easter-japanese

“Para bhikkhu, ada empat jenis orang ini terdapat di dunia. Apakah empat ini? Petapa yang tak tergoyahkan, petapa teratai merah, petapa teratai putih, dan petapa lembut di antara para petapa.1

(1) “Dan bagaimanakah, para bhikkhu, seseorang menjadi seorang petapa yang tak tergoyahkan? Di sini, seorang bhikkhu adalah seorang yang berlatih mempraktikkan sang jalan yang berdiam dengan beraspirasi pada keamanan tertinggi dari belenggu. Seperti halnya [87] putra sulung dari seorang raja khattiya yang sah – seorang yang pasti dinobatkan tetapi masih belum dinobatkan – telah mencapai kondisi tak tergoyahkan,2 demikian pula seorang bhikkhu adalah seorang yang berlatih mempraktikkan sang jalan yang berdiam dengan beraspirasi pada keamanan tertinggi dari belenggu.3 Dengan cara inilah seseorang itu menjadi seorang petapa yang tak tergoyahkan.

(2) “Dan bagaimanakah seseorang menjadi petapa teratai putih? Di sini, dengan hancurnya noda-noda, seorang bhikkhu telah merealisasikan untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung, dalam kehidupan ini, kebebasan pikiran yang tanpa noda, kebebasan melalui kebijaksanaan, dan setelah memasukinya, ia berdiam di dalamnya; namun ia belum berdiam setelah menyentuh delapan pembebasan dengan tubuhnya. Dengan cara inilah seseorang itu menjadi seorang petapa teratai putih.4

(3) “Dan bagaimanakah seseorang menjadi petapa teratai merah? Di sini, dengan hancurnya noda-noda, seorang bhikkhu telah merealisasikan untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung, dalam kehidupan ini, kebebasan pikiran yang tanpa noda, kebebasan melalui kebijaksanaan, dan setelah memasukinya, ia berdiam di dalamnya; dan ia berdiam setelah menyentuh delapan pembebasan dengan tubuhnya. Dengan cara inilah seseorang itu menjadi seorang petapa teratai merah.5

(4) “Dan bagaimanakah seseorang menjadi seorang petapa lembut di antara para petapa? Di sini, seorang bhikkhu biasanya mengenakan jubah yang telah secara khusus dipersembahkan kepadanya, jarang mengenakan jubah yang tidak secara khusus dipersembahkan kepadanya;6 ia biasanya memakan makanan yang telah secara khusus dipersembahkan kepadanya, jarang memakan makanan yang tidak secara khusus dipersembahkan kepadanya; ia biasanya menempati tempat tinggal yang telah secara khusus dipersembahkan kepadanya, jarang menempati tempat tinggal yang tidak secara khusus dipersembahkan kepadanya; ia biasanya menggunakan obat-obatan dan perlengkapan bagi yang sakit yang telah secara khusus dipersembahkan kepadanya, jarang menggunakan obat-obatan dan perlengkapan bagi yang sakit yang tidak secara khusus dipersembahkan kepadanya. Teman-temannya para bhikkhu, yang dengan mereka ia menetap, biasanya memperlakukannya dengan cara-cara yang menyenangkan melalui jasmani, ucapan, dan pikiran, jarang dengan cara-cara yang tidak menyenangkan. Mereka biasanya memberikan kepadanya apa yang menyenangkan, jarang memberikan apa yang tidak menyenangkan. Ketidak-nyamanan yang berasal dari empedu, dahak, angin, atau kombinasinya;7 ketidak-nyamanan yang dihasilkan dari perubahan cuaca; ketidak-nyamanan yang dihasilkan dari perilaku yang tidak hati-hati; ketidak-nyamanan yang dihasilkan dari serangan; atau ketidak-nyamanan yang dihasilkan dari akibat kamma – hal-hal ini tidak muncul padanya.8 Ia jarang sakit. Sesuai kehendaknya, tanpa kesulitan atau kesusahan, ia mencapai empat jhāna yang merupakan pikiran yang lebih tinggi dan keberdiaman yang nyaman dalam kehidupan ini. Dengan hancurnya noda-noda, ia telah merealisasikan untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung, dalam kehidupan ini, kebebasan pikiran yang tanpa noda, [88] kebebasan melalui kebijaksanaan, dan setelah memasukinya, ia berdiam di dalamnya. Dengan cara inilah seseorang itu menjadi seorang petapa lembut di antara para petapa.

