easter-japanese

Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di tengah-tengah penduduk Bhagga, di Suṃsumāragira, di Taman Rusa di Hutan Bhesakalā. Kemudian, pada pagi harinya, Sang Bhagavā merapikan jubah, membawa mangkuk dan jubahNya, dan pergi ke kediaman perumah-tangga Nakulapitā, di mana Beliau duduk di tempat yang telah dipersiapkan. Kemudian perumah-tangga Nakulapitā dan istrinya, Nakulamātā mendekati Sang Bhagavā, bersujud kepada Beliau, dan duduk di satu sisi.1 Perumah-tangga Nakulapitā berkata kepada Sang Bhagavā:

“Bhante, sejak aku masih muda, ketika gadis muda Nakulamātā diserahkan kepadaku dalam pernikahan, aku tidak ingat pernah memperlakukannya dengan buruk bahkan dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan. Kami berharap, Bhante, agar dapat saling bertemu satu sama lain bukan hanya dalam kehidupan ini tetapi juga dalam kehidupan mendatang.”

Kemudian sang istri Nakulamātā berkata kepada Sang Bhagavā sebagai berikut: “Bhante, sejak aku masih muda yang diserahkan kepada perumah tangga muda Nakulapitā dalam pernikahan, aku tidak ingat pernah memperlakukannya dengan buruk bahkan dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan. Kami berharap, Bhante, agar dapat saling bertemu satu sama lain bukan hanya dalam kehidupan ini tetapi juga dalam kehidupan mendatang.” [62]

“Perumah-tangga, jika baik istri maupun suami ingin dapat saling bertemu satu sama lain bukan hanya dalam kehidupan ini tetapi juga dalam kehidupan mendatang, maka mereka harus memiliki keyakinan yang sama, perilaku bermoral yang sama, kedermawanan yang sama, dan kebijaksanaan yang sama. Maka mereka akan dapat senantiasa saling bertemu satu sama lain bukan hanya dalam kehidupan ini tetapi juga dalam kehidupan mendatang.”

Baik suami maupun istri memiliki keyakinan, murah hati dan terkendali oleh diri sendiri, menjalani kehidupan mereka dengan kebaikan, saling menyapa satu sama lain dengan kata-kata menyenangkan,

Banyak keuntungan mendatangi mereka, dan mereka berdiam dengan nyaman. Musuh-musuh mereka akan kecewa ketika keduanya setara dalam moralitas.

Setelah mempraktikkan Dhamma di sini, dalam perilaku bermoral dan pelaksanaan yang sama, bergembira [setelah kematian] di alam deva, mereka bersukacita, menikmati kenikmatan-kenikmatan indria.


Catatan Kaki
  1. Tentang Nakulapitā dan Nakulamātā, baca 1:257, 1:266, 6:16. ↩︎