easter-japanese

“Para bhikkhu, ada empat jenis orang ini terdapat di dunia. Apakah empat ini?

“(1) Di sini, para bhikkhu, seseorang belum meninggalkan belenggu-belenggu yang lebih rendah, belenggu-belenggu untuk memperoleh kelahiran kembali, atau belenggu-belenggu untuk memperoleh penjelmaan.1 [134] (2) Seseorang lainnya telah meninggalkan belenggu-belenggu yang lebih rendah, tetapi belum meninggalkan belenggu-belenggu untuk memperoleh kelahiran kembali atau belenggu-belenggu untuk memperoleh penjelmaan. (3) Seseorang lainnya lagi telah meninggalkan belenggu-belenggu yang lebih rendah dan belenggu-belenggu untuk memperoleh kelahiran kembali, tetapi belum meninggalkan belenggu-belenggu untuk memperoleh penjelmaan. (4) Dan seseorang lainnya lagi telah meninggalkan belenggu-belenggu yang lebih rendah, belenggu-belenggu untuk memperoleh kelahiran kembali, dan belenggu-belenggu untuk memperoleh penjelmaan.

(1) “Orang jenis apakah yang belum meninggalkan belenggu-belenggu yang lebih rendah, belenggu-belenggu untuk memperoleh kelahiran kembali, atau belenggu-belenggu untuk memperoleh penjelmaan? Yang-kembali-sekali.2 Orang ini belum meninggalkan belenggu-belenggu yang lebih rendah, belenggu-belenggu untuk memperoleh kelahiran kembali, atau belenggu-belenggu untuk memperoleh penjelmaan.

(2) “Orang jenis apakah yang telah meninggalkan belenggu-belenggu yang lebih rendah, tetapi belum meninggalkan belenggu-belenggu untuk memperoleh kelahiran kembali atau belenggu-belenggu untuk memperoleh penjelmaan? Seorang yang naik ke atas, menuju alam Akaniṭṭha.3 Orang ini telah meninggalkan belenggu-belenggu yang lebih rendah, tetapi belum meninggalkan belenggu-belenggu untuk memperoleh kelahiran kembali atau belenggu-belenggu untuk memperoleh penjelmaan.

(3) “Orang jenis apakah yang telah meninggalkan belenggu-belenggu yang lebih rendah dan belenggu-belenggu untuk memperoleh kelahiran kembali, tetapi belum meninggalkan belenggu-belenggu untuk memperoleh penjelmaan? Seorang yang mencapai nibbāna akhir pada masa interval.4 Orang ini telah meninggalkan belenggu-belenggu yang lebih rendah dan belenggu-belenggu untuk memperoleh kelahiran kembali, tetapi belum meninggalkan belenggu-belenggu untuk memperoleh penjelmaan.

(4) “Orang jenis apakah yang telah meninggalkan belenggu-belenggu yang lebih rendah, belenggu-belenggu untuk memperoleh kelahiran kembali, dan belenggu-belenggu untuk memperoleh penjelmaan? Sang Arahant. Karena orang ini telah meninggalkan belenggu-belenggu yang lebih rendah, belenggu-belenggu untuk memperoleh kelahiran kembali, dan belenggu-belenggu untuk memperoleh penjelmaan.

“Ini, para bhikkhu, adalah keempat jenis orang itu yang terdapat di dunia.” [135]


Catatan Kaki
  1. Dalam Pāli, ketiga jenis belenggu adalah, berturut-turut: orambhāgiyāni saṃyojanāni, upapattipaṭilābhiyāni saṃyojanāni, bhavapaṭilābhiyāni saṃyojananāni. Mp membedakan kedua kata terakhir sebagai berikut: “belenggu-belenggu untuk memperoleh kelahiran kembali” adalah belenggu yang dengannya seseorang memperoleh kelahiran kembali berikutnya (yehi anantarā upapattiṃ paṭilabhati); “belenggu-belenggu untuk memperoleh penjelmaan” adalah kondisi-kondisi untuk memperoleh penjelmaan kelahiran kembali (upapattibhavassa paṭilābhāya paccayāni). Jelas perbedaannya, dari sudut pandang komentar, adalah bahwa yang pertama mengikat seseorang hanya pada kelahiran kembali berikutnya sedangkan yang ke dua mengikat seseorang pada kelahiran kembali berturut-turut. Tetapi baca catatan 829 untuk interpretasi alternatif. ↩︎

