easter-japanese

Yang Mulia Māluṅkyaputta mendatangi Sang Bhagavā, bersujud kepada Beliau, duduk di satu sisi, dan berkata:1

“Bhante, baik sekali jika Sang Bhagavā sudi mengajarkan Dhamma kepadaku secara ringkas, sehingga, setelah mendengar Dhamma dari Sang Bhagavā, aku dapat berdiam sendirian, terasing, penuh kewaspadaan, tekun, dan bersungguh-sungguh.”

“Sekarang, Māluṅkyāputta, apakah yang harus kami katakan kepada para bhikkhu muda jika seorang tua sepertimu, jompo dan lanjut usia, meminta nasihat ringkas dari Sang Tathāgata?”

“Bhante, sudilah Sang Bhagavā mengajarkan Dhamma kepadaku secara ringkas! Sudilah Yang Sempurna Menempuh Sang Jalan mengajarkan Dhamma kepadaku secara ringkas! Mungkin aku dapat memahami makna dari pernyataan Sang Bhagavā; mungkin aku dapat menjadi pewaris dari pernyataan Sang Bhagavā.”

“Ada, Mālunkyāputta, empat sumber ketagihan ini bagi seorang bhikkhu. Apakah empat ini? Ketagihan yang muncul dalam diri seorang bhikkhu karena jubah, makanan, tempat tinggal, atau demi kehidupan di sini atau di tempat lain.2 Ini adalah keempat sumber ketagihan itu bagi seorang bhikkhu. [249] Ketika, Māluṅkyāputta, seorang bhikkhu telah meninggalkan ketagihan, memotongnya di akar, membuatnya seperti tunggul pohon palem, melenyapkannya sehingga tidak muncul lagi di masa depan, maka ia disebut seorang bhikkhu yang telah memotong ketagihan, telah melepaskan belenggu, dan telah sepenuhnya menerobos keangkuhan, telah mengakhiri penderitaan.”

Kemudian Yang Mulia Māluṅkyāputta, setelah dinasihati dengan cara ini oleh Sang Bhagavā, bangkit dari duduknya, bersujud kepada Sang Bhagavā, mengelilingi Beliau dengan sisi kanannya menghadap Beliau, dan pergi.

Kemudian, dengan berdiam sendirian, terasing, penuh kewaspadaan, tekun, dan bersungguh-sungguh, dalam waktu tidak lama Yang Mulia Māluṅkyāputta merealisasikan untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung, dalam kehidupan ini, kesempurnaan kehidupan spiritual yang tidak terlampaui yang demi karena itu para anggota keluarga dengan benar meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah, dan setelah memasukinya, ia berdiam di dalamnya. Ia secara langsung mengetahui: “Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan spiritual telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak akan kembali lagi pada kondisi makhluk apa pun.” Dan Yang Mulia Māluṅkyāputta menjadi salah satu di antara para Arahant.


Catatan Kaki
  1. Ia adalah bhikkhu yang mengancam akan meninggalkan Sang Buddha jika Sang Buddha tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan metafisikanya. Baca MN 63, I 426-32, serta MN 64.2-3, I 432-33; SN 35:95, IV 72-76. ↩︎

  2. Baca 4:9 di atas. ↩︎