easter-japanese

Seorang bhikkhu mendatangi penahbisnya dan berkata kepadanya: “Bhante, tubuhku sekarang rasanya seolah-olah terbius, aku menjadi kebingungan, dan ajaran-ajaran tidak lagi menjadi jelas bagiku. Ketumpulan dan kantuk menguasai pikiranku. Aku menjalani kehidupan spiritual dengan tidak puas dan memiliki keragu-raguan sehubungan dengan ajaran-ajaran.”1

Kemudian sang penahbis membawa muridnya menghadap Sang Bhagavā. Ia bersujud kepada Sang Bhagavā, duduk di satu sisi, dan memberitahu Sang Bhagavā tentang apa yang dikatakan oleh muridnya. [70] [Sang Bhagavā berkata:]

“Demikianlah, bhikkhu! (1) Ketika seseorang tidak terjaga dalam pintu-pintu indria, (2) makan berlebihan, (3) dan tidak menekuni keawasan; (4) ketika ia tidak memiliki pandangan terang ke dalam kualitas-kualitas bermanfaat (5) dan tidak berdiam dalam usaha untuk mengembangkan bantuan-bantuan menuju pencerahan pada tahap awal dan akhir malam hari, maka tubuhnya terasa seolah-olah terbius, ia menjadi kebingungan, dan ajaran-ajaran tidak lagi menjadi jelas baginya. Ketumpulan dan kantuk menguasai pikirannya. Ia menjalani kehidupan spiritual dengan tidak puas dan memiliki keragu-raguan sehubungan dengan ajaran-ajaran.

“Oleh karena itu, bhikkhu, engkau harus berlatih sebagai berikut: (1) ‘Aku akan terjaga dalam pintu-pintu organ indria, (2) makan secukupnya, (3) dan menekuni keawasan; (4) aku akan memiliki pandangan terang ke dalam kualitas-kualitas bermanfaat (5) dan akan berdiam dalam usaha untuk mengembangkan bantuan-bantuan menuju pencerahan pada tahap awal dan akhir malam hari.’ Adalah dengan cara ini, bhikkhu, engkau harus berlatih.”

Kemudian, setelah menerima nasihat demikian dari Sang Bhagavā, bhikkhu itu bangkit dari duduknya, bersujud kepada Sang Bhagavā, mengelilingi Beliau dengan sisi kanannya menghadap Beliau, dan pergi. Kemudian, dengan berdiam sendirian, terasing, waspada, tekun, dan bersungguh-sungguh, dalam waktu tidak lama bhikkhu itu merealisasikan untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung, dalam kehidupan ini, kesempurnaan kehidupan spiritual yang tidak terlampaui yang karenanya anggota-anggota keluarga dengan benar meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah, dan setelah memasukinya, ia berdiam di dalamnya. Ia secara langsung mengetahui: “Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan spiritual telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak akan kembali lagi pada kondisi makhluk apa pun.” Dan bhikkhu itu menjadi salah satu di antara para Arahant.

Kemudian, setelah mencapai Kearahattaan, bhikkhu itu mendatangi penahbisnya dan berkata: “Bhante, tubuhku sekarang tidak lagi terasa seolah-olah terbius, aku tidak menjadi kebingungan, dan ajaran-ajaran menjadi jelas bagiku. Ketumpulan dan kantuk tidak menguasai pikiranku. Aku menjalani kehidupan spiritual dengan gembira dan tidak memiliki keragu-raguan sehubungan dengan ajaran-ajaran.”

Kemudian sang penahbis membawa muridnya menghadap Sang Bhagavā. [71] Ia bersujud kepada Sang Bhagavā, duduk di satu sisi, dan memberitahu Sang Bhagavā tentang apa yang dikatakan oleh muridnya. [Sang Bhagavā berkata:]

“Demikianlah, bhikkhu! Ketika seseorang terjaga dalam pintu-pintu indria, makan secukupnya, dan menekuni keawasan; ketika ia memiliki pandangan terang ke dalam kualitas-kualitas bermanfaat dan berdiam dalam usaha untuk mengembangkan bantuan-bantuan menuju pencerahan pada tahap awal dan akhir malam hari, maka tubuhnya tidak terasa seolah-olah terbius, ia tidak menjadi kebingungan, dan ajaran-ajaran menjadi jelas baginya. Ketumpulan dan kantuk tidak mengusai pikirannya. Ia menjalani kehidupan spiritual dengan gembira dan tidak memiliki keragu-raguan sehubungan dengan ajaran-ajaran.

“Oleh karena itu, para bhikkhu,2 kalian harus berlatih sebagai berikut: (1) ‘Kami akan terjaga dalam pintu-pintu indria, (2) makan secukupnya, dan (3) menekuni keawasan; (4) kami akan memiliki pandangan terang ke dalam kualitas-kualitas bermanfaat (5) dan akan berdiam dalam usaha untuk mengembangkan bantuan-bantuan menuju pencerahan pada tahap awal dan akhir malam hari.’ Adalah dengan cara ini, para bhikkhu, kalian harus berlatih.”


Catatan Kaki
  1. Ungkapan “aku menjalani kehidupan spiritual dengan tidak puas” (anabhirato ca brahmacariyaṃ carāmi) menyiratkan bahwa ia ingin lepas jubah dan kembali kepada kehidupan awam. ↩︎

  2. Di sini teks berubah menjadi bentuk jamak bhikkhave. Sang Buddha sekarang berkata kepada para bhikkhu secara keseluruhan. ↩︎