easter-japanese

Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Vesālī di aula beratap lancip di Hutan Besar. Kemudian, pada suatu pagi, Sang Bhagavā merapikan jubah, membawa mangkuk dan jubahNya, dan memasuki Vesālī untuk menerima dana makanan. Setelah berjalan menerima dana makanan di Vesālī, setelah makan, ketika Beliau telah kembali dari perjalanan itu, Beliau memasuki Hutan Besar dan duduk di bawah sebatang pohon untuk melewatkan hari.

Pada saat itu sejumlah pemuda Licchavi membawa busur mereka dan sedang berjalan-jalan di Hutan Besar, disertai oleh sekumpulan anjing, ketika mereka melihat Sang Bhagavā duduk di bawah sebatang pohon untuk melewatkan hari. Ketika mereka melihat Beliau, mereka meletakkan busur mereka, mengusir anjing-anjing ke satu sisi, dan mendatangi Beliau. Mereka bersujud kepada Sang Bhagavā [76] dan berdiri diam mengawasi Beliau sambil merangkapkan tangan sebagai penghormatan.

Pada saat itu Mahānāma pemuda Licchavi sedang berjalan-jalan untuk berolah-raga di Hutan Besar ketika ia melihat para pemuda Licchavi berdiri diam mengawasi Sang Bhagavā sambil merangkapkan tangan sebagai penghormatan. Kemudian ia mendatangi Sang Bhagavā, bersujud kepada Beliau, duduk di satu sisi, dan mengucapkan ucapan inspiratif ini: “Mereka akan menjadi Vajji! Mereka akan menjadi Vajji!”

[Sang Bhagavā berkata:] “Tetapi mengapakah, Mahānāma, engkau mengatakan: ‘Mereka akan menjadi Vajji! Mereka akan menjadi Vajji!’?”

“Para pemuda Licchavi ini, Bhante, bengis, kasar, dan kurang ajar. Mereka selalu merampas manisan apa pun yang disisakan sebagai pemberian di antara keluarga-keluarga, apakah tebu, buah jujube, kue, pai, atau kembang gula, dan kemudian mereka memakannya. Mereka memukul punggung para perempuan dan gadis-gadis dari keluarga-keluarga terhormat.1 Sekarang mereka berdiri diam mengawasi Sang Bhagavā sambil merangkapkan tangan sebagai penghormatan.”

“Mahānāma, dalam anggota keluarga mana pun juga terdapat lima kualitas ini – apakah ia adalah seorang raja khattiya yang sah, seorang laki-laki terhormat, jenderal dari suatu bala tentara, kepala desa, kepala kelompok pekerja, atau salah satu di antara mereka yang memimpin berbagai suku – hanya kemajuan yang dapat diharapkan, bukan kemunduran. Apakah lima ini?

(1) “Di sini, Mahānāma, dengan kekayaan yang diperoleh melalui usaha bersemangat, dikumpulkan dengan kekuatan lengannya, dicari dengan keringat di dahinya, kekayaan yang baik yang diperoleh dengan baik, seorang anggota keluarga menghormati, menjunjung, menghargai, [77] dan memuliakan orangtuanya. Orangtuanya, karena dihormati, dijunjung, dihargai, dan dimuliakan, akan berbelas kasihan padanya dengan pikiran baik, berpikir: ‘Semoga engkau berumur panjang dan mempertahankan umur panjang.’ Ketika orangtua seorang anggota keluarga berbelas kasihan padanya, maka hanya kemajuan yang dapat diharapkan, bukan kemunduran.

(2) “Kemudian, Mahānāma, dengan kekayaan yang diperoleh melalui usaha bersemangat, dikumpulkan dengan kekuatan lengannya, dicari dengan keringat di dahinya, kekayaan yang baik yang diperoleh dengan baik, seorang anggota keluarga menghormati, menjunjung, menghargai, dan memuliakan istri dan anak-anaknya, para budak, pekerja dan pelayannya. Karena dihormati, dijunjung, dihargai, dan dimuliakan, mereka akan berbelas kasihan padanya dengan pikiran baik, berpikir: ‘Semoga engkau berumur panjang!’ Ketika istri dan anak-anak seorang anggota keluarga, para budak, pekerja dan pelayannya berbelas kasihan padanya, maka hanya kemajuan yang dapat diharapkan, bukan kemunduran.

