easter-japanese

“Para bhikkhu, ‘hanya di sini terdapat seorang petapa, seorang petapa ke dua, seorang petapa ke tiga, dan seorang petapa ke empat. Sekte-sekte lainnya kosong dari para petapa.’1 Adalah dengan cara demikian maka kalian dapat dengan benar mengaumkan auman singa kalian.

(1) “Dan apakah, para bhikkhu, petapa pertama? Di sini, dengan kehancuran sepenuhnya tiga belenggu, seorang bhikkhu adalah seorang pemasuk-arus, tidak lagi tunduk pada [kelahiran kembali di] alam rendah, pasti dalam tujuannya, mengarah menuju pencerahan. Ini adalah petapa pertama.

(2) “Dan apakah petapa ke dua? Di sini, dengan kehancuran sepenuhnya tiga belenggu dan dengan melemahnya keserakahan, kebencian, dan delusi, seorang bhikkhu adalah yang-kembali-sekali yang, setelah kembali ke alam ini satu kali lagi, akan mengakhiri penderitaan. Ini adalah petapa ke dua.

(3) “Dan apakah petapa ke tiga? Di sini, dengan kehancuran sepenuhnya lima belenggu, seorang bhikkhu adalah yang terlahir spontan, pasti mencapai nibbāna akhir di sana tanpa kembali dari alam itu. Ini adalah petapa ke tiga.

(4) “Dan apakah petapa ke empat? Di sini, dengan hancurnya noda-noda, seorang bhikkhu telah merealisasikan untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung, dalam kehidupan ini, kebebasan pikiran yang tanpa noda, kebebasan melalui kebijaksanaan, dan setelah memasukinya, ia berdiam di dalamnya. Ini adalah petapa ke empat.

“Para bhikkhu, ‘hanya di sini terdapat seorang petapa, petapa ke dua, petapa ke tiga, dan petapa ke empat. Sekte-sekte lainnya kosong dari para petapa.’ Adalah dengan cara demikian maka kalian dapat dengan benar mengaumkan auman singa kalian.” [239]


Catatan Kaki
  1. Di sini saya mengikuti tulisan dalam Ce dan Ee: suññā parappavāda samaṇehi aññe ti. Be membaca aññehi untuk aññe ti. Perbedaan yang sama dalam tulisan antar edisi terjadi pada MN I 63,30 – 64,1. Dalam satu baris yang tidak merujuk pada auman singa DN II 151,22, menuliskan suññā parappavādā samaṇehi aññe. Mp mengatakan bahwa “sekte lain” adalah para penganut enam puluh dua pandangan, yang tidak memiliki dua belas jenis pertapaan: empat yang telah mencapai buah, empat yang sedang melatih sang jalan, dan empat yang mempraktikkan pandangan terang untuk mencapai masing-masing jalan. ↩︎