  2. Karena pemasuk-arus juga belum meninggalkan salah satu dari belenggu-belenggu ini, Mp menjelaskan: “Yang-kembali-sekali disebutkan untuk menunjukkan yang tertinggi di antara para mulia yang belum meninggalkan salah satu dari belenggu-belenggu ini.” Mp-t: “Yaitu, seorang yang belum meninggalkan belenggu-belenggu yang lebih rendah. Karena di atas yang-kembali-sekali, tidak ada yang mulia yang belum meninggalkan kelima belenggu yang lebih rendah. Tetapi bukankah para yang-kembali-sekali telah meninggalkan [beberapa] belenggu yang lebih rendah, karena mereka telah meninggalkan belenggu-belenggu pandangan-pandangan, keragu-raguan, dan genggaman keliru pada aturan dan upacara? Dalam kasus itu, mengapa dikatakan bahwa mereka belum meninggalkan belenggu-belenggu yang lebih rendah? Karena yang-kembali-sekali belum meninggalkan belenggu-belenggu nafsu indriawi dan niat buruk; oleh karena itu pernyataan bahwa mereka belum meninggalkan belenggu-belenggu yang lebih rendah dikatakan sehubungan dengan belenggu-belenggu yang belum mereka tinggalkan itu. Bukan berarti bahwa mereka belum meninggalkan belenggu sama sekali.” ↩︎

  3. Uddhaṃsotassa akaniṭṭhagāmino puggalassa. Ini merujuk pada yang paling lambat di antara kelima jenis yang-tidak-kembali, yang naik ke atas melalui alam-alam murni berturut-turut hingga yang tertinggi, yang disebut Akaniṭṭha. Jenis ini juga disebutkan untuk menunjukkan yang paling kasar yang masih menyisakan belenggu-belenggu kelahiran kembali, tetapi kelompok yang-tidak-kembali yang paling tajam pun juga menyisakan belenggu-belenggu ini. ↩︎

  4. Pernyataan ini memberikan suatu situasi sulit bagi interpretasi Theravāda tradisional atas kelima jenis yang-tidak-kembali, yang berdasarkan pada Pp 16-17 dan komentarnya pada Pp-a 198-201. Inti dari interpretasi ini adalah penolakan atas keadaan antara (antarābhava) antara dua kehidupan. Dengan demikian penolakan ini mensyaratkan perlunya menginterpretasikan antarāparinibbāyī sebagai yang-tidak-kembali yang mencapai Kearahattaan pada paruh pertama umur kehidupannya dalam kehidupan berikut. Akan tetapi, kata antarāparinibbāyī secara literal berarti “seorang yang mencapai nibbāna akhir pada masa antara,” dan tampaknya tidak ada alasan yang tepat, berdasarkan pada sutta, untuk membantah kemungkinan bahwa yang-tidak-kembali tertentu, setelah kehidupannya di alam manusia, memasuki suatu keadaan antara dan mencapai nibbāna akhir dalam keadaan itu juga, sehingga menghindari perlunya kelahiran kembali yang lainnya. Ini tampaknya merupakan inti dari teks yang sekarang ini, yang menurutnya antarāparinibbāyī telah meninggalkan belenggu-belenggu kelahiran kembali tetapi belum meninggalkan belenggu-belenggu penjelmaan. Setelah mencapai Kearahattaan, antarāparinibbāyī juga akan meninggalkan belenggu-belenggu penjelmaan. Saya telah membahas kelima jenis yang-tidak-kembali secara terperinci dalam CDB 1902-3, catatan 65. Untuk pembahasan lebih lanjut, baca p.1782, catatan 1535-38; untuk analisis tekstual tambahan, baca Harvey 1995: 98-108. ↩︎