easter-japanese

Demikianlah yang kudengar. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Di sana Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Para bhikkhu!”

“Yang Mulia!” para bhikkhu itu menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

“Para bhikkhu, ada lima halangan, rintangan, beban pikiran, kondisi-kondisi yang melemahkan kebijaksanaan. Apakah lima ini? (1) Keinginan indria adalah sebuah halangan, sebuah rintangan, sebuah beban pikiran, sebuah kondisi yang melemahkan kebijaksanaan. (2) Niat buruk … (3) Ketumpulan dan kantuk … (4) Kegelisahan dan penyesalan … (5) Keragu-raguan adalah sebuah halangan, sebuah rintangan, sebuah beban pikiran, sebuah kondisi yang melemahkan kebijaksanaan. Ini adalah kelima halangan, rintangan, beban pikiran, kondisi-kondisi yang melemahkan kebijaksanaan itu.

“Para bhikkhu, tanpa meninggalkan kelima halangan, rintangan, beban pikiran, kondisi-kondisi yang melemahkan kebijaksanaan ini, adalah tidak mungkin seorang bhikkhu, dengan kebijaksanaannya yang lemah dan tanpa kekuatan, dapat mengetahui kebaikannya sendiri, kebaikan orang lain, [64] atau kebaikan keduanya, atau merealisasikan keluhuran melampaui manusia dalam pengetahuan dan penglihatan selayaknya para mulia. Misalkan sebuah sungai mengalir turun dari sebuah gunung, berjalan menempuh jarak yang jauh, dengan arus yang kencang, membawa serta segala reruntuhan. Kemudian, di kedua tepinya, seseorang membuka saluran irigasi.1 Dalam kasus demikian, arus di tengah sungai akan terpecah, menyebar, dan terbagi, sehingga sungai itu tidak lagi menempuh jarak yang jauh, tidak dengan arus yang kencang, dan tidak membawa serta segala reruntuhan. Demikian pula, tanpa meninggalkan kelima halangan … adalah tidak mungkin seorang bhikkhu … dapat merealisasikan keluhuran melampaui manusia dalam pengetahuan dan penglihatan selayaknya para mulia.

“Tetapi, para bhikkhu, setelah meninggalkan kelima halangan, rintangan, beban pikiran, kondisi-kondisi yang melemahkan kebijaksanaan ini, adalah mungkin seorang bhikkhu, dengan kebijaksanaannya yang kuat, dapat mengetahui kebaikannya sendiri, kebaikan orang lain, dan kebaikan keduanya, dan merealisasikan keluhuran melampaui manusia dalam pengetahuan dan penglihatan selayaknya para mulia. Misalkan sebuah sungai mengalir turun dari sebuah gunung, mengalir menempuh jarak yang jauh, dengan arus yang kencang, membawa serta segala reruntuhan. Kemudian, seseorang menutup saluran irigasi di kedua tepinya. Dalam kasus demikian, arus di tengah sungai tidak akan terpecah, menyebar, dan terbagi, sehingga sungai itu dapat menempuh jarak yang jauh, dengan arus yang kencang, dan membawa serta segala reruntuhan. Demikian pula, setelah meninggalkan kelima halangan … adalah mungkin seorang bhikkhu … dapat merealisasikan keluhuran melampaui manusia dalam pengetahuan dan penglihatan selayaknya para mulia. [65]


Catatan Kaki
  1. Naṅgalamukhāni. Lit. “mulut-mulut bajak.” Mp mengemas sebagai “mulut-mulut kanal” (mātikāmukhāni), dan menjelaskan: “Karena ini serupa dengan bajak dan terpotong oleh bajak, maka disebut ‘mulut-mulut bajak.’” ↩︎