easter-japanese

Demikianlah yang kudengar. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Rājagaha di Gunung Puncak Hering. Kemudian, ketika malam telah larut, dua dewata dengan keindahan mempesona, menerangi seluruh Puncak [75] Hering, mendatangi Sang Bhagavā, bersujud kepada Beliau, dan berdiri di satu sisi. Salah satu dewata berkata kepada Sang Bhagavā: “Bhante, para bhikkhunī ini telah terbebaskan.”

Dewata lainnya berkata: “Bhante, para bhikkhunī ini telah terbebaskan dengan baik tanpa sisa.”1

Ini adalah apa yang dikatakan oleh kedua dewata itu. Sang Guru menyetujui. Kemudian, [dengan berpikir]: “Sang Guru menyetujui,” mereka bersujud kepada Sang Bhagavā, mengelilingi Beliau dengan sisi kanan mereka menghadap Beliau, dan lenyap dari sana.

Kemudian, ketika malam telah berlalu, Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Tadi malam, para bhikkhu, ketika malam telah larut, dua dewata dengan keindahan mempesona, menerangi seluruh Puncak Hering, mendatangiKu, bersujud kepadaKu, dan berdiri di satu sisi. Salah satu dewata berkata kepadaKu: ‘Bhante, para bhikkhunī ini telah terbebaskan.’ Dan dewata lainnya berkata: ‘Bhante, para bhikkhunī ini telah terbebaskan dengan baik tanpa sisa.’ Ini adalah apa yang dikatakan oleh kedua dewata itu. Setelah itu mereka bersujud kepadaKu, mengelilingiKu dengan sisi kanan mereka menghadapKu, dan lenyap dari sana.”

Pada saat itu Yang Mulia Mahāmoggallāna sedang duduk tidak jauh dari Sang Bhagavā. Kemudian Yang Mulia Mahāmoggallāna berpikir: “Deva manakah yang mengenali seseorang yang masih memiliki sisa sebagai ‘seorang yang masih memiliki sisa’ dan seorang yang tanpa sisa sebagai ‘seorang yang tanpa sisa’?”

Pada saat itu seorang bhikkhu bernama Tissa baru saja meninggal dunia dan telah terlahir kembali di alam brahmā tertentu. Di sana mereka juga mengenalnya sebagai “Brahmā Tissa, yang kuat dan perkasa.” Kemudian, secepat seorang kuat merentangkan lengannya yang tertekuk atau menekuk lengannya yang terentang, Yang Mulia Mahāmoggallāna lenyap dari Gunung Puncak Hering dan muncul kembali di alam brahmā itu. Setelah melihat kedatangan Yang Mulia Mahāmoggallāna dari jauh, Brahmā Tissa [76] berkata kepadanya:

“Marilah, Moggallāna yang terhormat! Selamat datang, Moggallāna yang terhormat! Sudah lama sejak engkau berkesempatan datang ke sini. Duduklah, Moggallāna yang terhormat. Tempat duduk ini telah dipersiapkan.” Yang Mulia Mahāmoggallāna duduk di tempat duduk yang telah dipersiapkan. Brahmā Tissa bersujud kepada Yang Mulia Mahāmoggallāna dan duduk di satu sisi. Kemudian Yang Mulia Mahāmoggallāna berkata kepadanya:

“Deva manakah, Tissa, yang mengenali seseorang masih memiliki sisa sebagai ‘seorang yang masih memiliki sisa’ dan seorang yang tanpa sisa sebagai ‘seorang yang tanpa sisa’?”

“Para deva kumpulan Brahmā memiliki pengetahuan demikian, Moggallāna yang terhormat.”

“Apakah semua deva kumpulan Brahmā memiliki pengetahuan demikian, Tissa?”

“Tidak semua, Moggallāna yang terhormat. Para deva kumpulan Brahmā yang puas dengan umur kehidupan brahmā, keindahan brahmā, kebahagiaan brahmā, keagungan brahmā, kekuasaan brahmā, dan yang tidak memahami sebagaimana adanya jalan membebaskan diri yang lebih tinggi dari ini, tidak memiliki pengetahuan demikian.

