easter-japanese

1

Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Bhoganagara di dekat Altar Ānanda. Di sana Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Para bhikkhu!”

“Yang Mulia!” para bhikkhu itu menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

“Para bhikkhu, Aku akan mengajarkan kepada kalian tentang empat rujukan agung ini.2 [168] Dengarkan dan perhatikanlah; Aku akan berbicara.”

“Baik, Bhante,” para bhikkhu menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

“Apakah, para bhikkhu, empat rujukan agung itu?

(1) “Di sini, para bhikkhu, seorang bhikkhu mungkin mengatakan: ‘Di hadapan Sang Bhagavā aku mendengar hal ini; di hadapan Beliau aku mempelajari hal ini: “Ini adalah Dhamma; ini adalah disiplin; ini adalah ajaran Sang Guru!”’ Pernyataan bhikkhu itu tidak boleh diterima atau ditolak. Dengan tidak menerima atau menolaknya, kalian harus secara seksama mempelajari kata-kata dan frasa-frasa itu dan kemudian memeriksanya dalam khotbah-khotbah dan mencarinya dalam disiplin.3 Jika, ketika kalian memeriksanya dalam khotbah-khotbah dan mencarinya dalam disiplin, [kalian menemukan bahwa] kata-kata dan frasa-frasa itu tidak termasuk di antara khotbah-khotbah dan tidak terlihat di dalam disiplin, maka kalian harus menarik kesimpulan: ‘Tentu saja, ini bukan kata-kata Sang Bhagavā, Sang Arahant, Yang Tercerahkan Sempurna. Ini telah dengan keliru dipelajari oleh bhikkhu ini.’ Dengan demikian kalian harus membuangnya.

“Tetapi seorang bhikkhu mungkin mengatakan: ‘Di hadapan Sang Bhagavā aku mendengar hal ini; di hadapan Beliau aku mempelajari hal ini: “Ini adalah Dhamma; ini adalah disiplin; ini adalah ajaran Sang Guru!”’ Pernyataan bhikkhu itu tidak boleh diterima atau ditolak. Dengan tidak menerima atau menolaknya, kalian harus secara seksama mempelajari kata-kata dan frasa-frasa itu dan kemudian memeriksanya dalam khotbah-khotbah dan mencarinya dalam disiplin. Jika, ketika kalian memeriksanya dalam khotbah-khotbah dan mencarinya dalam disiplin, [kalian menemukan bahwa] kata-kata dan frasa-frasa itu termasuk di antara khotbah-khotbah dan terlihat di dalam disiplin, maka kalian harus menarik kesimpulan: ‘Tentu saja, ini adalah kata-kata Sang Bhagavā, Sang Arahant, Yang Tercerahkan Sempurna. Ini telah dengan baik dipelajari oleh bhikkhu ini.’ Kalian harus mengingat rujukan agung pertama ini.

(2) “Kemudian seorang bhikkhu mungkin mengatakan: ‘Di suatu kediaman di sana suatu Saṅgha menetap bersama dengan para sesepuh dan para bhikkhu terkemuka. Di hadapan Saṅgha itu aku mendengar hal ini; di hadapan Saṅgha itu aku mempelajari hal ini: “Ini adalah Dhamma; ini adalah disiplin; ini adalah ajaran Sang Guru!”’ Pernyataan bhikkhu itu tidak boleh diterima atau ditolak. Dengan tidak menerima atau menolaknya, kalian harus secara seksama mempelajari kata-kata dan frasa-frasa itu dan kemudian memeriksanya dalam khotbah-khotbah dan mencarinya dalam disiplin. Jika, ketika kalian memeriksanya dalam khotbah-khotbah dan mencarinya dalam disiplin, [kalian menemukan bahwa] kata-kata dan frasa-frasa itu tidak termasuk di antara khotbah-khotbah dan tidak terlihat di dalam disiplin, maka kalian harus menarik kesimpulan: ‘Tentu saja, ini bukan kata-kata Sang Bhagavā, Sang Arahant, Yang Tercerahkan Sempurna. [169] Ini telah dengan keliru dipelajari oleh bhikkhu ini.’ Dengan demikian kalian harus membuangnya.

“Tetapi … jika, ketika kalian memeriksanya dalam khotbah-khotbah dan mencarinya dalam disiplin, [kalian menemukan bahwa] kata-kata dan frasa-frasa itu termasuk di antara khotbah-khotbah dan terlihat di dalam disiplin, maka kalian harus menarik kesimpulan: ‘Tentu saja, ini adalah kata-kata Sang Bhagavā, Sang Arahant, Yang Tercerahkan Sempurna. Ini telah dengan baik dipelajari oleh bhikkhu ini.’ Kalian harus mengingat rujukan agung ke dua ini.

