“Para bhikkhu, (1) dalam disiplin Yang Mulia ini, bernyanyi adalah meratap. (2) Dalam disiplin Yang Mulia ini, menari adalah kegilaan. (3) Dalam disiplin Yang Mulia ini, tertawa terbahak-bahak, memperlihatkan giginya, adalah kekanak-kanakan. Oleh karena itu, para bhikkhu, sehubungan dengan bernyanyi dan menari [biarlah terjadi] pembongkaran jembatan. Ketika kalian tersenyum bergembira dalam Dhamma, kalian hanya boleh memperlihatkan senyuman.”1


Catatan Kaki
  1. Setughāto gīte, setughāto nacce. Mp: “Semoga terjadi pembongkaran kondisi untuk bernyanyi. Beliau menunjukkan: ‘Tinggalkan bernyanyi bersama dengan penyebabnya.’ Metode yang sama berlaku untuk menari.” Tentang setughāto, baca di atas, catatan 497. Alaṃ vo dhammappamoditānaṃ sataṃ sitaṃ sitamattāya. Mp: “Jika ada alasan untuk tersenyum [karena bergembira dalam Dhamma], adalah sepantasnya untuk tersenyum dengan hanya memperlihatkan ujung gigi sekedar untuk menunjukkan bahwa kalian senang.”