“Tetapi para deva kumpulan Brahmā itu yang tidak puas dengan umur kehidupan brahmā, keindahan brahmā, kebahagiaan brahmā, keagungan brahmā, kekuasaan brahmā, dan yang [77] memahami sebagaimana adanya jalan membebaskan diri yang lebih tinggi dari ini, mengenali seseorang yang masih memiliki sisa sebagai ‘seorang yang masih memiliki sisa’ dan seorang yang tanpa sisa sebagai ‘seorang yang tanpa sisa.’2

(1) “Di sini, Moggallāna yang terhormat, ketika seorang bhikkhu terbebaskan dalam kedua aspek, para deva mengenalinya sebagai berikut: ‘Yang Mulia ini terbebaskan dalam kedua aspek. Selama jasmaninya masih berdiri, para deva dan manusia dapat melihatnya, tetapi dengan hancurnya jasmani, maka para deva dan manusia tidak lagi dapat melihatnya.’ Dengan cara inilah para deva itu mengenali seseorang yang masih memiliki sisa sebagai ‘seorang yang masih memiliki sisa’ dan seorang yang tanpa sisa sebagai ‘seorang yang tanpa sisa.’

(2) “Kemudian, ketika seorang bhikkhu terbebaskan melalui kebijaksanaan, para deva itu mengenalinya sebagai berikut: ‘Yang Mulia ini terbebaskan melalui kebijaksanaan. Selama jasmaninya masih berdiri, para deva dan manusia dapat melihatnya, tetapi dengan hancurnya jasmani, maka para deva dan manusia tidak lagi dapat melihatnya.’ Dengan cara ini jugalah para deva itu mengenali seseorang yang masih memiliki sisa …

(3) “Kemudian, ketika seorang bhikkhu adalah saksi tubuh, para deva itu mengenalinya sebagai berikut: ‘Yang Mulia ini adalah seorang saksi tubuh. Jika Yang Mulia ini menetap di tempat tinggal yang sesuai, mengandalkan pertemanan yang baik, dan menyeimbangkan indria-indria spiritual, mungkin ia akan merealisasikan untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung, dalam kehidupan ini, kesempurnaan kehidupan spiritual yang tiada taranya yang karenanya anggota-anggota keluarga dengan benar meninggalkan kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah, dan setelah memasukinya, ia berdiam di dalamnya.’ Dengan cara ini jugalah para deva itu mengenali seseorang yang masih memiliki sisa …

(4) “Kemudian, ketika seorang bhikkhu adalah seorang yang mencapai pandangan … (5) seorang yang terbebaskan melalui keyakinan … (6) seorang pengikut Dhamma, para deva itu mengenalinya sebagai berikut: ‘Yang Mulia ini [78] adalah seorang pengikut Dhamma. Jika Yang Mulia ini menetap di tempat tinggal yang sesuai, mengandalkan pertemanan yang baik, dan menyeimbangkan indria-indria spiritual, mungkin ia akan merealisasikan untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung, dalam kehidupan ini, kesempurnaan kehidupan spiritual yang tiada taranya yang karenanya anggota-anggota keluarga dengan benar meninggalkan kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah, dan setelah memasukinya, ia berdiam di dalamnya.’ Dengan cara ini jugalah para deva itu mengenali seseorang yang masih memiliki sisa sebagai ‘seorang yang masih memiliki sisa’ dan seorang yang tanpa sisa sebagai ‘seorang yang tanpa sisa.’

Kemudian, setelah merasa puas dan gembira mendengar kata-kata Brahmā Tissa, secepat seorang kuat merentangkan lengannya yang tertekuk atau menekuk lengannya yang terentang, Yang Mulia Mahāmoggallāna lenyap dari alam brahmā dan muncul kembali di Puncak Hering. Ia mendatangi Sang Bhagavā, bersujud kepada Beliau, duduk di satu sisi, dan melaporkan seluruh percakapannya dengan Brahmā Tissa kepada Sang Bhagavā.

