“Para bhikkhu, ada tiga orang yang, jika mereka tidak meninggalkan [kesalahan mereka] ini, maka mereka menuju alam sengsara, menuju neraka. Siapakah tiga ini? [266] (1) Seorang yang, walaupun tidak selibat, namun mengaku selibat; (2) seorang yang memfitnah seorang yang selibat murni yang menjalani kehidupan selibat murni dengan tuduhan tidak selibat yang tanpa dasar; dan (3) seorang yang menganut doktrin dan pandangan sebagai berikut: ‘Tidak ada kesalahan dalam kenikmatan indria,’ dan kemudian jatuh menuruti kenikmatan indria.1 Ini adalah ketiga orang itu yang, jika mereka tidak meninggalkan [kesalahan mereka] ini, maka mereka menuju alam sengsara, menuju neraka.”


Catatan Kaki
  1. So kāmesu pātavyataṃ āpajjati (Be menambahkan tāya sebelum kāmesu, mungkin merepresentasikan tāya diṭṭhiyā). Mp: “Menikmati: [pandangan bahwa] minuman itu harus diminum, dinikmati; [ia berpikir bahwa minuman-minuman itu] harus dinikmati dengan pikiran tanpa enggan, seperti halnya air diminum oleh seseorang yang haus” (pivitabbataṃ paribhuñjitabbataṃ nirāsaṅkena cittena pipāsitassa pānīyapivanasadisaṃ paribhuñjitabbataṃ). Ps II 371,22-24, mengomentari pātabyataṃ āpajjanti pada MN I 305,21, mengatakan: “Ia jatuh ke dalam [pandangan bahwa] seseorang harus meminum objek-objek indria dengan kekotoran indriawi, bahwa minuman-minuman itu harus dinikmati menurut kesenangannya” (te vatthukāmesu kikesakāmena pātabyataṃ pivitabbataṃ, yathāruci paribhuñjitabbataṃ āpajjantī ti attho). Pātabba ( = pātavya) muncul sebagai bentuk optatif dari pivati, meminum, pada Vin II 208,11. MN 45.2, I 305, menduga pandangan ini berasal dari “para petapa dan brahmana” yang “berpasangan dengan para pengembara perempuan yang mengenakan jambul di rambut.”