“Jika, para bhikkhu, seseorang mengatakan dengan benar tentang orang lain: ‘Ia adalah seorang petapa lembut di antara para petapa,’ adalah tentang Aku maka ia mengatakan hal ini. Karena Aku biasanya mengenakan jubah yang telah secara khusus dipersembahkan kepadaKu, jarang mengenakan jubah yang tidak secara khusus dipersembahkan kepadaKu; Aku biasanya memakan makanan yang telah secara khusus dipersembahkan kepadaKu, jarang memakan makanan yang tidak secara khusus dipersembahkan kepadaKu; Aku biasanya menempati tempat tinggal yang telah secara khusus dipersembahkan kepadaKu, jarang menempati tempat tinggal yang tidak secara khusus dipersembahkan kepadaKu; Aku biasanya menggunakan obat-obatan dan perlengkapan bagi yang sakit yang telah secara khusus dipersembahkan kepadaKu, jarang menggunakan obat-obatan dan perlengkapan bagi yang sakit yang tidak secara khusus dipersembahkan kepadaKu. Para bhikkhu itu, yang dengan mereka Aku menetap, biasanya memperlakukanKu dengan cara-cara yang menyenangkan melalui jasmani, ucapan, dan pikiran, jarang dengan cara-cara yang tidak menyenangkan. Mereka biasanya memberikan kepadaKu apa yang menyenangkan, jarang memberikan apa yang tidak menyenangkan. Ketidak-nyamanan yang berasal dari empedu, dahak, angin, atau kombinasinya; ketidak-nyamanan yang dihasilkan dari perubahan cuaca; ketidak-nyamanan yang dihasilkan dari perilaku yang tidak hati-hati; ketidak-nyamanan yang dihasilkan dari serangan; atau ketidak-nyamanan yang dihasilkan dari akibat kamma – hal-hal ini tidak muncul padaKu. Aku jarang sakit. Sesuai kehendakKu, tanpa kesulitan atau kesusahan, Aku mencapai empat jhāna yang merupakan pikiran yang lebih tinggi dan keberdiaman yang nyaman dalam kehidupan ini. Dengan hancurnya noda-noda, Aku telah merealisasikan untuk diriKu sendiri dengan pengetahuan langsung, dalam kehidupan ini, kebebasan pikiran yang tanpa noda, kebebasan melalui kebijaksanaan, dan setelah memasukinya, Aku berdiam di dalamnya. Jika seseorang mengatakan dengan benar tentang orang lain: ‘Ia adalah seorang petapa lembut di antara para petapa,’ adalah tentang Aku maka ia mengatakan hal ini.

“Ini, para bhikkhu, adalah keempat jenis orang itu yang terdapat di dunia.”


Catatan Kaki
  1. Mp memecah samaṇamacalo menjadi samaṇa-acalo, dengan –m- menjadi konsonan penghubung. Mp mengidentifikasikan sosok ini sebagai tujuh jenis individu yang masih berlatih (sattavidhampi sekhaṃ dasseti). Tentang kedua jenis petapa berikutnya, Mp mengatakan: “Petapa teratai-putih (samaṇapuṇḍarīka) adalah seorang petapa yang menyerupai teratai putih (puṇḍarīka), yang memiliki kurang dari seratus kelopak. Dengan ini Beliau menunjukkan Arahant dengan pandangan terang kering (sukkhavipassakakhīṇāsavaṃ dasseti), disebut petapa teratai-putih, karena kualitas-kualitasnya tidak lengkap, yaitu ia tidak memiliki jhāna-jhāna dan pengetahuan-pengetahuan langsung. Petapa teratai-merah (samaṇapaduma) adalah petapa yang menyerupai teratai merah (paduma), yang memiliki lengkap seratus kelopak. Dengan ini Beliau menunjukkan Arahant yang terbebaskan dalam kedua cara (ubhatobhāgavimuttaṃ khīṇāsavaṃ dasseti), disebut petapa teratai merah karena kualitas-kualitasnya lengkap, yaitu ia memiliki jhāna-jhāna dan pengetahuan-pengetahuan langsung.” Tentang warna-warna kedua jenis bunga teratai ini, puṇḍarīka dan paduma, baca Jilid 1 p. 526, catatan 389. “petapa lembut di antara para petapa” (samaṇesu samaṇasukhumālo) adalah “seorang dengan pikiran dan jasmani yang lunak, yang mengalami kenikmatan yang luar biasa, bebas dari kesakitan jasmani dan pikiran” (muducittasarīro kāyikacetasikadukkharahito ekantasukhī). ↩︎

  2. Mp: “Macalappatto ti rañño khattiyassa muddhāvasittassa puttabhāvena ceva puttesu jeṭṭhakabhāvena ca na tāva abhisittabhāvena ca abhisekappatti-atthāya acalappatto niccalapatto.” Intinya adalah bahwa putra sulung dikatakan telah “mencapai kondisi yang tak tergoyahkan” karena ia pasti menjadi raja yang sah. Baca juga Jilid 1 p.518, catatan 345. ↩︎