[Sang Bhagavā berkata:] “Tetapi, Moggallāna, apakah Brahmā Tissa tidak mengajarkan kepadamu tentang orang ke tujuh? Seorang yang berdiam dalam ketiadaan gambaran?”3

“Sekaranglah waktunya untuk hal ini, Bhagavā! Sekarang adalah waktunya untuk hal ini, Yang Sempurna Menempuh Sang Jalan! Sudilah Sang Bhagavā mengajarkan tentang orang ke tujuh ini, seorang yang berdiam dalam ketiadaan gambaran. Setelah mendengarnya dari Sang Bhagavā, para bhikkhu akan mengingatnya.”

“Maka dengarkanlah, Moggallāna, dan perhatikanlah. Aku akan berbicara.”

“Baik, Bhante,” Yang Mulia Mahāmoggallāna menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

(7) “Di sini, Moggallāna, melalui tanpa perhatian pada segala gambaran, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam konsentrasi pikiran tanpa gambaran. Para deva itu mengenalinya sebagai berikut: ‘Melalui tanpa perhatian pada segala gambaran, Yang Mulia ini masuk dan berdiam dalam konsentrasi pikiran tanpa gambaran. Jika Yang Mulia ini menetap di tempat tinggal yang sesuai, mengandalkan pertemanan yang baik, dan menyeimbangkan indria-indria spiritual, mungkin ia akan merealisasikan untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung, dalam kehidupan ini, kesempurnaan kehidupan spiritual yang tiada bandingnya yang karenanya anggota-anggota keluarga dengan benar meninggalkan kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah, [79] dan setelah memasukinya, ia berdiam di dalamnya.’ Dengan cara ini jugalah para deva itu mengenali seseorang yang masih memiliki sisa sebagai ‘seorang yang masih memiliki sisa’ dan seorang yang tanpa sisa sebagai ‘seorang yang tanpa sisa.’”


Catatan Kaki
  1. Anupādisesā suvimuttā. Mp mengatakan bahwa ini merujuk pada lima ratus bhikkhunī pengikut Mahāpajāpatī, yang telah terbebaskan tanpa sisa kemelekatan (upādānasesaṃ aṭṭhapetvā). Pembahasan selanjutnya dalam sutta menjelaskan bahwa anupādisesa di sini berarti bahwa mereka telah melenyapkan semua kekotoran tanpa sisa, bukan bahwa mereka telah mencapai elemen nibbāna tanpa sisa (anupādisesanibbānadhātu). ↩︎

  2. Dari ketujuh jenis yang disebutkan pada §§1-7, dua yang pertama, karena Arahant, maka tidak ada sisa kekotoran; lima lainnya, karena masih berlatih, maka masih ada sisa kekotoran. ↩︎

  3. Dalam tujuh pengelompokan individu mulia yang biasa, individu ke tujuh adalah pengikut-keyakinan (saddhānusārī). Akan tetapi, di sini, tempat ke tujuh adalah animittavihārī, “seorang yang berdiam dalam ketiadaan gambaran.” Mp mengatakan bahwa Sang Buddha sesungguhnya menjelaskan pengikut keyakinan sebagai seorang yang berlatih pandangan terang kuat (balavavipassakavasena). Dijelaskan bahwa “segala gambaran” adalah semua gambaran kekekalan dan seterusnya, dan konsentrasi pikiran tanpa gambaran (animittaṃ cetosamādhiṃ) sebagai konsentrasi pandangan terang kuat (balavavipassanāsamādhiṃ). Mungkin Mp sedang berusaha untuk merasionalkan perbedaan tekstual yang mungkin menjadi penunjuk perbedaan pemahaman atas individu ke tujuh. ↩︎