easter-japanese

“Para bhikkhu, ada lima kesempatan yang tidak menguntungkan ini untuk berusaha. Apakah lima ini? [66]

(1) “Di sini, seorang bhikkhu sudah tua, dikuasai oleh usia tua. Ini adalah kesempatan pertama yang tidak menguntungkan untuk berusaha.

(2) “Kemudian, seorang bhikkhu sakit, dikuasai oleh penyakit. Ini adalah kesempatan ke dua yang tidak menguntungkan untuk berusaha.

(3) “Kemudian, terjadi bencana kelaparan, panen yang gagal, suatu masa ketika dana makanan sulit diperoleh dan tidak mudah untuk bertahan dengan mengumpulkan sedikit demi sedikit.1 Ini adalah kesempatan ke tiga yang tidak menguntungkan untuk berusaha.

(4) “Kemudian, terjadi marabahaya, badai berbahaya di dalam hutan belantara, dan orang-orang di pedalaman, menaiki kendaraan mereka, dan pergi ke berbagai arah. Ini adalah kesempatan ke empat yang tidak menguntungkan untuk berusaha.

(5) “Kemudian, terjadi perpecahan dalam Saṅgha, dan ketika terjadi perpecahan dalam Saṅgha maka ada saling menghina, saling mencaci, saling mencela, dan saling menolak.2 Maka mereka yang tanpa keyakinan tidak memperoleh keyakinan, sedangkan beberapa yang berkeyakinan berubah pikiran. Ini adalah kesempatan ke lima yang tidak menguntungkan untuk berusaha.

“Ini adalah kelima kesempatan yang tidak menguntungkan untuk berusaha itu.

“Ada, para bhikkhu, lima kesempatan yang menguntungkan untuk berusaha. Apakah lima ini?

(1) “Di sini, seorang bhikkhu masih muda, seorang pemuda berambut hitam yang memiliki berkah kemudaan, dalam masa utama kehidupan. Ini adalah kesempatan pertama yang menguntungkan untuk berusaha.

(2) “Kemudian, seorang bhikkhu jarang sakit atau menderita, memiliki pencernaan yang baik yang tidak terlalu dingin juga tidak terlalu panas melainkan sedang dan sesuai untuk berusaha. Ini adalah kesempatan ke dua yang menguntungkan untuk berusaha.

(3) “Kemudian, makanan yang banyak; ada panen yang baik [67] dan dana makanan berlimpah, sehingga seseorang dapat dengan mudah bertahan dengan mengumpulkan sedikit demi sedikit. Ini adalah kesempatan ke tiga yang menguntungkan untuk berusaha.

(4) “Kemudian, orang-orang berdiam dalam kerukunan, dengan harmonis, tanpa perselisihan, bercampur seperti susu dan air, saling melihat satu sama lain dengan tatapan kasih sayang. Ini adalah kesempatan ke empat yang menguntungkan untuk berusaha.

(5) “Kemudian, Saṅgha berdiam dengan nyaman – dalam kerukunan, dengan harmonis, tanpa perselisihan, dengan pelafalan tunggal. Ketika Saṅgha berdiam dalam kerukunan, maka tidak ada saling menghina, tidak ada saling mencaci, tidak ada saling mencela, dan tidak ada saling menolak. Maka mereka yang tanpa keyakinan memperoleh keyakinan dan mereka yang berkeyakinan meningkat [keyakinannya].3 Ini adalah kesempatan ke lima yang menguntungkan untuk berusaha.

“Ini adalah kelima kesempatan itu yang menguntungkan untuk berusaha.”


Catatan Kaki
  1. Na sukaraṃ uñchena paggahena yāpetun. Saya menganggap uñchena paggahena menyiratkan satu tindakan, bukan dua tindakan. Tidak ada ca atau yang menyiratkan bahwa yang dimaksudkan adalah dua tindakan. Kemasan dalam Mp juga menyiratkan bahwa ungkapan ini merujuk pada satu tindakan: “Adalah tidak mungkin untuk membawa mangkuk seseorang dan bertahan dengan praktik mengumpulkan sedikit demi sedikit” (na sakkā hoti pattaṃ gahetvā uñhācariyāya yāpetuṃ). Baca juga kemasan pada Sp I 175,22-23: paggahena yo uñcho, tena yāpetuṃ na sukarā. ↩︎

  2. Aññamaññaṃ akkosā ca honti, aññamaññaṃ paribhāsā ca honti, aññamaññaṃ parikhepā ca honti, aññamaññaṃ pariccajā ca honti. Sebuah paragraf serupa dalam It §§18-19,10-11, menuliskan aññamaññaṃ bhaṇḍanāni ceva honti bukannya aññamaññaṃ akkosā ca honti tetapi sebaliknya serupa. Saya menerjemahkan parikkhepā dan pariccajanā sesuai dengan It-a I 69,25-27, yang menjelaskan parikkhepā sebagai “penghinaan dan peremehan melalui sepuluh jenis hinaan, menyerang segala penjuru dalam hal kelahiran dan sebagainya” (jati-ādivasena parito khepā, dasahi akkosavatthūhi khuṃsanavambhanā), dan pariccajanā sebagai “pembubaran melalui tindakan disiplin penskorsan dan sebagainya” (ukkhepaniyakammakaraṇādivasena nissāraṇā). ↩︎

  3. Muncul pertanyaan apakah ungkapan pasannānañca bhiyyobhāvo hoti berarti bahwa jumlah dari mereka yang berkeyakinan bertambah, atau, bahwa mereka yang berkeyakinan bertambah keyakinannya. Sp I 225,18-24, mendukung yang terakhir: “Umat-umat awam yang berkeyakinan pada ajaran, melihat para bhikkhu mengikuti aturan-aturan latihan yang mengokohkan mereka, menjadi lebih berkeyakinan lagi, dengan mengatakan: ‘Para bhikkhu memang melakukan apa yang sulit dilakukan; karena seumur hidup mereka makan sekali dalam sehari, mempertahankan kehidupan selibat, dan menjalankan pengendalian Vinaya’” (yepi sāsane pasannā kulaputtā tepi sikkhāpadapaññattiṃ ñatvā yathāpaññattaṃ paṭipajjamāne bhikkhū vā disvā “aho ayyā dukkarakārino, ye yāvajīvaṃ ekabhattaṃ brahmacariyaṃ vinayasaṃvaraṃ anupālentī” ti bhiyyo bhiyyo pasīdanti). ↩︎