easter-japanese

“Para bhikkhu, (1) pada seorang yang tidak bermoral, pada seorang yang tidak memiliki perilaku bermoral, (2) maka konsentrasi benar tidak memiliki penyebab terdekatnya. Ketika tidak ada konsentrasi benar, pada seorang yang tidak memiliki konsentrasi benar, (3) maka pengetahuan dan penglihatan pada segala sesuatu sebagaimana adanya tidak memiliki penyebab terdekatnya. Ketika tidak ada pengetahuan dan penglihatan pada segala sesuatu sebagaimana adanya, pada seseorang yang tidak memiliki pengetahuan dan penglihatan pada segala sesuatu sebagaimana adanya, (4) maka kekecewaan dan kebosanan tidak memiliki penyebab terdekatnya. Ketika tidak ada kekecewaan dan kebosanan, pada seseorang yang tidak memiliki kekecewaan dan kebosanan, (5) maka pengetahuan dan penglihatan pada kebebasan tidak memiliki penyebab terdekatnya.1

“Misalkan ada sebatang pohon yang tidak memiliki dahan-dahan dan dedaunan. Maka tunasnya tidak tumbuh sempurna; kulit kayunya, [20] kayu lunaknya, dan inti kayunya juga tidak tumbuh sempurna. Demikian pula, pada seorang yang tidak bermoral, pada seorang yang tidak memiliki perilaku bermoral, maka konsentrasi benar tidak memiliki penyebab terdekatnya. Jika tidak ada konsentrasi benar … pengetahuan dan penglihatan pada kebebasan tidak memiliki penyebab terdekatnya.

“Para bhikkhu, (1) pada seorang yang bermoral, pada seorang yang perilakunya bermoral, (2) maka konsentrasi benar memiliki penyebab terdekatnya. Ketika ada konsentrasi benar, pada seorang yang memiliki konsentrasi benar, (3) maka pengetahuan dan penglihatan pada segala sesuatu sebagaimana adanya memiliki penyebab terdekatnya. Ketika ada pengetahuan dan penglihatan pada segala sesuatu sebagaimana adanya, pada seseorang yang memiliki pengetahuan dan penglihatan pada segala sesuatu sebagaimana adanya, (4) maka kekecewaan dan kebosanan memiliki penyebab terdekatnya. Ketika ada kekecewaan dan kebosanan, pada seseorang yang memiliki kekecewaan dan kebosanan, (5) maka pengetahuan dan penglihatan pada kebebasan memiliki penyebab terdekatnya.

“Misalkan ada sebatang pohon yang memiliki dahan-dahan dan dedaunan. Maka tunasnya tumbuh sempurna; kulit kayunya, kayu lunaknya, dan inti kayunya juga tumbuh sempurna. Demikian pula, pada seorang yang bermoral, seorang yang perilakunya bermoral, maka konsentrasi memiliki penyebab terdekatnya. Jika ada konsentrasi benar … pengetahuan dan penglihatan pada kebebasan memiliki penyebab terdekatnya.”


Catatan Kaki
  1. Mp mengidentifikasikan “pengetahuan dan penglihatan pada segala sesuatu sebagaimana adanya” (yathābhūtañāṇadassana) sebagai pandangan terang lembut; “kekecewaan” (nibbidā) sebagai pandangan terang kuat; “kebosanan” (virāga) sebagai jalan mulia. Mp memecah vimuttiñāṇadassana menjadi vimutti dan ñāṇadassana, dengan yang pertama mewakili buah (phalavimutti) dan yang terakhir adalah pengetahuan peninjauan (paccavekkhaṇañāṇa). Akan tetapi, saya menerjemahkan menurut makna biasa, dan menganggap vimutti hanya sekedar tersirat di sini. ↩︎