  3. Anuttaraṃ yogakkhemaṃ patthayamāno viharati. Mp: “Ia berdiam dengan bercita-cita untuk mencapai Kearahattaan.” ↩︎

  4. Berlawanan dengan Mp, definisi petapa teratai-putih di sini bermakna ganda; karena ungkapan: “ia belum berdiam setelah menyentuh delapan pembebasan dengan tubuhnya” (no ca kho aṭṭha vimokkhe kāyena phusitvā viharati) dapat bermakna: (1) bahwa ia tidak mencapai satu pun dari delapan pembebasan, yang dapat membuatnya menjadi seorang Arahant dengan pandangan terang kering (seperti yang dinyatakan oleh Mp); atau (2) bahwa ia mencapai beberapa dari delapan pembebasan tetapi tidak seluruhnya, mungkin tiga kebebasan yang berdasarkan pada bentuk tetapi bukan pencapaian-pencapaian tanpa bentuk dan pencapaian lenyapnya. Dalam kasus demikian, sang meditator harus selaras dengan definisi Arahant yang terbebaskan melalui kebijaksanaan (paññāvimutta) yang dikatakan bahwa ia telah melenyapkan noda-noda tetapi tidak mencapai pencapaian-pencapaian tanpa bentuk yang damai (MN 70.16, I 477,33-478,1). Para komentator berpendapat bahwa Arahant paññāvimutta hanya dapat memiliki beberapa tingkat jhāna atau tanpa jhāna sama sekali; hanya yang belakangan yang disebut Arahant dengan pandangan terang kering. Arahant dengan pandangan terang kering (sukkhavipassakakhīṇāsava) tidak secara eksplisit disebutkan demikian dalam Nikāya-nikāya melainkan pertama kali diperkenalkan dalam komentar-komentar. Bagaimana pun juga, perbedaan definisi antara Arahant yang terbebaskan melalui kebijaksanaan dan Arahant teratai-putih menyiratkan bahwa pada titik tertentu suatu pergeseran telah terjadi dalam skala pencapaian-pencapaian meditatif yang diharapkan dari seorang Arahant. Sementara Arahant yang terbebaskan melalui kebijaksanaan hanya tidak memiliki pencapaian-pencapaian tanpa bentuk, Arahant teratai-putih, pada interpretasi yang diberikan oleh para komentator, juga tidak memiliki jhāna-jhāna.

    Delapan pembebasan (aṭṭha vimokkhā), yang didefinisikan pada 8:66, tidak persis identik dengan empat jhāna dan empat pencapaian tanpa bentuk. Tampaknya ketiga kebebasan pertama bersesuaian dengan empat jhāna tetapi berbeda dalam hal objek dan faktor-faktor pikiran. ↩︎

  5. Sekali lagi, terdapat makna ganda dalam definisi petapa teratai-merah. Untuk memenuhi syarat demikian, apakah seseorang harus memiliki seluruh delapan pembebasan atau cukup dengan memiliki beberapa? Menurut penjelasan komentar, yang membandingkan petapa teratai-merah dengan teratai dengan seratus kelopak lengkap, tampaknya bahwa seseorang harus memiliki seluruh delapan pembebasan. Tetapi definisi komentar atas Arahant ubhatobhāgavimutta memperbolehkan seseorang yang memiliki salah satu pencapaian tanpa bentuk dapat dianggap sebagai “seorang yang terbebaskan dalam kedua cara.” Ini, juga, mungkin merepresentasikan penurunan kriteria yang lebih ketat yang membatasi sebutan pada seorang Arahant yang memiliki seluruh delapan pembebasan. ↩︎

  6. Secara lebih literal, “jubah yang ia gunakan biasanya adalah jubah yang diminta agar diterima, jarang menggunakan jubah yang tidak diminta agar diterima.” Dan seterusnya untuk ketiga barang kebutuhan lainnya. ↩︎

  7. Dalam mengomentari sannipātikāni, Mp-ṭ mengatakan “dihasilkan oleh kombinasi ketiga –empedu dan seterusnya – yang tidak seimbang” (pittādīnaṃ tiṇṇampi visamānaṃ sannipātena jātāni). Spk III 81,22-23, mengomentari kata yang sama pada SN IV 230,29 mengatakan “berasal dari gangguan ketiga, empedu dan seterusnya” (tiṇṇampi pittādīnaṃ kopena samuṭṭhitāni). ↩︎

  8. Delapan penyebab perasaan juga terdapat pada SN 36:21, IV 230-31. ↩︎