(3) “Kemudian seorang bhikkhu mungkin mengatakan: ‘Di kediaman Saṅgha di sana menetap beberapa bhikkhu sepuh yang terpelajar, mewarisi warisan, ahli Dhamma, ahli disiplin, ahli dalam kerangka. Di hadapan para sesepuh itu aku mendengar hal ini; di hadapan mereka aku mempelajari hal ini: “Ini adalah Dhamma; ini adalah disiplin; ini adalah ajaran Sang Guru!”’ Pernyataan bhikkhu itu tidak boleh diterima atau ditolak. Dengan tidak menerima atau menolaknya, kalian harus secara seksama mempelajari kata-kata dan frasa-frasa itu dan kemudian memeriksanya dalam khotbah-khotbah dan mencarinya dalam disiplin. Jika, ketika kalian memeriksanya dalam khotbah-khotbah dan mencarinya dalam disiplin, [kalian menemukan bahwa] kata-kata dan frasa-frasa itu tidak termasuk di antara khotbah-khotbah dan tidak terlihat di dalam disiplin, maka kalian harus menarik kesimpulan: ‘Tentu saja, ini bukan kata-kata Sang Bhagavā, Sang Arahant, Yang Tercerahkan Sempurna. Ini telah dengan keliru dipelajari oleh bhikkhu ini.’ Dengan demikian kalian harus membuangnya.

“Tetapi … jika, ketika kalian memeriksanya dalam khotbah-khotbah dan mencarinya dalam disiplin, [kalian menemukan bahwa] kata-kata dan frasa-frasa itu termasuk di antara khotbah-khotbah dan terlihat di dalam disiplin, maka kalian harus menarik kesimpulan: ‘Tentu saja, ini adalah kata-kata Sang Bhagavā, Sang Arahant, Yang Tercerahkan Sempurna. Ini telah dengan baik dipelajari oleh bhikkhu ini.’ Kalian harus mengingat rujukan agung ke tiga ini.

(4) “Kemudian seorang bhikkhu mungkin mengatakan: ‘Di kediaman Saṅgha di sana menetap seorang bhikkhu sepuh [170] yang terpelajar, mewarisi warisan, ahli Dhamma, ahli disiplin, ahli dalam kerangka. Di hadapan sesepuh itu aku mendengar hal ini; di hadapannya aku mempelajari hal ini: “Ini adalah Dhamma; ini adalah disiplin; ini adalah ajaran Sang Guru!”’ Pernyataan bhikkhu itu tidak boleh diterima atau ditolak. Dengan tidak menerima atau menolaknya, kalian harus secara seksama mempelajari kata-kata dan frasa-frasa itu dan kemudian memeriksanya dalam khotbah-khotbah dan mencarinya dalam disiplin. Jika, ketika kalian memeriksanya dalam khotbah-khotbah dan mencarinya dalam disiplin, [kalian menemukan bahwa] kata-kata dan frasa-frasa itu tidak termasuk di antara khotbah-khotbah dan tidak terlihat di dalam disiplin, maka kalian harus menarik kesimpulan: ‘Tentu saja, ini bukan kata-kata Sang Bhagavā, Sang Arahant, Yang Tercerahkan Sempurna. Ini telah dengan keliru dipelajari oleh bhikkhu ini.’ Dengan demikian kalian harus membuangnya.

“Tetapi seorang bhikkhu mungkin mengatakan: ‘Di kediaman Saṅgha di sana menetap seorang bhikkhu sepuh yang terpelajar, mewarisi warisan, ahli Dhamma, ahli disiplin, ahli dalam kerangka. Di hadapan sesepuh itu aku mendengar hal ini; di hadapannya aku mempelajari hal ini: “Ini adalah Dhamma; ini adalah disiplin; ini adalah ajaran Sang Guru!”’ Pernyataan bhikkhu itu tidak boleh diterima atau ditolak. Dengan tidak menerima atau menolaknya, kalian harus secara seksama mempelajari kata-kata dan frasa-frasa itu dan kemudian memeriksanya dalam khotbah-khotbah dan mencarinya dalam disiplin. Jika, ketika kalian memeriksanya dalam khotbah-khotbah dan mencarinya dalam disiplin, [kalian menemukan bahwa] kata-kata dan frasa-frasa itu termasuk di antara khotbah-khotbah dan terlihat di dalam disiplin, maka kalian harus menarik kesimpulan: ‘Tentu saja, ini adalah kata-kata Sang Bhagavā, Sang Arahant, Yang Tercerahkan Sempurna. Ini telah dengan baik dipelajari oleh bhikkhu ini.’ Kalian harus mengingat rujukan agung ke empat ini.

