“Para bhikkhu, ada tiga jenis kecerdikan ini. Apakah tiga ini? Kecerdikan jasmani, kecerdikan ucapan, dan kecerdikan pikiran.

(1) “Dan apakah kecerdikan jasmani? Di sini, seseorang menghindari pembunuhan, menghindari mengambil apa yang tidak diberikan, dan menghindari perbuatan seksual yang salah. Ini disebut kecerdikan jasmani.

(2) “Dan apakah kecerdikan ucapan? Di sini, seseorang menghindari berbohong, menghindari ucapan memecah-belah, menghindari ucapan kasar, dan menghindari bergosip. Ini disebut kecerdikan ucapan.

(3) “Dan apakah kecerdikan pikiran? Di sini, dengan hancurnya noda-noda, seorang bhikkhu merealisasikan untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung, dalam kehidupan ini, kebebasan pikiran yang tanpa noda, kebebasan melalui kebijaksanaan, dan setelah memasukinya, ia berdiam di dalamnya. Ini disebut kecerdikan pikiran.

“Ini, para bhikkhu, adalah ketiga jenis kecerdikan itu.” Seorang cerdik melalui jasmani, seorang cerdik dalam ucapan seorang cerdik dalam pikiran, tanpa noda: mereka menyebutnya sang bijaksana, sempurna dalam kecerdikan, “seorang yang telah meninggalkan segalanya.” [274]