easter-japanese

“Para bhikkhu, lima manfaat ini mendatangi seorang anggota keluarga yang memiliki keyakinan. Apakah lima ini? (1) Ketika orang-orang baik di dunia menunjukkan belas kasihan,1 mereka pertama-tama menunjukkan belas kasihan pada orang yang berkeyakinan, bukan pada orang yang tanpa keyakinan. (2) Ketika mereka mendatangi siapa pun, mereka pertama-tama mendatangi orang yang berkeyakinan, bukan mendatangi orang yang tanpa keyakinan. (3) Ketika mereka menerima dana makanan, mereka pertama-tama menerima dana makanan dari orang yang berkeyakinan, bukan dari orang yang tanpa keyakinan. (4) Ketika mereka mengajarkan Dhamma, mereka pertama-tama mengajarkan Dhamma kepada orang yang berkeyakinan, bukan kepada orang yang tanpa keyakinan. (5) Dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, seorang yang berkeyakinan terlahir kembali di alam tujuan yang baik, di alam surga. Ini adalah kelima manfaat yang mendatangi seorang anggota keluarga yang memiliki keyakinan.

“Seperti halnya di sebuah persimpangan di tanah yang datar, sebatang pohon banyan besar didatangi oleh burung-burung dari segala penjuru, demikian pula [43] seorang anggota keluarga yang memiliki keyakinan didatangi oleh banyak orang: para bhikkhu, bhikkhunī, umat awam laki-laki, dan umat awam perempuan.”

Sebatang pohon besar dengan batang yang kuat, dahan, dedaunan, dan buah yang banyak, dengan akar yang kokoh, dan berbuah, adalah penyokong bagi banyak burung.

Setelah terbang melintasi angkasa, burung-burung mendatangi pangkalan yang menyenangkan ini: mereka yang membutuhkan keteduhan mengambil bagian dalam keteduhannya; mereka yang membutuhkan buah memakan buahnya.

Demikian pula, ketika seseorang bermoral, memiliki keyakinan, rendah hati, mengalah, lemah-lembut, ramah, halus, mereka di dunia ini yang merupakan lahan jasa – yang hampa dari nafsu dan kebencian, hampa dari delusi, dan tanpa noda – mendatangi orang demikian.

Mereka mengajarkan Dhamma kepadanya yang menghalau segala penderitaan, yang setelah memahaminya seorang yang tanpa noda di sini mencapai nibbāna.


Catatan Kaki
  1. Mereka “menunjukkan belas kasihan” (anukampeyyuṃ) kepada mereka dengan memberikan kepada mereka suatu kesempatan untuk memberi dana makanan dan dengan itu memperoleh jasa. Dengan demikian bukan berarti umat-umat awam yang menunjukkan belas kasihan kepada kaum monastik dengan memberikan dana makanan kepada mereka (walaupun hal ini juga benar), melainkan kaum monastik yang menunjukkan belas kasihan kepada umat-umat awam dengan mendatangi rumah mereka untuk menerima persembahan mereka. Dengan memberi dana umat-umat awam menciptakan benih untuk kelahiran kembali yang berbahagia dan pencapaian nibbāna. Kaum monastik juga dapat mengajarkan Dhamma kepada umat-umat awam dan dengan cara ini memberikan akses pada ajaran-ajaran kepada mereka. ↩︎