“Ini, para bhikkhu, adalah keempat rujukan agung itu.”4


Catatan Kaki
  1. Paragraf ini juga termasuk dalam Mahāparinibbāna Sutta, DN 16.4.7, pada II 124-26. ↩︎

  2. Mahāpadese: Mp mengemas sebagai mahā-okāse (jelas seolah-olah kata majemuk itu dapat dipecah menjadi mahā + padese) dan sebagai mahā-apadese, yang terakhir dijelaskan sebagai “alasan agung yang dinyatakan sehubungan dengan para makhluk agung seperti Buddha dan lainnya” (buddhādayo mahante mahante apadisitvā vuttāni mahākāraṇāni). Pemecahan ke dua ini tentu saja lebih disukai. DOP memberikan, di antara makna-makna apadesa, “sebutan, penunjukan, rujukan, saksi, otoritas.” Cattāro mahāpadesā kadang-kadang diterjemahkan “empat otoritas agung” tetapi sutta sebenarnya hanya menyebutkan dua otoritas, sutta-sutta dan vinaya. Walshe, dalam LDB, menerjemahkannya sebagai “empat kriteria.” Saya memahami kata ini bermakna “empat rujukan agung,” empat sumber ajaran. ↩︎

  3. Tāni padabyañjanāni … sutte otāretabbāni vinaye sandassetabbāni. Mp memberikan berbagai makna sutte dan vinaye di sini, beberapa di antaranya tidak mungkin. Jelas, instruksi ini mensyaratkan bahwa di sana telah ada batang tubuh khotbah-khotbah dan Vinaya yang sistematis yang dapat digunakan untuk mengevaluasi teks-teks lain yang dimasukkan sebagai sabda-sabda otentik dari Sang Buddha. Otāretabbāni adalah bentukan kata benda jamak dari kata kerja otārenti, “menurunkan, meletakkan atau memasukkan,” dan otaranti, persis di bawah, berarti “turun, datang, memasuki.” Terjemahan saya berturut-turut, sebagai “memeriksanya” dan “termasuk di antara” telah disesuaikan menurut konteksnya. Sandassetabbāni adalah bentukan kata benda jamak dari kata kerja sandassenti, “memperlihatkan, membuat terlihat,” dan sandissanti berarti “terlihat.” ↩︎

  4. Yang lebih jelas di antara dua paralel China adalah dalam DĀ 2, pada T I 17b29-18a22. Di sini cattāro mahāpadesā diterjemahkan sebagai ((四大教法), “empat ajaran dhamma agung.” Saya menerjemahkan pernyataan pertama (T I 17c2-13) sebagai berikut: “Jika ada seorang bhikkhu yang mengaku: ‘Para mulia, di desa, kota, negeri itu, aku secara pribadi mendengar [hal ini] dari Sang Buddha, aku secara pribadi menerima ajaran ini,’ maka kalian seharusnya tidak mempercayai apa yang kalian dengar darinya, juga tidak menolaknya, melainkan pastikan benar atau salahnya melalui sutta-sutta; berdasarkan atas Vinaya, berdasarkan atas Dhamma, selidikilah dengan seksama. Jika apa yang ia katakan bukanlah sutta, bukan Vinaya, bukan Dhamma, maka kalian harus mengatakan kepadanya: ‘Sang Buddha tidak mengatakan hal ini. Apa yang engkau terima adalah keliru! [Atau: Engkau menerimanya secara keliru!] Karena alasan apakah? Karena berdasarkan atas sutta, berdasarkan atas Vinaya, berdasarkan atas Dhamma, kami [menemukan] bahwa apa yang engkau katakan adalah menyimpang dari Dhamma. Yang Mulia, engkau tidak boleh memegang ini, engkau tidak boleh mengatakannya kepada orang-orang, melainkan harus membuangnya.’ Tetapi jika apa yang ia katakan adalah berdasarkan atas sutta, berdasarkan atas Vinaya, berdasarkan atas Dhamma, maka kalian harus mengatakan kepadanya: ‘Apa yang engkau katakan sesungguhnya adalah apa yang diajarkan oleh Sang Buddha. Karena alasan apakah? Karena berdasarkan atas sutta, berdasarkan atas Vinaya, berdasarkan atas Dhamma, kami [menemukan] bahwa apa yang engkau katakan adalah sesuai dengan Dhamma. Yang Mulia, engkau harus memegang ini, engkau harus mengajarkannya kepada orang banyak; engkau tidak boleh membuangnya.’ Ini adalah ajaran dhamma agung yang pertama.” ↩︎