“Para bhikkhu, ada tiga penyebab ini bagi asal-mula kamma. Apakah tiga ini? Keserakahan adalah satu penyebab bagi asal-mula kamma; kebencian adalah satu penyebab bagi asal-mula kamma; delusi adalah satu penyebab bagi asal-mula kamma.

(1) “Kamma apa pun juga, para bhikkhu, yang dirancang melalui keserakahan, muncul dari keserakahan, disebabkan oleh keserakahan, berasal-mula dari keserakahan, akan matang di mana pun individu tersebut terlahir kembali. Di mana pun kamma itu matang, adalah di sana ia mengalami akibatnya, apakah dalam kehidupan ini, atau dalam kehidupan [berikutnya], atau dalam beberapa kesempatan berikutnya.1

(2) “Kamma apa pun juga, para bhikkhu, yang dirancang melalui kebencian, muncul dari kebencian, disebabkan oleh kebencian, berasal-mula dari kebencian, akan matang di mana pun individu tersebut terlahir kembali. Di mana pun kamma itu matang, adalah di sana ia mengalami akibatnya, apakah dalam kehidupan ini, atau dalam kehidupan [berikutnya], atau dalam beberapa kesempatan berikutnya.

(3) “Kamma apa pun juga, para bhikkhu, yang dirancang melalui delusi, muncul dari delusi, disebabkan oleh delusi, berasal-mula dari delusi, akan matang di mana pun individu tersebut terlahir kembali. Di mana pun kamma itu matang, [135] adalah di sana ia mengalami akibatnya, apakah dalam kehidupan ini, atau dalam kehidupan [berikutnya], atau dalam beberapa kesempatan berikutnya.

“Misalkan, para bhikkhu, benih-benih masih utuh, murni, tidak rusak oleh angin dan panas matahari, subur, disimpan dengan baik, ditanam dengan baik di tanah yang dipersiapkan dengan baik di lahan yang baik dan menerima curah hujan yang cukup: dengan cara ini, benih-benih itu akan tumbuh, menjadi besar, dan matang. Demikian pula, kamma apa pun juga yang dirancang melalui keserakahan … kebencian … delusi, muncul dari delusi, disebabkan oleh delusi, berasal-mula dari delusi, akan matang di mana pun individu tersebut terlahir kembali. Di mana pun kamma itu matang, adalah di sana ia mengalami akibatnya, apakah dalam kehidupan ini, atau dalam kehidupan [berikutnya], atau dalam beberapa kesempatan berikutnya.

“Ini adalah tiga penyebab bagi asal-mula kamma.

“Para bhikkhu, ada tiga penyebab [lain] bagi asal-mula kamma. Apakah tiga ini? Ketidak-serakahan adalah satu penyebab bagi asal-mula kamma; ketidak-bencian adalah satu penyebab bagi asal-mula kamma; ketidak-delusian adalah satu penyebab bagi asal-mula kamma.

(1) “Kamma apa pun juga, para bhikkhu, yang dirancang melalui ketidak-serakahan, muncul dari ketidak-serakahan, disebabkan oleh ketidak-serakahan, berasal-mula dari ketidak-serakahan, akan ditinggalkan ketika keserakahan telah dilenyapkan; terpotong di akarnya, dibuat menjadi seperti tunggul pohon palem, dilenyapkan sehingga tidak muncul lagi di masa depan.2

(2) “Kamma apa pun juga, para bhikkhu, yang dirancang melalui ketidak-bencian, muncul dari ketidak-bencian, disebabkan oleh ketidak-bencian, berasal-mula dari ketidak-bencian, akan ditinggalkan ketika kebencian telah dilenyapkan; terpotong di akarnya, dibuat menjadi seperti tunggul pohon palem, dilenyapkan sehingga tidak muncul lagi di masa depan.

(3) “Kamma apa pun juga, para bhikkhu, yang dirancang melalui ketidak-delusian, muncul dari ketidak-delusian, disebabkan oleh ketidak-delusian, berasal-mula dari ketidak-delusian, akan ditinggalkan ketika delusi telah dilenyapkan; terpotong di akarnya, dibuat menjadi seperti tunggul pohon palem, dilenyapkan sehingga tidak muncul lagi di masa depan.

“Misalkan, para bhikkhu, benih-benih masih utuh, murni, [136] tidak rusak oleh angin dan panas matahari, subur, disimpan dengan baik. Kemudian seseorang membakarnya dalam api, mengubahnya menjadi abu, dan menebarkan abunya dalam angin kencang atau membiarkannya dihanyutkan oleh arus sungai. Dengan cara ini, benih-benih itu akan terpotong di akarnya, dibuat menjadi seperti tunggul pohon palem, dilenyapkan sehingga tidak muncul lagi di masa depan. Demikian pula, kamma apa pun juga yang dirancang melalui ketidak-serakahan … ketidak-bencian … ketidak-delusian, muncul dari ketidak-delusian, disebabkan oleh ketidak-delusian, berasal-mula dari ketidak-delusian, akan ditinggalkan ketika delusi telah dilenyapkan; terpotong di akarnya, dibuat menjadi seperti tunggul pohon palem, dilenyapkan sehingga tidak muncul lagi di masa depan.”

