spk-pṭ mencoba untuk mengidentifikasi “pemeriksaan” atau “perenungan” Penganut-Dhamma atas ajaran-ajaran dengan penembusan pada kebenaran-kebenaran yang dicapai pada saat Memasuki-arus, tetapi sutta sendiri membedakan kedua istilah tersebut, “pemeriksaan” sebagai persiapan dari “perenungan.”

  3. Pernyataan ini menjelaskan bagaimana Pemasuk-arus berbeda dengan mereka yang sedang dalam perjalanan menuju Memasuki-arus. Penganut-keyakinan menerima ajaran-ajaran atas dasar keyakinan (dengan tingkat pemahaman terbatas), Penganut-Dhamma melalui penyelidikan; tetapi Pemasuk-arus telah mengetahui dan melihat ajaran-ajaran secara langsung. Saya bersama dengan Se membaca: evaṃ jānāti evaṃ passati.