(3) “Kemudian, Mahānāma, dengan kekayaan yang diperoleh melalui usaha bersemangat, dikumpulkan dengan kekuatan lengannya, dicari dengan keringat di dahinya, kekayaan yang baik yang diperoleh dengan baik, seorang anggota keluarga menghormati, menjunjung, menghargai, dan memuliakan para pemilik lahan tetangga dan mereka yang kepadanya ia melakukan bisnis.2 Karena dihormati, dijunjung, dihargai, dan dimuliakan, mereka akan berbelas kasihan padanya dengan pikiran baik, berpikir: ‘Semoga engkau berumur panjang!’ Ketika para pemilik lahan tetangga dan mereka yang kepadanya ia melakukan bisnis berbelas kasihan padanya, maka hanya kemajuan yang dapat diharapkan, bukan kemunduran.

(4) “Kemudian, Mahānāma, dengan kekayaan yang diperoleh melalui usaha bersemangat, dikumpulkan dengan kekuatan lengannya, dicari dengan keringat di dahinya, kekayaan yang baik yang diperoleh dengan baik, seorang anggota keluarga menghormati, menjunjung, menghargai, dan memuliakan para dewata yang diberikan pengorbanan.3 Karena dihormati, dijunjung, dihargai, dan dimuliakan, mereka akan berbelas kasihan padanya dengan pikiran baik, berpikir: ‘Semoga engkau berumur panjang!’ Ketika para dewata yang diberikan pengorbanan berbelas kasihan padanya, maka hanya kemajuan yang dapat diharapkan, bukan kemunduran.

(5) “Kemudian, Mahānāma, dengan kekayaan yang diperoleh melalui usaha bersemangat, dikumpulkan dengan kekuatan lengannya, dicari dengan keringat di dahinya, kekayaan yang baik yang diperoleh dengan baik, seorang anggota keluarga menghormati, menjunjung, menghargai, dan memuliakan para petapa dan brahmana. Karena dihormati, dijunjung, dihargai, dan dimuliakan, mereka akan berbelas kasihan padanya dengan pikiran baik, berpikir: ‘Semoga engkau berumur panjang!’ Ketika para petapa dan brahmana berbelas kasihan [78] padanya, maka hanya kemajuan yang dapat diharapkan, bukan kemunduran.

“Mahānāma, dalam anggota keluarga mana pun juga terdapat kelima kualitas ini – apakah ia adalah seorang raja khattiya yang sah, seorang laki-laki terhormat, jenderal dari suatu bala tentara, kepala desa, kepala kelompok pekerja, atau salah satu di antara mereka yang memimpin berbagai suku – hanya kemajuan yang dapat diharapkan, bukan kemunduran.”

Ia selalu melakukan tugasnya terhadap orangtuanya; ia memajukan kesejahteraan istri dan anak-anaknya.

Ia mengurus orang-orang di rumahnya dan mereka yang hidup dengan bergantung padanya.

Orang bijaksana, murah hati dan bermoral, bertindak demi kebaikan kedua jenis sanak saudara, mereka yang telah meninggal dunia dan mereka yang masih hidup di dunia ini.

[Ia memberi keuntungan] kepada para petapa dan brahmana, dan [juga] para dewata; ia adalah seorang yang memberikan kegembiraan selagi menjalani kehidupan yang baik di rumah.

Setelah melakukan apa yang baik, ia layak dimuliakan dan dipuji.

Mereka memujinya di sini di dunia ini dan setelah kematian ia bergembira di surga.


Catatan Kaki
  1. Mp mengemas pacchāliyaṃ khipanti sebagai: “Mereka muncul di belakang dan menendang punggung mereka dengan kaki” (pacchato gantvā piṭṭhiṁ pādena paharanti). ↩︎

  2. Bersama dengan Ce dan Ee membaca: khettakammantasāmantasaṃvohāre. Mp (Ce): “Pemilik lahan tetangga yang berbatasan dengan lahannya sendiri, dan mereka yang berbisnis dengannya, yang mengukur lahan dengan galah pengukur” (ye attano khettakammantānaṃ sāmantā anantarakkhettasāmino, te ca rajjudaṇḍehi bhūmippamāṇaggāhake saṃvohāre ca). Saya tidak melihat bahwa saṃvohāra, yang biasanya berarti “transaksi, bisnis,” memiliki hubungan eksplisit dengan pengukuran lahan. ↩︎

  3. Balipaṭiggāhikā devatā. Mp: “Para dewata pelindung yang telah disembah melalui tradisi keluarga.” ↩︎