“Ini, para bhikkhu, adalah tiga penyebab bagi asal-mula kamma.” Kamma apa pun [yang telah dilakukan] oleh seorang dungu muncul dari keserakahan, kebencian, dan delusi, apakah yang dirancang olehnya itu sedikit atau banyak, harus dialami di sini: tidak ada tempat lain [baginya].3

Oleh karena itu orang bijaksana harus meninggalkan [perbuatan apa pun] yang muncul dari keserakahan, kebencian, dan delusi. Seorang bhikkhu, dengan memunculkan pengetahuan, harus meninggalkan semua alam tujuan yang buruk.4


Catatan Kaki
  1. Ada beberapa perbedaan dalam tulisan: Ce diṭṭhe vā dhamme, upapajje vā, apare vā pariyāye; Be diṭṭhe vā dhamme upapajja vā apare vā pariyāye; Ee diṭṭh’ eva dhamme upapajje vā apare vā pariyāye. Mp mengatakan: “Ini disebutkan untuk menunjukkan bahwa kamma adalah [dari jenis] yang harus dialami dalam kehidupan ini, atau harus dialami dalam kelahiran kembali berikutnya, atau harus dialami dalam beberapa kehidupan mendatang.” Untuk penjelasan Abhidhamma tentang triad ini, baca CMA 205.

    Beberapa orang terpelajar telah memperdebatkan dari berbagai tulisan bahwa hanya dua alternatif yang terlibat: apakah dalam kehidupan ini atau pada saat kelahiran kembali. Akan tetapi, saya menerjemahkan menurut pemahaman komentar. Sementara komentar mungkin memaksakan interpretasi belakangan pada teks-teks yang lebih kuno yang menegaskan hanya dua cara bagi kamma untuk matang, namun sebagai penerjemah saya merasa lebih bertanggung jawab pada teks yang telah disampaikan daripada teori-teori tentang teks kuno yang lebih asli. Pengakuan tiga masa matangnya kamma tidak eksklusif pada aliran Theravāda tetapi juga ditemukan dalam naskah-naskah sistem Abhidharma Sarvāstivāda. Definisi ketiga jenis ini – misalnya, dalam Abhidharma Mahāvibhāṣā Ṥāstra pada T XXVII 592a22-593b8, dan dalam Abhidharmakośa pada T XXIX 81c10-16 – adalah persis sama dengan tradisi Pāli dan dengan demikian mendahului perpecahan aliran-aliran.

  2. Pernyataan ini harus diinterpretasikan dengan hati-hati. Bagi seorang Arahant – yang telah meninggalkan keserakahan, kebencian, dan delusi – kamma yang diciptakan sebelumnya, apakah baik atau buruk, masih mampu menjadi matang dalam kehidupan terakhirnya. Tetapi karena tidak ada lagi kelahiran kembali, bersama dengan kematiannya maka semua kamma yang terakumulasi sejak masa lampau menjadi mandul. Dengan Demikian maksud dari pernyataan ini bukanlah bahwa kamma masa lalu seorang Arahant tidak dapat menjadi matang selama Arahant itu masih hidup, melainkan bahwa kamma itu menjadi mandul bersama dengan kematian sang Arahant; karena tidak ada lagi rangkaian kehidupan yang didalamnya buah kamma itu dapat muncul.

    Brahmāli menuliskan: “Pasti ada perbedaan antara ‘ketidak-serakahan’ (alobha) dan situasi ketika ‘keserakahan telah dilenyapkan’ (lobhe vigata). Yang pertama pasti merujuk pada motivasi di balik perbuatan tertentu, sedangkan yang terakhir merujuk pada tercabutnya keserakahan sepenuhnya, yang dicapai hanya oleh yang-tidak-kembali atau bahkan oleh Arahant. Hanya dalam makna perbedaan ini maka pernyataan ini menjadi masuk akal.”

  3. Saya bersama Ce dan Be membaca mohajañ cāpaviddasu, tidak seperti Ee mohajañ cāpi’viddasu. Mp (baik Ce maupun Be) juga membaca mohajañ cāpaviddasu, yang dipecah menjadi mohajañcāpi aviddasu. Maknanya dituliskan sebagai berikut: “Kamma apa pun yang diciptakan oleh kaum duniawi yang buta dan dungu adalah muncul dari keserakahan, kebencian, dan delusi – apakah kamma yang dirancang itu kecil atau besar – harus dialami di sini (idh’eva taṃ vedaniyaṃ), yaitu, harus dialami oleh si dungu itu di sini dalam penjelmaannya yang ini (idha sake attabhāveyeva); ini berarti bahwa kamma itu matang dalam penjelmaan individunya itu. Tidak ada tempat lain [baginya] (vatthuṃ aññaṃ na vijjati): tidak ada tempat lain bagi matangnya kamma itu; karena kamma yang dilakukan oleh seseorang tidak akan matang dalam penjelmaan orang lain.”
  4. Tasmā lobhaṃ ca dosaṃ ca, mohajaṃ cāpi viddasu. Ee membaca pāda terakhir mohañ cāpi ‘viddasu, yang kehilangan satu suku kata. Teks memang kurang kata kerja dan mengarahkan objek yang dirujuk oleh mohajaṃ. Mp menyediakan ini dalam kalimatnya: “Oleh karena itu seorang bijaksana tidak melakukan kamma yang muncul dari keserakahan dan seterusnya” (yo vidū … taṃ lobhajādibhedaṃ kammaṃ na karoti). Terlihat bahwa Mp menganggap lobhaṃ dan dosaṃ sebagai bentuk yang terpotong dari lobhajaṃ dan dosajaṃ, dan saya menerjemahkannya sesuai itu. Untuk kata kerja, saya melihat jahe dari pāda d untuk secara implisit menjangkau pāda a dan b, dengan demikian melakukan pelayanan ganda.